HeadlineSamarinda
Trending

Normal Baru, DPRD Samarinda Minta Jaang Pastikan Protokol Kesehatan Diterapkan

Kaltimtoday.co, Samarinda – Samarinda mulai menerapkan tatanan normal baru di tengah pandemi Covid-19, 1 Juni mendatang. Seluruh tempat ibadah, pusat perbelanjaan, cafe, dan organisasi perangkat daerah pelayanan publik kembali beroperasi.

Meski begitu, Pemkot Samarinda mewajibkan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan. Mulai menggunakan masker, menjaga jarak 1-2 meter, mencuci tangan menggunakan sabun, hingga membatasi pertemuan di dalam ruangan tertutup maksimal 20 orang, dan 40 orang dalam ruangan terbuka.

Baca juga:  Resmi, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang Tanda Tangani Surat Edaran Normal Baru

Keputusan menerapkan tatanan normal baru ini diambil Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang dengan memperhatikan rekomendasi dari Dinas Kesehatan Samarinda. Dalam rekomendasinya, Samarinda dinilai bisa menerapkan tatanan normal baru karena sudah berada pada fase penyembuhan dan tidak terjadi transmisi lokal.

Merespon kebijakan itu, Anggota DPRD Samarinda Nursobah mengingatkan, kebijakan tatanan normal baru di tengah pandemi Covid-19 harus benar-benar didasari kajian komprehensif yang utuh dari otoritas kesehatan terkait mengikuti syarat yang direkomendasikan WHO. Sebab, kebijakan yang diambil tersebut penting dan menyangkut keselamatan warga Samarinda.

“Sejauh ini saya lihat Covid-19 di Samarinda berhasil dilokalisir penyebarannya. Itu berkat respon sejak awal dan pengetatan yang dilakukan Dinas Kesehatan Samarinda sejak 3 bulan lalu,” ujar Nursobah.

Tatanan normal baru, sebut dia, suatu keniscayaan yang mesti diambil pemerintah karena ketidakmampuan dalam memenuhi seluruh kebutuhan , terutama pangan warga. Namun, bukan berarti serta-merta membiarkan aktivitas masyarakat tanpa kontrol. Tetap harus di bawah pengawasan dengan penerapan protokol kesehatan ketat.

Baca juga:  Doni Monardo: Kaltim Belum Siap Normal Baru Covid-19

Pemkot Samarinda menurutnya, harus turun langsung ke lapangan melakukan pengawasan. Memastikan sudah diterapkan atau tidak protokol kesehatan Covid-19 tersebut.

“Samarinda saya yakin bisa lebih baik dan lebih dulu memulai normal baru asal tetap tutup pintu masuk dan keluar. Paling tidak 1-2 bulan kedepan,” pungkasnya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Samarinda Ismed Kusasi, Rabu (27/5/2020), mengatakan, pihaknya menyampaikan rekomendasi normal baru dengan berdasarkan perhitungan epidiomologis. Kajian komprehensif. Dalam analisa yang dilakukan tim epidimiologis, saat ini Samarinda sudah melalui fase puncak, masuk fase penyembuhan, dan tanpa transmisi lokal.

Baca juga:  Forum Pemred, AJI, dan PWI Kecam Intimidasi Terhadap Wartawan Detik

Dalam pemaparan tim epidimiologi, sejauh ini Samarinda telah mendapatkan 4 klaster utama nasional, yakni klaster Bogor, klaster Sinode, klaster Gowa, dan klaster Magetan.

Samarinda menyelesaikan 4 klaster utama nasional tersebut tanpa transmisi lokal. Sementara 4 klaster ini merupakan penyebab transmisi lokal di 8 kabupaten/kota di Kaltim. Di mana peningkatan PDP konfirmasi positif dari klaster ini masih sangat signifikan, transmisi lokal telah terjadi di 3 level, yakni keluarga inti, keluarga besar, dan non keluarga.

Selain 4 klaster tersebut, Samarinda juga menemukan klaster Kalteng, klaster lokal Kaltim, terutama dari Balikpapan dan Kutai Kartanegara.

“Sampai 27 Mei 2020, di Samarinda juga belum ada bukti ilmiah telah terjadi transmisi lokal yang diverifikasi Dinas Kesehatan Kaltim,” tulis laporan tim epidiomologi dari Dinas Kesehatan Samarinda.

Baca juga:  Dinkes Samarinda Terbitkan Rekomendasi Untuk Normal Baru di Tengah Pandemi Covid-19

Hingga 27 Mei 2020, di Samarinda sudah dilakukan sebanyak 7.320 tes rapid dan swab massal. Rinciannya, 2.123 tes rapid dengan immunofloresensi Assay (IFA). Salah satu alat tes rapid yang dipercaya memiliki akurasi hampir mendekati tes PCR (polymerase chain reaction). Kemudian, 219 tes swab, dan 4.978 tes rapid non-IFA.

Selama masa penyembuhan ini, otoritas kesehatan di Samarinda masih akan melakukan tes swab massal dengan target 2.000 orang. Dilakukan untuk meningkatkan spesifikasi di fase penyembuhan, bahwa yang bukan PDP benar-benar bukan PDP alias mencari hasil swab negatif.

Adapun tes rapid dengan IFA ditarget 2.000 orang. Tes dengan IFA ini untuk pemetaan imunologi.

[TOS]

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Back to top button
Close