HeadlineInternasional

Amerika Serikat Janjikan Rp 310 Triliun ke Indonesia, Syaratnya Kurangi Produksi Batu Bara

Kaltimtoday.co – Presiden Amerika Joe Biden menjanjikan bantuan ke Indonesia sebesar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 310 triliun jika meninggalkan bahan bakar fosil, seperti batu bara, ke energi terbarukan.

Janji itu disampaikan Joe Biden di sela-sela KTT G20 di Bali sebagai bentuk komitmen “kemitraan investasi iklim terbesar khusus untuk satu negara” dengan tujuan mendorong Indonesia untuk terus berkomitmen memajukan target emisi nol bersihnya dalam 10 tahun, hingga 2050.

“Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan dan ambisi yang luar biasa selama pengembangan kemitraan ini,” kata Biden, dalam pernyataannya.

Joe Biden menuturkan, target baru dan percepatan yang dihasilkan menunjukkan bagaimana negara-negara dapat secara dramatis mengurangi emisi dan meningkatkan energi terbarukan. Dibuktikan dengan terus memajukan komitmen untuk menciptakan pekerjaan dan melindungi mata pencaharian masyarakat.

Baca juga:  Generasi Muda Punya Peran Penting Atasi Krisis Iklim

Kesepakatan tersebut -yang disebut Kemitraan Transisi Energi Adil (JETP)- dipimpin oleh AS dan Jepang dan ditandatangani oleh Kanada, Denmark, Uni Eropa, Prancis, Jerman, Italia, Norwegia, dan Inggris.

Seperti diketahui, batu bara, bahan bakar fosil yang paling kotor. Meski begitu, batu bara merupakan penggerak utama, hampir 65 persen, kebutuhan energi di Indonesia.

Kondisi itu berdampak terhadap sumbangsih Indonesia sebagai negara dengan polusi terburuk di dunia. Menurut World Resources Institute, Indonesia juga jadi penyumbang 2 persen emisi gas rumah kaca global.

Sektor energi menyumbang hampir setengah dari emisi di Indonesia, dengan emisi otomotif berkontribusi pada sekitar seperlima dari keseluruhan emisi, menurut Kementerian Perindustrian.

Berdasarkan kesepakatan itu, emisi di sektor listrik harus sudah mencapai puncaknya pada 2030, lebih awal 7 tahun dari yang diproyeksikan sebelumnya.

Indonesia juga sepakat untuk membatasi emisi sektor ketenagalistrikan sebesar 290 megaton CO2 pada 2030, turun dari nilai dasar sebesar 357 megaton, dan mempercepat penggunaan energi terbarukan sehingga mencakup setidaknya 34 persen dari semua pembangkit listrik pada tahun yang sama.

“Jika Anda melihat nilai investasi yang disatukan di bawah persyaratan kemitraan tersebut, ini bisa dibilang merupakan kemitraan investasi iklim khusus terbesar untuk satu negara,” kata Konselor Iklim Departemen Keuangan AS, John Morton.

Baca juga:  Melalui Kaltim, Indonesia jadi Negara Pertama di Asia Pasifik yang Terima Dana Penanggulangan Iklim dari FCPF

Morton menyebut pengurangan emisi dari target-target tersebut sebagai “signifikan”.

“Hanya untuk menempatkan angka-angka itu dalam perspektif 300 megaton setara dengan menghilangkan separuh mobil penumpang AS dari jalan raya selama satu tahun. Dan dua gigaton setara dengan sekitar 15 persen emisi sektor listrik global pada tahun tertentu,” katanya dalam konferensi pers di sela-sela KTT G20 di Bali.

Seorang pekerja berada di atas truk yang mengangkut batu bara di pelabuhan Karya Citra Nusantara Marunda, di Jakarta, 17 Januari 2022. [Adek Berry/AFP/Benar News]
Seorang pekerja berada di atas truk yang mengangkut batu bara di pelabuhan Karya Citra Nusantara Marunda, di Jakarta, 17 Januari 2022. [Adek Berry/AFP/Benar News]

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia memiliki peran penting untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

“Indonesia berkomitmen pada ekonomi rendah karbon, transisi energi dan kami percaya bahwa kami tidak boleh mengorbankan ekonomi kami, tetapi kami juga harus membangun ekonomi yang lebih berkelanjutan untuk generasi mendatang,” kata Luhut.

