Gaya Hidup
Kasus Kanker Serviks di Indonesia Masih Tinggi, Ini Gejala yang Sering Diabaikan
Kaltimtoday.co - Kanker Serviks masih menjadi ancaman serius bagi perempuan di Indonesia. Penyakit ini dikenal sebagai silent killer karena pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.
Di Indonesia, kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada perempuan. Padahal secara medis, penyakit ini termasuk jenis kanker yang paling dapat dicegah melalui vaksinasi human papillomavirus (HPV) dan deteksi dini secara rutin.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory atau Globocan 2022 yang masih menjadi acuan global hingga 2026, Indonesia mencatat sekitar 36.964 kasus baru kanker serviks setiap tahun dengan angka kematian lebih dari 20.000 jiwa.
Data tersebut menempatkan kanker serviks sebagai salah satu beban kesehatan nasional paling serius bagi perempuan Indonesia. Sejumlah studi terbaru sepanjang 2024 hingga 2026 juga menunjukkan perhatian dunia terhadap peningkatan kasus kanker serviks secara global.
World Health Organization dan United Nations Population Fund mengapresiasi langkah Indonesia dalam memperluas vaksinasi HPV nasional dan mulai beralih ke metode skrining HPV DNA sebagai bagian dari strategi eliminasi kanker serviks nasional 2023–2030.
Penyebab Angka Kanker Serviks di Indonesia Masih Tinggi
Tingginya angka kanker serviks di Indonesia dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satu penyebab utama adalah rendahnya kesadaran perempuan untuk melakukan pemeriksaan rutin seperti pap smear, IVA test, maupun skrining HPV DNA.
Masih banyak perempuan merasa takut, malu, atau kurang mendapatkan edukasi mengenai pentingnya deteksi dini. Akibatnya, pasien baru datang ke fasilitas kesehatan saat kanker sudah berkembang ke stadium lanjut.
Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi HPV yang ditularkan melalui kontak seksual. Kurangnya edukasi mengenai vaksinasi HPV dan kesehatan reproduksi turut memperbesar risiko penyebaran virus tersebut.
Selain itu, tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga memengaruhi pemerataan layanan kesehatan. Distribusi tenaga medis spesialis, fasilitas skrining, dan alat diagnostik disebut masih belum merata, terutama di luar Pulau Jawa.
Gejala Awal Kanker Serviks yang Sering Diabaikan
Kanker serviks biasanya berkembang perlahan dalam waktu 15 hingga 20 tahun sejak infeksi HPV pertama kali terjadi. Sayangnya, gejala awal sering dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain keputihan tidak normal, seperti berbau tidak sedap, berwarna kecokelatan, atau bercampur darah.
Perdarahan di luar siklus menstruasi juga perlu mendapat perhatian, terutama apabila terjadi setelah berhubungan seksual, di luar masa haid, atau setelah menopause.
Selain itu, nyeri panggul berkepanjangan hingga siklus menstruasi yang tidak teratur dapat menjadi gejala yang muncul pada kondisi tertentu.
Pentingnya Deteksi Dini
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan kanker serviks dapat dicegah dan diobati lebih efektif apabila ditemukan sejak dini. Karena itu, skrining rutin menjadi langkah penting bagi perempuan.
Saat ini terdapat tiga metode utama deteksi dini kanker serviks, yakni IVA test, pap smear, dan HPV DNA test.
IVA test atau inspeksi visual asam asetat menjadi metode skrining sederhana yang tersedia luas di puskesmas dan dinilai efektif terutama di daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas.
Data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 4,8 juta perempuan Indonesia menjalani skrining IVA sepanjang 2024. Dari jumlah tersebut, sekitar 30.457 perempuan dinyatakan positif IVA dan 730 orang diduga mengalami kanker serviks.
Pap smear dilakukan dengan mengambil sampel sel serviks untuk mendeteksi perubahan sel yang berpotensi berkembang menjadi kanker.
Sementara HPV DNA test merupakan teknologi terbaru yang mampu mendeteksi keberadaan virus HPV secara langsung sebelum muncul perubahan sel ganas pada serviks.
Cara Mencegah Kanker Serviks
Pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka kanker serviks di Indonesia. Salah satu upaya utama adalah vaksinasi HPV yang kini telah diperluas pemerintah bagi anak perempuan usia sekolah dasar.
WHO menyebut vaksinasi HPV menjadi salah satu kunci utama eliminasi kanker serviks secara global.
Selain vaksinasi, perempuan usia 30 hingga 59 tahun yang sudah aktif secara seksual juga dianjurkan menjalani skrining rutin setiap tiga hingga lima tahun sekali.
Pola hidup sehat seperti menghindari rokok, menjaga kebersihan area kewanitaan, serta menjaga daya tahan tubuh juga dinilai membantu menurunkan risiko kanker serviks.
Edukasi mengenai hubungan seksual aman turut menjadi bagian penting dalam mencegah penularan HPV.
Kanker serviks kini bukan sekadar isu kesehatan biasa, melainkan ancaman nyata terhadap kualitas hidup dan produktivitas perempuan Indonesia. Meski angka kasus masih tinggi, penyakit ini termasuk salah satu kanker yang paling bisa dicegah melalui vaksinasi dan deteksi dini.
Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya skrining rutin, vaksin HPV, serta mengenali gejala awal menjadi langkah penting untuk menekan angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia.
[RWT]
Related Posts
- Rupiah Hari Ini Kian Terpuruk, Melemah Tembus Rp 18.115 per Dolar AS
- Gempa Filipina: BMKG Deteksi Gelombang Tsunami Ringan di Maluku Utara dan Sulut
- DAU Juni Cair, Pemkab Kukar Mulai Salurkan Gaji ke-13 ASN Secara Bertahap
- BPOM Gerebek Gudang Raksasa di Tangerang, Sita 2 Juta Kosmetik Ilegal Bernilai Rp27,6 Miliar Asal Tiongkok
- Rencana Kenaikan Harga Minyakita, Pemerintah Pertimbangkan Harga CPO Global









