Opini

Pentingnya Mengetahui Resusitasi Jantung Paru (RJP) dari Perspektif Filsafat Epistemologi

Oleh: Rifkal Artha Yuda (Mahasiswa Ners UMKT) 

Kesehatan merupakan harta paling berharga yang dimiliki oleh manusia. Tuhan telah menyusun bentuk manusia dengan sangat sempurna yang terdiri dari berbagai macam organ-organ tubuh yang memiliki tupoksi masing-masing guna menunjang aktivitas manusia untuk bersosialisasi dan bertahan hidup. Ada satu kutipan yang berbunyi “kesehatan tampak berharga setelah kita kehilangannya”. Melihat kutipan tersebut, mestinya kita sadar bahwa kesehatan merupakan hal yang perlu kita jaga.

Kesehatan pada dasarnya tidak didasari oleh keadaan fisiologis saja, melainkan ada kesejahteraan psikologis yang menjadi bagian tak bisa terlepaskan. Tetapi dalam tulisan ini, penulis akan merincikan kesehatan yang fokusnya di ranah fisiologis saja atau bisa disebut mudahnya sehat secara fisik. Setiap manusia pasti pernah mengalami rasa sakit, mulai dari sakit yang tidak mengancam nyawa hingga sakit yang dapat mengancam nyawa dalam hal ini bisa disebut juga dengan kondisi kegawatdaruratan.

Baca juga:  Kebijakan KBM Tatap Muka Januari 2021 Masih Prematur (?)

Kondisi kegawadaruratan dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, dalam hal ini memang petugas kesehatan lah yang memiliki peran untuk menolong korban. Tetapi melihat narasi awal paragraf, kondisi kegawadaruratan dapat terjadi di mana saja, sehingga tak menutup kemungkinan terjadi pada daerah yang jauh dari keberadaan petugas kesehatan. 

Salah satu kondisi kegawatdaruratan yang dapat terjadi secara tiba-tiba adalah henti jantung, di mana kejadian ini sebagian besar terjadi di rumah atau tempat-tempat tertentu saat melakukan aktivitas.

Henti jantung atau dalam bahasa medis di sebut cardiac arrest adalah satu kondisi kegawatdaruratan yang dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan cepat. WHO 2019 mengatakan bahwa, penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi salah satu penyumbang angka morbiditas dan mortalitas. Diperkirakan 17 juta orang di dunia meninggal tiap tahunnya akibat penyakit jantung terutama serangan jantung.

Saat jantung berhenti berdetak, maka sirkulasi darah dalam tubuh pun menjadi terhambat sehingga oksigen tidak bisa dialirkan ke seluruh tubuh. Ketika oksigen tidak tersebar, maka sel-sel dalam otak pun tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dan hal ini akan mengakibatkan kerusakan otak bila kondisi cardiac arrest  tidak ditangani dengan cepat dan tepat, yaitu sekitar 4-6 menit.

Melihat uraian di atas, henti jantung merupakan hal yang sangat berbahaya dan juga dengan kejadian yang dapat terjadi secara tiba-tiba, masyarakat harus mengetahui tentang kiat-kiat pertolongan pertama pada pasien henti jantung.

Ilmu tentang pertolongan pertama tersebut sudah ditemukan dan dikembangkan oleh para ahli di bidang kardiovaskular dan biasa disebut dengan resusitasi jantung paru (RJP). RJP menjadi sebuah ilmu yang sangat penting dalam menolong korban henti jantung dan ilmu tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan ada proses panjang dan hingga saat ini terus berkembang secara dinamis yang harapannya dapat diimplementasikan secara maksimal untuk menolong pasien henti jantung.

Pembahasan tentang ilmu sendiri banyak dikaitkan dengan filsafat karena dianggap sebagai sebuah induk dari segala ilmu yang ada dan penulis percaya itu. Mengapa filsafat dianggap sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan, karena secara fundamental, tidak ada sebuah ilmu yang tidak melewati proses berpikir dan filsafat merupakan ilmu yang menetapkan teori-teori kerangka berpikir, dan dengan adanya filsafat, maka terbentuklah ilmu-ilmu lain yang pastinya akan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Berbicara tentang filsafat, terdapat berbagai pembahasan terkait dengan sub pembahasan filsafat. Mulai dari tentang eksistensi tuhan hingga kehidupan bersosialisasi. Tetapi pada intinya, filsafat merupakan ilmu untuk memperoleh kebenaran atau lebih jelasnya lagi kebijaksanaan. Salah satu cabang ilmu dalam filsafat yaitu epistemologi. 

