Samarinda
Kabut Asap Pekat Selimuti Samarinda, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya
SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Kualitas udara Samarinda memburuk seiring kabut asap yang semakin pekat, Kamis (17/9/2026). Konsentrasi PM2.5 atau partikel polusi berukuran sangat kecil di udara tercatat mencapai 437,77 pada pagi hari. Kondisi tersebut telah masuk kategori berbahaya bagi kesehatan.
Angka itu melonjak dibanding sehari sebelumnya. Pada Rabu (16/9/2026) pukul 16.00 Wita, konsentrasi PM2.5 tercatat 210,4 atau berada dalam kategori sangat tidak sehat. Sementara pada Kamis pukul 05.00-05.59 Wita, angkanya meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 437,77.
Dalam klasifikasi kualitas udara oleh BMKG, konsentrasi PM2.5 antara 150,5 hingga 250,4 masuk kategori sangat tidak sehat dan dapat merugikan kesehatan masyarakat luas. Sementara angka di atas 250,5 masuk kategori berbahaya dan dapat berdampak serius terhadap kesehatan.
Adapun data di Samarinda itu berasal dari pemantauan kualitas udara secara real time di sejumlah titik, salah satunya di Fakultas Teknik Universitas Mulawarman (Unmul). Alat pemantau tersebut merupakan hasil kerja sama Program Studi Teknik Lingkungan Unmul bersama sejumlah kampus salah satunya Prince of Songkla University, Thailand. Data pemantauan dapat diakses masyarakat secara real time melaui laman https://airthai.in.th/en/
Juli Nurdiana dari Program Studi Teknik Lingkungan Unmul mengatakan peningkatan PM2.5 disinyalir berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Samarinda serta sebaran asap yang terdeteksi di Kalimantan Timur.
“Beberapa hari terakhir tercatat terjadi kebakaran di sekitar wilayah Samarinda, Batuah, Loa Janan, dan wilayah Muara Badak, Kutai Kartanegara,” kata Juli Nurdiana kepada Kaltim Today, Kamis (17/9/2026) pagi.
Berdasarkan informasi BMKG, kata Juli Nurdiana, asap secara umum bergerak menuju Samarinda. Kondisi atmosfer dan tutupan awan turut menghambat penyebaran sehingga kabut asap terakumulasi. Arah angin juga berpotensi membawa asap terus bergerak ke utara hingga timur laut.
Meski demikian, sumber asap yang menyelimuti Samarinda masih perlu dipastikan lebih lanjut. “Atribusi sumber asap perlu dicocokkan dengan hotspot, citra sebaran asap, arah dan kecepatan angin, serta konsentrasi PM2.5,” sebutnya.
Juli Nurdiana menjelaskan, peningkatan PM2.5 biasanya terjadi pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari, tingginya konsentrasi dapat dipengaruhi asap yang terakumulasi sepanjang malam dan cenderung berkurang pada siang hari. Sementara pada sore hari, perubahan arah angin dan keberadaan sumber asap dapat membuat polusi kembali menumpuk.
Dengan kondisi udara yang telah masuk kategori berbahaya, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik yang membuat napas lebih dalam. Saat asap pekat, masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker untuk membantu mengurangi paparan partikel halus.
“Diharapkan pemerintah tetap menyampaikan kepada masyarakat mengenai hasil pemantauan kualitas udara dan mitigasi apa yang perlu diambil oleh masyarakat. Termasuk di dalamnya edukasi mengenai pentingnya pencegahan karhutla dan pembakaran sampah,” tandasnya.
Related Posts
- Atasi Karhutla, Dino Patti Djalal Sebut Teknologi Lacak Api Presisi 1 Meter Ada di Istana
- Pupuk Kaltim Perluas Dukungan Penanganan Karhutla, 76.400 Masker Disalurkan ke Sumatera dan Kalimantan
- Kaltim Raih Penghargaan Akses Pendidikan Terbaik, Mahasiswa Asal Paser Ukir Prestasi
- Listrik Sering Padam Bergilir, Komisi III DPRD Samarinda Bakal Panggil Manager PLN
- UMKT Luluskan 720 Wisudawan, Rektor Ingatkan Tantangan Dunia Kerja Makin Dinamis