“Saya berjanji kepada cucu tertua saya akan membuat kebijakan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya. Dia adalah pengingat terkuat saya,” ujarnya.

Perjanjian Exxon Mobil-Pertamina

Secara terpisah Biden juga mengumumkan sejumlah langkah yang bertujuan membantu Indonesia memerangi perubahan iklim, memerangi penangkapan ikan ilegal, dan membangun ibu kota negara baru.

Agenda paling utama adalah kesepakatan senilai US$ 2,5 miliar antara Exxon Mobil dan BUMN Pertamina untuk mempelajari pengembangan pusat penangkapan dan penyerapan karbon regional di Indonesia, kata pernyataan Gedung Putih, yang dirilis ketika Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Presiden Joe Biden bertemu untuk pembicaraan bilateral di Bali, Senin.

“Kemitraan ini akan memungkinkan sektor industri utama untuk melakukan dekarbonisasi, termasuk sektor penyulingan, bahan kimia, semen, dan baja, sehingga menurunkan emisi karbon sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi pekerja Indonesia,” kata dia.

Baca juga:  Petaka Maut di Balik Krisis Iklim di Kaltim

Studi bersama dengan Exxon Mobil menemukan potensi karbon dioksida (CO2) dengan kapasitas hingga 1 miliar ton di lapangan minyak dan gas Pertamina, kata Pertamina dalam keterangan yang dirilis, Senin.

Hal ini dapat memungkinkan Indonesia untuk menyimpan emisi secara permanen selama 16 tahun ke depan, demikian pernyataan Pertamina.

Pertamina telah mengumumkan pada bulan Mei bahwa pihaknya bekerja sama dengan Exxon Mobil untuk menerapkan teknologi penangkapan karbon di ladang minyak dan gas di wilayah Jawa Barat dan Kaltim.

Sementara itu, kesepakatan senilai US$ 698 juta dengan Millennium Challenge Corporation, sebuah badan bantuan luar negeri pemerintah AS, akan membantu mengembangkan “infrastruktur transportasi sadar iklim berkualitas tinggi” di lima provinsi di Indonesia,” kata pernyataan itu.

Amerika Serikat juga akan membantu Badan Keamanan Laut Indonesia (Bakamla) mengembangkan program drone untuk mendukung penegakan hukum maritim dan melawan penangkapan ikan ilegal.

Baca juga:  Meredam Teror Buzzer untuk Menjaga Iklim Medsos yang Sehat

USAID, lembaga AS untuk bantuan pembangunan international, pada kesempatan yang sama, juga menyampaikan komitmen akan membantu melestarikan spesies yang rentan seperti orang utan, gajah, harimau, dan badak, sambil menawarkan dukungan manajemen proyek dan bantuan teknis untuk rencana pemindahan Ibu Kota Nusantara ke kawasan hutan yang belum berkembang di Kaltim.

Secara terpisah, Bank Pembangunan Asia (ADB) pada Senin menandatangani nota kesepahaman dengan Indonesia untuk membuka pembicaraan guna mempercepat penghentian pembangkit listrik 660 megawatt di Jawa Barat.

Nota kesepahaman tersebut bertujuan untuk mencapai pengurangan emisi karbon dioksida yang signifikan melalui model yang dapat ditiru yang dapat diterapkan ke produsen listrik batu bara independen lainnya di Indonesia dan negara lain, kata ADB.

“MOU dengan mitra terpercaya kami di Indonesia ini merupakan momen penting bagi Mekanisme Transisi Energi ADB dan transisi energi bersih yang akan dimajukannya,” kata Presiden ADB Masatsugu Asakawa.

[TOS | BENAR NEWS]

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co News Update”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker