Gaya Hidup
Waspada, Dokter Sebut Anak Kurang Zat Besi Lebih Rentan Alami Stunting
Kaltimtoday.co - Orang tua diminta untuk tidak menyepelekan kecukupan mikronutrisi pada anak. Dokter spesialis anak sekaligus konselor laktasi, dr. Lucky Yogasatria, memperingatkan bahwa kekurangan zat besi menjadi salah satu faktor risiko utama yang memicu terjadinya stunting.
Meskipun tidak semua anak stunting pasti kekurangan zat besi, namun keduanya memiliki keterkaitan yang erat dalam proses tumbuh kembang. Stunting sendiri umumnya terjadi akibat kekurangan gizi kronis atau infeksi berulang yang dialami anak dalam jangka waktu lama.
Melansir Antara, Rabu (15/4/2026), kondisi tersebut menyebabkan asupan kalori dan energi tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan fisik dan otak secara optimal. Akibatnya, tinggi badan anak berada di bawah kurva standar serta berat badan sulit naik.
"Itulah mengapa pada dua tahun pertama, kondisi stunting harus segera diperbaiki. Ketika anak mengalami stunting, sudah pasti sel-sel otaknya juga kekurangan nutrisi penting," tegas dr. Lucky.
Menariknya, gejala kekurangan mikronutrisi seperti zat besi dan zinc sering kali tidak terlihat jelas dibandingkan kekurangan makronutrisi (protein dan karbohidrat). Anak yang kekurangan protein akan terlihat sangat kurus, namun anak yang kekurangan mikronutrisi mungkin tampak normal secara fisik namun perkembangannya terhambat.
Sebagai langkah diagnosis, dokter perlu melakukan pemeriksaan kadar zat besi, zinc, hingga vitamin D dalam tubuh anak. Jika terbukti terjadi defisiensi, dokter biasanya akan memberikan terapi suplementasi zat besi tambahan guna mengejar ketertinggalan pertumbuhan.
Selain pemeriksaan medis, edukasi mengenai gizi seimbang sangat penting bagi keluarga. Masyarakat dapat mengakses informasi mengenai pola asuh dan gizi anak melalui laman poltekkesbelitungtimur.org untuk mencegah risiko gangguan tumbuh kembang sejak dini.
Zat besi sendiri memiliki peran krusial dalam mencegah anemia dan mendukung perkembangan kognitif. Kekurangan zat besi yang dibiarkan dapat memicu penurunan tingkat kecerdasan anak di masa depan.
Guna mencegah risiko ini, dr. Lucky menyarankan orang tua untuk memberikan makanan kaya zat besi seperti hati ayam, daging ayam, dan daging sapi dalam menu harian anak. Pencegahan pun harus dimulai sejak masa kehamilan, di mana ibu hamil wajib mencukupi kebutuhan zat besi agar bayi tidak lahir dalam kondisi anemia.
Related Posts
- Menakar Efektifitas Implementasi Omnibus Law Kesehatan terhadap Perlindungan Tenaga Medis
- Upaya Penurunan Stunting, Pemda Berau Bakal Coba Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
- Waspada, Infeksi Radang Tenggorokan Saat Remaja Bisa Picu Katup Jantung Bocor
- Overkapasitas Pasien, Pemprov Kaltim Evaluasi RSUD AWS dan Siapkan Gedung Baru
- BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan JKK Rp 70 Juta untuk Siswa Magang di Balikpapan









