Opini

Hari Anak Bebas Cacingan

Catatan Rizal Effendi

MASIH ingat dengan Ivermectin? Nama obat ini sempat populer ketika wabah Covid-19 masih menjadi-jadi tahun lalu. Malah sempat membuat heboh. Selain ada kesan diedarkan sebelum ada rekomendasi BPOM, juga dikaitkan dengan tokoh penting Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko dan anggota DPR RI dr Ribka Tjiptaning Proletariyati.

Indonesia Corruption Watch (ICW) sempat mencurigai Moeldoko dan putri bungsunya ada hubungan dengan pemasaran dan promosi Ivermectin sebagai salah satu obat Covid-19. Demikian juga dengan Tjiptaning dan putranya. Moeldoko mencak-mencak dituding ICW dan sempat melakukan somasi. Dia membantah keras dengan tudingan itu. Belakangan masalah ini mereda. Kebetulan Covidnya juga sudah menurun.

Saya perlu menyinggung kembali Ivermectin, soalnya ini salah satu obat cacing. Ada juga Combantrin, Konvermex, dan lainnya. Iklannya selalu menggunakan artis layanan kesehatan, dr Lula Kamal.

“Minum obat cacing secara rutin minimal setahun sekali agar bebas cacingan,” kata Lula sambil tersenyum.

Kebetulan tanggal 23 Juli ini, pada saat kita memperingati Hari Anak Nasional (HAN), kita juga memperingati Hari Kewaspadaan Cacing. Bukan Hari Cacing Nasional. Sebab nanti konotasinya seperti merayakan hari ulang tahun cacing. Padahal yang dimaksud adalah hari untuk mengingatkan dan meningkatkan kepedulian masyarakat atau keluarga agar lebih waspada terhadap penyakit cacing atau cacingan.

Cacingan umumnya mengenai anak-anak. Meskipun juga tak terkecuali orang dewasa. Bagi anak-anak yang cacingan, sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya anak. Padahal kita ingin dia selalu tumbuh sehat, tidak sakit-sakitan. Dan terus berkembang cerdas.

Cacingan adalah penyakit infeksi parasit cacing yang tinggal dalam usus manusia. Cacing yang menetap di usus kita akan bertahan hidup dengan mengambil sari-sari makanan yang masuk ke usus. Penyakit ini menimbulkan masalah pada pencernaan, membuat lesu dan anak jadi tidak bersemangat.

Jenis cacing yang bisa menginfeksi tubuh manusia sangat beragam, mulai dari cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing pita (Taenia saginata), hingga cacing tambang (Ancylostoma duodenale). Cacing pita biasanya karena kita mengonsumsi daging setengah matang dari hewan yang sudah terinfeksi sebelumnya.

Pada masa kecil saya, cacingan sangat populer. Kalau ada anak yang tubuhnya kurus dan perutnya cenderung buncit, itu tandanya cacingan. Yang tak benar sering ditakut-takuti.

“Jangan banyak makan ikan, nanti cacingan.” Padahal tidak begitu. Justru kita dianjurkan banyak makan ikan.

Di zaman sekarang, cacingan tak banyak dibicarakan orang. Bahkan ada kesan diabaikan. Apakah sudah tidak ada lagi yang cacingan? Sepertinya tidak juga. Sebab, Kemenkes menyebut berdasarkan hasil survei, rata-rata 30 persen anak Indonesia menderita penyakit cacingan.

Ada beberapa gejala yang menunjukkan seseorang itu mengidap cacingan. Misalnya yang saya sebut dengan postur badannya yang kurus. Maklum, zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh dihajar sang cacing. Juga menurunkan nafsu makan. Otomatis berat badan tak bisa naik dan malah cenderung semakin kurus.

Tidak sekadar badan kurus. Bisa jadi sang anak juga terkena anemia. Soalnya cacing di dalam usus bisa menyerap zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel darah merah. Akibatnya badan si anak selalu lemas dan terlihat pucat.

Kalau anak-anak sering menggaruk bagian belakang atau daerah anus karena gatal, boleh jadi itu gejala cacingan cacing kremi. Cacing kremi (Enterobius sp) bertelur pada malam hari atau awal pagi sehingga membuat iritasi atau gatal. Hal ini bisa membuat anak rewel dan tidak bisa tidur.

Gejala lain yang menunjukkan seorang anak cacingan kalau dia sering mengalami sakit perut, sering meludah, feses atau tinja berbau busuk, dan ruam kulit di antaranya bercak merah pada tangan dan kaki.

Untuk memastikan anak kita cacingan, sebaiknya konsultasi dengan dokter atau ke Puskesmas. Dokter sendiri perlu melakukan pemeriksaan yang lebih intensif. Misalnya dengan tes selotip, tes cotton-bud, memeriksa kuku, memeriksa tinja dan bahkan sampai melakukan USG.

Biasanya pemeriksaan melalui USG, khususnya bila penyakit cacingan yang diidap pasien dianggap parah. Dengan USG, dokter akan mencari tahu lokasi yang tepat di mana cacing-cacing itu berkumpul, sehingga penanganannya bisa lebih efektif.

Baru Tahun Lalu

Hari Kewaspadaan Cacing baru pertama kali diperingati tahun lalu. Bermula dari kerja sama Dinas Kesehatan DKI Jakarta dengan perusahaan obat cacing Johnson & Johnson, yang dilaksanakan 23 Juli 2021.

Dilatarbelakangi semangat HAN dan fakta masih banyaknya anak yang mengidap cacingan, maka disepakati dilaksanakannya program bernama 3J yaitu Jaga Kebersihan Diri, Jaga Kebersihan Makanan, dan Jaga Kebersihan Lingkungan.

Dengan semangat 3J itu, maka masyarakat didorong selalu menjaga kebersihan. Misalnya cuci tangan secara teratur terutama setelah buang air dan mengganti popok bayi. Simpan daging mentah dan ikan dengan baik serta masak hingga matang. Cuci buah dan sayur dengan benar sebelum dikonsumsi.

Berikan obat cacing untuk binatang peliharaan, seperti kucing dan anjing secara berkala. Hindari berjalan tanpa alas kaki dan menyentuh tanah atau pasir tanpa sarung tangan. Serta gunting kuku secara teratur dan hindari menggigit-gigit kuku.

Baca juga:  RKUHP sebagai Jalan Menghidupkan Pasal-Pasal Kolonial

Dalam melaksanakan program ini, maka perlu dibangun kemitraan yang kuat antara pemerintah, swasta dan masyarakat. Kalau tidak bahu membahu, mana mungkin kita bisa mencapai predikat bebas cacingan dengan cepat.

Selain itu dilaksanakan berbagai aksi di lapangan. Misalnya pemberian obat cacing kepada anak usia prasekolah, murid PAUD dan TK sampai anak-anak usia SD. Biasanya diiringi pemberian vitamin A. Serta berbagai program edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat secara luas.

Saya belum membaca apa tema Hari Kewaspadaan Cacing tahun 2022 ini. Tapi bisa juga kita pakai tema HAN 2022. “Anak Terlindungi, Indonesia Maju.” Terlindungi hak-hak anak termasuk termasuk terlindungi dari penyakit cacingan. Sangat tidak hebat dunia sudah semaju ini, generasi kita masih cacingan. Generasi emas adalah generasi yang bebas cacingan. Tidak ada tempat buat cacing di usus kita apalagi di bagian belakang. Mohon maaf ya cing.(*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker