Opini

Waspada Serbuan Biang Kanker ke Ibu Kota Baru

Oleh: William Kilipnanto Lujeh (Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana Fakultas Bioteknologi)

Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur menimbulkan banyak polemik terhadap berbagai sektor, salah satunya adalah lingkungan yang erat sekali kaitannya dengan manusia sebagai penduduk dan lingkungan tempat tinggalnya. Salah satu polemik yang dihadapi adalah kota sebagai pusat ekonomi tentu berbeda dengan kota sebagai pusat pemerintahan yang berkaitan dengan kepadatan penduduk atau jumlah populasi dengan implikasi bahwa kota sebagai pusat pemerintahan tidak memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dibandingkan kota sebagai pusat bisnis atau ekonomi. Seperti negara tetangga yaitu Australia, ibukota Canberra sebagai pusat pemerintahan sedangkan Sydney sebagai pusat bisnis atau ekonomi.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa kota yang berawal dari pusat pemerintahan akan berujung sebagai pusat ekonomi atau bisnis seperti halnya Jakarta. Saat ini, Jakarta  adalah ibu kota negara yang mana sebagai kota pusat pemerintahan negara sekaligus sebagai pusat ekonomi. Seperti yang kita ketahui, Jakarta termasuk kota di Indonesia dengan kepadatan tertinggidan merupakan salah satu kota termacet di Indonesia karena memiliki jumlah kendaraan bermotor yang sangat padat, berserta pabrik-pabrik besarnya sebagai kontributor utama polusi udara dengan persentase 70% dari asap kendaraan bermotor, 25% dari sektor industri, dan 5% dari aktivitas warganya.

Baca juga:  Seketat Apa Hukum Indonesia Menjaga Data Pasien Covid-19 ? (Bagian 1)

Polusi Udara dan PAH

Salah satu kelompok senyawa yang terkandung di dalam polusi Udara adalah PAHs (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons) sebagai zat toksik yang bersifat mutagenik dan karsinogenik atau sebagai senyawa yang memicu terjadinya mutasi pada DNA dan memicu tumbuhnya sel kanker terhadap mahluk hidup termasuk manusia, jumlahnya diketahui lebih dari 100 jenis.

Umumnya PAHs terbentuk dari pembakaran yang tidak sempurna seperti dari asap kendaraan bermotor, pabrik, dan rokok. Berdasarkan aktivitasnya dikategorikan menjadi 2 (dua) sumber yaitu disebabkan oleh alam seperti lewat kebakaran hutan, meletusnya gunung berapi dan paling besar bersumber dari aktivitas antropogenik yang dilakukan oleh manusia seperti aktivitas umum yang terjadi di perkotaan yaitu transportasi menggunaan kendaraan bermotor dan asap buangan dari pabrik-pabrik.

Dari 100 jenis PAHs ada 7 yang memiliki toksisitas tertinggi adalah benzo(a)pyrene, benzo(b)fluoranthene, benzo(j)fluoranthene, benzo(k)fluoranthene, dibenz(a,h)anthracene, dan ideno(1,2,3-c,d)pyrene, benzo(a)anthracene. 

Nasib PAH

Polusi udara memiliki tendensi menjadi bentuk polusi lainnya seperti polusi tanah dan polusi air karena ketika hujan turun ada 2 kemungkinan, yang pertama dimana PAH akan  mengalami leaching dimana partikel  PAH dari udara masuk dan terserap (absorbsi) oleh tanah sehingga menybebabkan akumulasi pada tanah yang kemudian PAH dapat terserap oleh akar-akar tumbuhan yang secara tidak langsung akan kita konsumsi lewat kebutuhan pangan seperti konsumsi buah dan sayur.

Baca juga:  Covid-19: Antara Sunnatullah, Aqidah dan Syariah

Kedua PAH ketika hujan akan mengalami run-off yaitu Ketika air hujan sampai di permukaan tanah akan terikut arus dan berujung di badan-badan air seperti sungai, danau, dan laut dimana PAH ini akan terakumulasi juga di sedimen perairan kemudian melewati jaring-jaring makanan dari kerang yang ada di dasar perairan melewati peristiwa rantai makanan masuk ke tubuh ikan-ikan yang akan kita konsumsi dan akumulasi berujung pada manusia karena mengkonsumsi hewan-hewan serta tumbuhan yang telah mengalami akumulasi senyawa PAH diperparah dengan kondisi dimana bahwa mikroplastik (MP) dapat menyerap zat toksik lainnya dan PAH, sehingga mikroplastik menyebabkan konsentrasi PAH dan sangat dapat ditemui di badan-badan air seperti sungai, laut, dan danau akibat degradasi plastik secara parsial.

Solusi Polusi Udara dan PAH

Polusi udara dapat berkurang ketika terjadi huja. Hal ini juga yang menyebabkan hujan asam dimana partikel-partikel toksik tadi berikatan dengan partikel air dan membentuk hujan, hal ini kemudian menimbulkan polemik baru karena Kaltim khususnya daerah dimana ibu kota yang baru akan dibentuk dengan hutan tropisnya akan mengalami eksploitasi besar-besaran, sehingga hal ini akan mengganggu fungsi hutan baik itu secara ekologi sebagai habitat hewan-hewan liar dan dilindungi mengingat hutan Kaltim memiliki berbagai spesies kunci dan terancam punah dan juga fungsi hutan secara hidrologis dimana menjaga tidak terjadi nya proses transpirasi secara berlebihan yang menjaga kelembapan dan suplai air tanah, karena iklim tropis memiliki keuntungan yaitu ketika musim kemarau suplai air masih terjaga dan masih mengalami hujan sebaliknya ketika musim hujan masih dapat mengalami hari-hari kering.

Penanganan ataupun perlakuan secara preventif harus dilakukan yaitu meminimalisir pertumbuhan populasi penduduk dengan pembukaan lahan secara berlebihan, dan juga ketika ibukota sudah terbentuk penduduk tentunya harus dapat mengurangi jumlah kendaraan bermotor dengan memaksimalkan sarana-prasarana transportasi public yang memanfaatkan energi dan teknologi terbarukan seperti mobil ataupun motor listrik, pembangkit listrik tenaga surya maupun air, konsumsi bahan bakar fosil dialihkan ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan seperti bioetanol yang juga bersifat sustainable,kemudian jika akan dibangun pabrik harus menetapkan standar yang tinggi dengan menjamin pabrik-pabrik tersebut akan beroperasi dengan teknologi yang ramah lingkungan, tidak seperti ibukota sekarang ini yaitu Jakarta karena akan berpengaruh signifikan terhadap akumulasi polusi udara termasuk senyawa PAH yang terbentuk secara tidak langsung nantinya.

Baca juga:  Ancaman Keberadaan Populasi Pesut Mahakam

Penilaian PAH secara kuantitatif  dapat kita lakukan secara mudah yaitu melalui bioindicator dimana sebagai contoh kita dapat mengambil sampel lumut dan daun pinus mengingat bahwa hutan di sebagian wilayah Samboja adalah hutan-hutan pinus kemudian dibawa ke lab dan dianalisis dengan alat GC/HRMS.

Lumut merupakan tumbuhan yang banyak ditemukan dimana saja sehingga dapat menjadi indikator senyawa PAH sebagai komponen dari polusi udara. Penilaian kualitas udara melalui bioindicator memungkinkan tidak hanya para ahli ataupun ilmuwan saja tetapi membuka kesempatan pada masyarakat yang tentunya peduli terhadap lingkungan khususnya pada wilayah dimana Ibu kota negara yang baru akan dibangun memiliki kualitas lingkungan yang baik dan sehat, baik sebelum ataupun selesai dibangun nantinya.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close