Samarinda

Meski Banjir Semakin Tinggi, Sebagian Warga Pilih Bertahan

Kaltimtoday.co, Samarinda – Banjir di kawasan Perumahan Bengkuring, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara, sejak Rabu (15/1/2020) pagi terus meninggi. Meski sebagian warga memilih untuk mengungsi, terutama anak-anak, remaja dan ibu rumah tangga, namun tak sedikit dari kaum adam yang berusia dewasa memilih untuk bertahan di kediamannya. Meski ketinggian air saat ini telah mencapai hampir satu meter.

Ditemui di kediamannya, seorang pria lanjut usia bernama Hasan (74), warga Jalan Terong, RT 37, Perumahan Bengkuring tetap memilih bertahan di rumah sederhananya, meski telah terendam banjir sejak lima hari silam, tepatnya pada Sabtu (11/1/2020) pagi. Meski dalam kondisi yang begitu memperihatikan, Hasan yang tidak mengenakan baju kala itu melemparkan senyum ramahnya kepada awak media.

Baca juga:  Banjir di Perumahan Bengkuring Semakin Tinggi, Warga Mulai Mengungsi

Dalam lima hari terakhir ini, Hasan yang memilih bertahan terpaksa harus tidur di atas meja yang telah dia susun. Pakai bantal karung diisi dengan pakaian. Kepada awak media, Hasan menuturkan, selama masa itu belum ada bantuan apapun dari pemerintah daerah kecuali nasi bungkus yang dibagikan tim relawan dan Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda.

“Diberi obat sama salep kulit biar tidak gatal-gatal,” tuturnya seraya melempar senyum simpul.

Di rumah ukuran kecil itu, Hasan tinggal bersama istri dan cucunya. Total lima orang menempati rumah itu. Hanya, istri anak dan cucunya memilih mengungsi ke masjid dan tempat tinggal keluarga di lokasi lain di Samarinda yang tak terdampak banjir.

Soal banjir, kata Hasan, ini bukanlah persoalan baru. Sejak bermukim di kawasan tersebut pada 1998 silam, musibah banjir memang selalu dialaminya tatkala hujan lebat mengguyur.

Warga mengaku, belum ada bantuan apapun dari pemerintah daerah kecuali nasi bungkus yang dibagikan tim relawan dan Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda.

Alasan Hasan bertahan dari terjangan banjir pun, lantaran dia menjaga barang-barangnya agar tak hanyut di bawa banjir. Meskipun aliran listrik telah dimatikan sejak beberapa hari lalu, dan malam dia hanya menggunakan penerangan lilin.

“Tidur seadanya. Kasur tempat tidur semua kena banjir. Saya susun kursi seadanya tidur di atas meja,” tutur Hasan.

Seperti pengalaman yang lalu-lalu ketinggian banjir saat ini, kata Hasan butuh waktu dua pekan untuk surut.

Hujan yang mengguyur Samarinda sejak pekan lalu membuat kawasan ini jadi kosentrasi terkumpul air. Puncaknya pada Selasa (14/1/2020) hujan deras kembali mengguyur hingga ketinggian air mencapai dada.

Ketinggian air hingga siang ini masih posisi di pinggang hingga perut. Banjir merendam seluruh kompleks kawasan itu. Sekolah, masjid, puskesmas hingga kantor kelurahan terendam.

Sebagian besar warga mengungsi ke posko dan ke rumah keluarga, tapi sebagian lain justru memilih bertahan layaknya Hasan.

Ketinggian air hingga siang ini masih posisi di pinggang hingga perut orang dewasa.

Mereka tidur beralasan tikar di atas meja. Ada pula yang menyusun meja berlapis kursi kayu disusun tinggi melebihi permukaan banjir.

Layaknya Hasan, seorang warga lainnya bernama Darli (63) pun demikian. Meski tidak tidur di rumahnya yang terendam banjir. Namun setiap harinya, pria yang telah bermukim sejak akhir 2000 ini memilih bertahan untuk bernostalgia dan memberikan tenaganya untuk membantu sesama.

“Karena ini adalah rumah satu-satunya yang bisa saya beli. Saya juga bertahan untuk bantu temen-temen relawan buat bantu tetangga yang lain,” ucap Darli.

Sedangkan pria lainnya yang juga turut bertahan bernama Akhmad Yani Ketua RT 37 menuturkan, alasannya bertahan ialah, untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada warganya.

“Kalau semua ngungsi siapa yang jaga barang dan rumah di sini,” ucapnya.

Sebagai ketua RT sejak belasan tahun silam, Yani membawahi sedikitnya 316 jiwa dengan 97 Kepala Keluarga (KK). Sejak menetap 2001 silam, Yani mengaku, musibah serupa setiap tahun selalu dialami bahkan dengan kondisi yang terus memburuk tanpa adanya solusi konkrit dari pemerintah daerah.

Tahun 2004 banjir besar merendam kompleks ini. Disusul awal 2008. Kemudian 2017 juga banjir besar menggenangi kompleks ini. Kejadian terakhir Juli dan Desember 2019. Kala itu setinggi dua meter lebih. Lalu disusul Januari 2020 saat ini.

“Kami tidak tahu ada solusinya atau tidak. Kok malah banjir makin parah,” kata dia.

Yani menyarankan, pemerintah daerah fokus membenahi Bendungan Benanga agar kosentrasi air bisa berkumpul di sana. Karena aliran air menuju lokasi ini dari Bendungan Benanga melalui wilayah Betapus hingga ke kompleks ini.

“Kalau bendungan itu (Benanga) itu jebol, kami semua mati,” tegasnya.

Baca juga:  Dilanda Hujan Lebat, Pendaratan di Bandara APT Pranoto Ditunda Hingga 2 Jam Setengah

Dengan ketinggian banjir saat ini, Yani memprediksi air bisa surut butuh waktu 17 hari atau dua pekan lebih.

“Jadi kami tetap bertahan meskipun banjir begini. Yang ngungsi ya ibu-ibu sama anak-anak saja,” imbuhnya.

BPBD Samarinda mencatat korban yang terdampak dari banjir ini sebanyak 7.213 jiwa tersebar di tiga kecamatan yakni Samarinda Utara, Sungai Pinang dan Sambutan. Selain banjir menggenangi pemukiman warga, total ada 20 jalan poros dan gang-gang warga juga terendam banjir. Longsor juga terjadi di tujuh titik di wilayah pinggiran Samarinda.

[JRO | RWT]

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Back to top button
Close