Epistemologi berasal dari bahasa yunani yang secara etimologi terbagi atas 2 kata yaitu episteme yang berarti pengetahuan dan logos berarti ilmu. Melihat asal kata tersebut, maka secara terminologi, filsafat epistemologi merupakan sebuah ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan lebih radikal lagi yaitu tentang sumber pengetahuan.

Sebenarnya secara definitif, filsafat epistemologi tidak ada pengertian yang baku dan para ahli berbeda-beda dalam mendefinisikannya. Tetapi kita tak perlu mendebatkan hal tersebut, yang terpenting masih dalam satu substansi yang sama.

Dalam pembahasan ini, penulis akan sedikit menguraikan tentang pentingnya mengetahui pertolongan pertama pada pasien henti jantuung dengan melakukan tindakan resusitas jantung paru dari perspektif filsafat epsitemologi.

Pertanyaannya. mengapa mengaitkan ilmu kesehatan dengan ilmu filsafat? Jika melihat secara garis besar tentang pengertian epistemologi, kita jadi tau bahwa epistemologi merupakan sebuah ilmu yang membahas tentang pengetahuan yang di mana tindakan RJP merupakan sebuah pengetahuan yang perlu diketahui dalam menolong pasien henti jantung.  Kesimpulannya ilmu filsafat dan ilmu kesehatan sama sekali tidak bertentangan, bahkan ilmu kesehatan pun hadir dari proses pertanyaan dan kemudian mendapatkan jawaban secara empiris serta berkembang menjadi sebuah pengetahuan dan filsafat secara tidak langsung menjadi dasar terbentuknya ilmu pengetahuan di lingkup kesehatan.

Kembali pada pembahasan, RJP adalah prosedur penyelamatan keadaan gawat darurat yang dilakukan pada orang dengan henti jantung dan/atau henti napas yang terdiri dari kompresi dada dan pemberian napas buatan. Tujuan RJP ialah mengembalikan fungsi jantung dan paru agar kembali pada fungsi normalnya. Hal ini dilakukan untuk mencegah berhentinya sirkulasi darah atau berhentinya pernapasan yang dapat menyebabkan kematian sel.

RJP dapat dilakukan dengan minimal 1 orang tetapi idealnya yaitu dilakukan dengan 2 orang penolong yang di mana satu orang memberikan kompresi dada untuk mengembalikan fungsi jantung dan satu penolong lagi memberikan ventilasi spontan jika korban mengalami henti napas juga.

Pengetahuan tentang RJP tidak hanya perlu diketahui oleh tenaga kesehatan saja, melainkan masyarakat pun perlu mengetahui hal tersebut karena kembali lagi, kondisi henti jantung dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, sehingga jika menunggu petugas kesehatan untuk menolong korban, bisa-bisa nyawa korban tidak akan terselamatkan.

Baca juga:  RUU Ketahanan Keluarga: Penguatan atau Pelemahan?

Menurut penulis, RJP ini harus sudah diajarkan dari lingkup sekolah karena dengan begitu, masyarakat akan terlatih sejak dini untuk melakukan pertolongan tersebut. Tidak hanya di lingkup sekolahan saja, pemerintah setempat seperti kecamatan, kelurahan ataupun desa, bisa lebih sadar lagi untuk membuat pelatihan RJP yaitu bisa bekerjasama dengan sektor rumah sakit atau dinas kesehatan. Sehingga dengan hal ini, masyarakat bisa lebih sigap lagi jika menemui kasus korban henti jantung. Sebab besar kemungkinan orang akan panik jika menemui kasus ini dan untuk meminimalisirnya yaitu dengan membekali pengetahuan yang cukup.

Berdasarkan uraian di atas, Pembelajaran filsafat epistemologi tak dapat dipisahkan dari ilmu kesehatan karena filsafat merupakan induk dari semua ilmu. Dalam hal ini, henti jantung merupakan hal yang sangat berbahaya. RJP merupakan ilmu pertolongan pertama yang dapat menyelamatkannya, maka dari itu sadarilah kejadian yang sudah ada dengan terus belajar dan berlatih tentang kiat-kiat ilmu melakukan tindakan RJP.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker