Gaya Hidup

Kenali Cataplexy, Kondisi Membeku Ketika Tertawa

Kaltimtoday.co – Sebuah video yang menunjukkan seorang wanita yang tiba-tiba “membeku” beberapa detik ketika tertawa viral di media sosial. Video yang diunggah oleh pengguna media sosial bernama Sergey Fyodorov asal Rusia tersebut tak menuliskan keterangan lebih lanjut, sehingga membuat netizen bertanya-tanya, apa yang menyebabkan wanita tersebut “membeku”. 

Diketahui, kondisi yang dialami oleh wanita dalam video tersebut merupakan kelainan langka yang disebut dengan cataplexy.

Baca juga:  Mengenal Sleeping Beauty Syndrom, Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Apa itu Cataplexy? 

Cataplexy merupakan kelainan yang membuat otot melemah setiap penderitanya tertawa.

Pemicunya bisa dihubungkan dengan emosi. Biasanya, kondisi ini sangat mudah dikenali ketika seseorang meluapkan emosi ekstrem, seperti tertawa, marah, sedih, atau bahagia.

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini, cataplexy masih berhubungan dengan kondisi narkolepsi. Narkolepsi adalah gangguan neurologis yang menyebabkan seseorang sangat mengantuk di siang hari.

Dokter Dyah Novita turut mengatakan, narkolepsi tipe satu disertai dengan gejala cataplexy. Orang yang mengidap narkolepsi tipe satu akan mengalami gejala-gejala ringan. Sedangkan penderita narkolepsi tipe dua bisa mengalami gejala yang lebih berat.

Untuk orang dengan narkolepsi tipe satu, gejala cataplexy biasanya dimulai setelah timbulnya rasa kantuk berlebihan.

Gejala dan tingkat keparahan cataplexy bisa bervariasi. Gejala yang masih ringan melibatkan sensasi lemah di beberapa otot tubuh.

Sementara itu, gejala yang parah bisa menyebabkan hilangnya kontrol otot seluruh tubuh (kelumpuhan). Selama mengalami gejala parah ini, penderitanya tidak bisa bergerak maupun berbicara.

Tidak seperti kondisi pingsan atau kejang, orang yang mengalami cataplexy tetap sadar. Artinya, mereka masih bisa merasakan keadaan sekitar, melihat, dan mendengar.

Dalam beberapa kasus, gejalanya akan hilang dalam waktu beberapa menit, lalu kembali normal seperti biasa. Akan tetapi, ada juga penderita cataplexy yang membutuhkan waktu lebih lama sampai tubuhnya kembali normal.

Baca juga:  Disebut Mampu Cegah Virus Corona, Berikut 7 Manfaat Eucalyptus Bagi Kesehatan

Penyebab Cataplexy

Meskipun penyebab cataplexy masih terus diteliti, tetapi kebanyakan pasien yang didiagnosa mengalami cataplexy menunjukkan hilangnya sel-sel otak tertentu yang berfungsi menghasilkan hormon orexin (juga disebut hipokretin).

Orexin berperan penting dalam hal mengatur siklus tidur dan bangunnya manusia. Sebagian besar informasi yang kita ketahui tentang hubungan antara hipokretin dan cataplexy berasal dari penelitian mengenai narkolepsi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa faktor bisa berkontribusi dalam hal hilangnya orexin pada pasien narkolepsi tipe 1. Faktor-faktor tersebut termasuk:

  • Kelainan autoimun: hilangnya sel-sel yang menghasilkan orexin bisa berkaitan dengan disfungsi pada sistem kekebalan tubuh. Pada kelainan autoimun, tubuh akan menyerang jaringan-jaringan sehat akibat kesalahan informasi di otak. Ada bukti bahwa narkolepsi tipe 1 bisa disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel-sel yang menghasilkan orexin.
  • Riwayat dalam keluarga: meskipun potensi genetik belum sepenuhnya dipahami, namun sekitar 10% pasien narkolepsi tipe 1 memiliki anggota keluarga terdekat yang juga mengalami gejala-gejala yang sama.
  • Cedera otak: beberapa pasien narkolepsi tipe 1 kehilangan sel-sel otak yang mengandung orexin akibat cedera otak, tumor, dan beberapa jenis penyakit.

Gejala Cataplexy

Gejala-gejala catapley bisa berbeda pada tiap orang. Kebanyakan pasien mulai menyadari terjadinya tanda-tanda cataplexy saat mereka remaja atau memasuki usia dewasa muda.

Beberapa gejala-gejala cataplexy yang bisa terjadi termasuk:

  • Kelopak mata turun
  • Rahang melemas, tidak bisa dirapatkan
  • Kepala jatuh ke samping akibat melemahnya otot leher
  • Seluruh tubuh jatuh ke lantai
  • Otot-otot yang berbeda di seluruh tubuh mengalami kedutan tanpa sebab yang jelas

Cara mengobat Cataplexy 

Meski bukan penyakit yang mematikan, tapi kondisi ini bisa menurunkan kualitas hidup penderitanya. Sayangnya, menurut dr. Dyah Novita, kondisi cataplexy tidak bisa disembuhkan.

Akan tetapi, penderita dapat belajar mengubah perilaku dan aktivitas mereka untuk meminimalkan terjadinya episode cataplexy.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Harvard Medical School di Amerika Serikat (AS) ada pilihan obat-obatan yang terbukti efektif mengobati cataplexy.

Pengobatan dapat mengurangi serangan cataplexy hingga 90 persen. Obat-obatan memungkinkan penderitanya untuk tetap terjaga di siang hari dan mendorong mereka untuk tidur di malam hari, kata dr. Lois E. Krahn, psikiatri di Mayo Clinic College of Medicine di Phoenix di AS.

Obat yang digunakan berupa antidepresan trisiklik, seperti clomipramine, imipramine, desipramine, dan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Obat tersebut digunakan untuk membantu mengatasi cataplexy beserta gejala narkolepsi lainnya.

Baca juga:  Mengenal Paradoxical Undressing, Penyebab Pendaki Tewas di Gunung Lawu

Bagi orang dengan cataplexy parah, minum obat dapat membantu mengendalikan serangan, meningkatkan interaksi sosial, keamanan, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Selain obat-obatan, terapi perilaku kognitif (cognitive behaviour therapy) dapat membantu penderita mengendalikan gejala narkolepsi, termasuk cataplexy.

[RWT]

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker