Pendidikan
Profil Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP yang Viral dan Jejak Keluarganya
Kaltimtoday.co - Nama Dwi Sasetyaningtyas menjadi perbincangan publik setelah video dirinya viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia memperlihatkan dokumen yang menunjukkan salah satu anaknya telah berstatus warga negara Inggris, disertai pernyataan, “cukup aku yang WNI, anak-anakku jangan”.
Pernyataan itu menuai kritik dari warganet. Pasalnya, Dwi diketahui merupakan alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), program pendanaan pendidikan yang bersumber dari anggaran negara.
Sejumlah pihak menilai ucapannya tidak selaras dengan semangat nasionalisme dan komitmen pengabdian yang selama ini menjadi nilai utama penerima beasiswa negara. Polemik tersebut memicu respons dari pemerintah dan LPDP.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa keluarga yang bersangkutan berpotensi masuk daftar hitam (blacklist) instansi pemerintah. Selain itu, suami Dwi disebut harus mengembalikan dana beasiswa beserta bunga karena belum menuntaskan kewajiban kontribusi pascastudi sesuai kontrak LPDP.
Kontroversi ini memperluas diskusi publik, bukan hanya soal pernyataan pribadi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral dan administratif penerima beasiswa yang dibiayai negara.
Latar Pendidikan Dwi Sasetyaningtyas
Dwi Sasetyaningtyas, yang akrab disapa Tyas, memiliki latar pendidikan di bidang teknik dan energi. Ia merupakan lulusan sarjana (S-1) Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Setelah menyelesaikan studi di ITB, Tyas melanjutkan pendidikan magister di Belanda melalui beasiswa LPDP. Ia menempuh studi di Delft University of Technology (TU Delft) pada program sustainable energy technology dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017.
TU Delft dikenal sebagai salah satu universitas teknologi terkemuka di Eropa. Latar belakang akademik tersebut menjadi fondasi karier Tyas di bidang energi dan keberlanjutan lingkungan.
Karier dan Aktivitas di Bidang Sustainability
Sepulang dari Belanda, Dwi Sasetyaningtyas aktif di sektor lingkungan dan kewirausahaan sosial. Pada 2018, ia mendirikan platform Sustaination, yang berfokus pada edukasi gaya hidup ramah lingkungan, kampanye sustainability, serta kurasi produk eco-friendly.
Sustaination awalnya berbasis di Belanda sebelum berkembang menjadi platform digital dan toko daring di Indonesia. Platform ini kerap mengangkat isu pengurangan plastik sekali pakai, promosi produk lokal berkelanjutan, serta edukasi sustainability bagi keluarga muda.
Selain sebagai pengusaha sosial, Tyas juga dikenal aktif menjadi pembicara dalam berbagai forum terkait sustainability dan kewirausahaan sosial, termasuk di kalangan profesional muda dan diaspora Indonesia.
Profil Suami dan Sorotan Publik
Sorotan terhadap Dwi turut menyeret nama suaminya, Arya Iwantoro, yang juga merupakan alumni LPDP. Ia merupakan lulusan ITB dan melanjutkan studi di Utrecht University hingga meraih gelar doctor of philosophy (PhD) di bidang physical geography pada 2022.
Saat ini, Arya bekerja di Inggris sebagai senior research consultant dan dikenal sebagai co-founder Lingkari Institute. Namanya ikut menjadi perhatian karena diduga belum sepenuhnya memenuhi kewajiban kontribusi pascastudi sebagaimana diatur dalam kontrak beasiswa LPDP.
Jejak Karier Mertua di Kementerian Pertanian
Perhatian publik juga mengarah pada latar belakang keluarga besar suami Dwi. Ayah mertuanya, Syukur Iwantoro, memiliki rekam jejak panjang di birokrasi, khususnya di Kementerian Pertanian.
Syukur Iwantoro merupakan lulusan Fakultas Peternakan IPB, magister perencanaan wilayah dan perdesaan, serta MBA agribisnis di Inggris pada 1994. Sepanjang kariernya, ia pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2011–2015) hingga Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian.
Namanya juga sempat muncul sebagai saksi dalam pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan pengurusan kuota impor daging pada 2013. Dalam proses tersebut, ia menyatakan tidak terlibat dan memenuhi panggilan pemeriksaan.
[RWT]
Related Posts
- Imigrasi Tanjung Redeb Perketat Pengawasan WNA di Berau, Dua Sudah Dideportasi
- Perketat Pengawasan WNA, Pemkab Kukar dan Kantor Imgrasi Samarinda Sinergi Cegah TPPO
- Viral Video WNA Selipkan Rp 500.000 di Paspor, Kemen Imipas Telusuri Kebenarannya
- Imigrasi Samarinda Amankan WNA Langgar Izin Visa, Terancam 5 Tahun Penjara
- Alumni LPDP Boleh Menetap di Luar Negeri, Cek Ketentuannya







