Opini

Guru, Makan Gaji Buta?

Oleh: Syainal. S.Pd (Guru SMKN 4 Berau)

Pelangi tiada bisa terpancar
Dunia kan beku dan bisu
Pun kehidupan tiada pernah terlaksana

Kala puncak kegalauan terhampar
Sepercik cahaya pun nampak dariku
Yang nampak dari gerak tubuhmu
Kau sinari jalan gelapku
Dengan ilmu dan pengetahuan yang kau punya

Kutipan  puisi yang bersumber dari thegorbalsla.com di atas menggambarkan betapa penting dan mulianya seorang guru. Jasa-jasa guru terpatri pada diri kita saat ini. Keberhasilan dan kejayaan seseorang tak terlepas dari peran seorang guru. Guru tidak hanya menjadi pengajar ataupun orangtua bagi peserta didik di sekolah. Tak jarang guru juga adalah seorang motivator dalam kehidupan kita. Guru laksana setitik cahaya dalam gelap.

Besarnya jasa guru dalam kehidupan kita menjadikannya dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, beberapa waktu belakangan ini, khusunya selama pandemi ada nuansa yang sedikit berbeda dalam pembicaraan publik kita tentang guru. Pemberitaan tentang guru tidak hanya pada perjuangan guru dalam melaksanakan pembelajaran selama pandemi, tapi juga tentang stigma atau lebih tepatnya tudingan yang diberikan kepada guru yakni “makan gaji buta”.

Baca juga:  Covid-19: Antara Sunnatullah, Aqidah dan Syariah

Tudingan seperti ini banyak kita jumpa dalam masyarakat, termasuk kepada saya. Namun hanya ada beberapa yang mendapat sorotan media, utamanya statement yang diunggah di media sosial dan akhirnya menjadi sensasi.  Pada awalnya, respon saya secara pribadi, sebagai seorang guru santai saja dalam menanggapi pernyataan semacam ini. Bukan berarti bahwa memang selama pandemi guru makan gaji buta, tetapi bagi saya itu tidak benar. Selama pandemi guru tetap bekerja. Bekerja dari rumah. Namun semakin kesini kok saya juga jadi risau dengan tudingan seperti itu. Oleh karena itu, penting juga bagi saya sebagai seorang guru untuk angkat bicara. Salah satu medianya adalah lewat tulisan seperti ini. Kebijakan seperti ini juga bukan keinginan guru tapi kebijakan pemerintah sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19. 

Persoalan tentang pernyataan “guru makan gaji buta” pertama kali viral setelah seorang perempuan mengunggah postingan di jejaring sosial facebook tentang guru makan gaji buta. Belakangan saat memberikan kesaksian kepada pihak kepolisian perempuan tersebut telah meminta maaf. Kejadian ini nampaknya tak dijadikan sebagai pelajaran bagi beberapa oknum. Padahal kejadian ini menimbulkan polemik. Mungkin karena tidak adanya tindakan yang tegas, akhirnya kejadian serupa terulang lagi. Selanjutnya ada sepasang suami istri di Muara Enim, Sumatera Selatan yang juga mengunggah pernyataan yang sama. 

Postingan tersebut dia tulis karena kesal dengan penghasilannya sebagai tukang ojek sehari hanya Rp 20.000 semenjak Covid-19, sedangkan biasanya rata-rata memperoleh Rp 50.000, sedangkan guru tidak mengajar gajinya tetap sama dengan mengajar.

“Saya minta maaf kepada guru di seluruh indonesia, ini karena ketidaktauhan saya dengan kondisi guru. Dan postingan tersebut telah dihapus,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Tribunjateng.com.

Yang teranyar adalah apa yang terjadi di Garut, Jawa Barat. Yang menarik bagi saya adalah adanya kata-kata kasar dan ancaman penembakan oleh seorang oknum polisi kepada guru massa aksi di Polres Garut pada 29 juli 2019. Aksi yang dilakukan guru bagi saya adalah hal yang wajar, namun reaksi yang diterima kurang wajar. Tak pantaslah kata-kata itu dilontarkan kepada siapapun termasuk guru. Parahnya lagi ada ancaman penembakan. 

Fenomena semacam ini mengundang pertanyaan bagi saya. Apakah memang demikian? Atau memang profesi guru tak lagi mulia? Hingga bebas dikata-katai bahkan ada yang sampai diancam mau ditembak. Atau oknum-oknum tersebut lupa akan jasa-jasa guru dalam hidup mereka?

Kondisi pandemi seperti sekarang ini bukan keinginan guru. Bahkan bukan keinginan kita semua. Kecuali bagi penganut teori konspirasi mereka percaya ini keinginan elit global. Tapi kita tidak akan bahas soal elit global. Reaksi para guru terhadap ungguhan di sisoal media tentang guru makan gaji buta bukan berarti bahwa guru adalah sosok yang arogan dan anti kritik.

Sebagai insan akademis, guru harus terbuka dengan segala kritik yang tertuju padanya. Kritik itu yang akan menjadi referensi baginya untuk senantiasa memperbaiki diri. Namun istilah makan gaji buta menurut saya bukanlah kritik tapi hanya nyinyiran saja. Kan kondisi pandemi bukan guru yang menyebabkan. Kita semua pun tidak menginginkan. Termasuk ibu kantin dan supir angkot yang pendapatannya menurun bahkan hilang karena anak-anak tak lagi belajar di sekolah. Lagian apa kira-kira tawaran solusi yang diberikan. Tidak ada.

Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Tugas seorang guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik. Mengajar berarti mentransfer ilmu pengetahuan, sedangkan mendidik berarti mentransfer ilmu. Sulitnya menjadi guru sudah dirasakan oleh orangtua selama pembelajaran daring. Banyak orangtua yang mengeluh. Lalu bagaimana dengan guru yang mengajar banyak anak. Tentu Lebih sulit. Kesulitan menjadi seorang guru bertambah selama pandemi. Pembelajaran yang awalnya tatap muka harus dilaksanakan secara daring. Melaksanakan pembeajaran daring juga ribet. Dimana guru dan siswa belum sepenuhnya siap. Selain itu kurangnya sarana dan prasarana juga menjadi persoalan dalam mengakses pembelajaran daring.  Pembelajaran daring yang monoton juga akan membosankan dan tidak efektif. Sehingga guru senantiasa berupaya mencari pola pembelajaran terbaik yang bisa diterapkan.

Kesulitan yang lebih tentu dirasakan guru-guru di daerah pelosok yang tidak memilki akses internet yang memadai untuk melaksanakan pembelajaran daring. Mereka harus senantiasa melakukan inovasi agar pembelajaran tetap bisa berlangsung. Media banyak memberitakan perjungan guru dalam mengajar selama pandemi. Perjuangan sekaligus pengorbanan. Mereka ada yang menempuh jarak puluhan kilometer untuk mengantarkan modul pembelajaran ke rumah siswa, ada juga yang mengajar siswa secara berkelompok. 

Mereka tetap keluar rumah karena keadaan, padahal tidak ada jaminan bagi guru untuk terbebas dari virus. Semoga TuhanYang Maha Esa senantiasa menjaga guru-guru kita yang senantiasa berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa. Meskipun balasannya tak jarang justru cacian.

Baca juga:  Elektoral Pilkada Paser Sudah di Pelupuk Mata

Guru adalah orangtua kedua kita. Layaknya seorang ibu dalam puisi Abdur Arsyad: “Bahwa guru adalah sosok perempuan tangguh, tempat kita berteduh dan membasuh peluh, dia yang paling mengerti kita saat kita jatuh, mengangkat kita dan memberikan semangat baru”. Dedikasi seorang guru tentu tak mengaharapkan pujian. Tapi, paling tidak jangan mendapatkan cacian. 

Dalam kondisi seperti ini kita harusnya bergandengan tangan dalam mengahadirkan solusi, bukan sensasi. Kondisi pandemi sudah cukup berat, berdampak pada semua sektor kehidupan janganlah lagi mempersulit keadaan dengan sensasi unfaedah. Kalau mau berikan solusi. Tudingan yang mengatakan guru makan gaji buta selama pandemi. Kondisi pandemi justru mewajibakan guru dalam menghadirkan inovasi pembelajaran. Di rumah bukan berarti guru santai mereka harus juga melaksankan tugas dan tangung jawabnya dalam keluarga. Selama pandemi, guru tidak makan gaji buta, mungkin saja nurani yang telah buta melihat dedikasi dan pengorbanan guru.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close