Opini

Aplikasi Teori Nola J Pender sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Kalimantan Timur

Oleh: Rifkal Artha Yuda (Mahasiswa Ners UMKT)

Kesehatan merupakan aset paling berharga yang dimiliki dan perlu dijaga selama hayat masih di kandung badan. Ada satu kutipan menarik yaitu “kesehatan tampak berharga saat kita kehilangannya”. Ya jelas, banyak orang yang menyepelekan kesehatannya di saat masih dalam keadaan sehat, tetapi ketika sakit, barulah merasakan betapa penting dan berharganya kesehatan itu.

Untuk definisinya sendiri, menurut Undang-Undang nomor 36/2009 tentang kesehatan, sehat merupakan keadaan yang baik secara fisik, mental, spiritual, serta sosial memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dari definisi tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa, sehat merupakan keadaan paripurna yang terbebas dari kecacatan dan keluhan lainnya.

Baca juga:  Tingginya Tingkat Kesadaran Hukum di Masyarakat Adat Kampung Juaq Asa Kutai Barat

Kesehatan harus diperhatikan sejak manusia dalam kandungan, karena hal tersebut akan berdampak dan memengaruhi ketika anak lahir dan pertumbuhannya hingga dewasa. Salah satu jenis gangguan yang berisiko jika kesehatan tak diperhatikan sejak janin ialah penyakit stunting. Stunting adalah keadaan di mana anak dengan dengan gagal tumbuh atau terlambat bertumbuh karena kekurangan gizi kronis yang dimulai sejak dalam kandungan ibu selama 1.000 hari pertama kehidupan hingga usia 23 bulan. (Kementrian PPN/Bappenas, dalam: Vinci, Bachtiar & Parahita 2022).

Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stunting, yaitu antara lain pola asuh yang kurang baik, kurangnya melakukan pemeriksaan antenatal care pada ibu, hambatan akses rumah tangga untuk makanan yang bergizi, hambatan akses untuk mendapatkan air dan sanitasi yang bersih, serta penyakit infkesi yang diderita oleh anak. Selain itu, faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik dapat menjadi penyebab terjadinya stunting (Carolina, 2021).

Tahun 2020, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa, sebanyak 149 juta balita di seluruh dunia menderita stunting. Dikatakan juga bahwa, dari total kasus tersebut, lebih dari setengahnya berada di Asia dan Afrika. Untuk benua Asia sendiri, hanya memiliki beberapa negara dengan prevalensi stunting di atas 30%, di antaranya yaitu India, Nepal, Laos dan Indonesia. Indonesia memiliki tingkat stunting dengan kategori sangat tinggi dan belum mencapai target minimum yang telah distandari oleh WHO. (UNICEF dan WHO 2021 dalam: Vinci, Bachtiar & Parahita 2022).

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang menjadi list prioritas di Indonesia. Kasus stunting harus menjadi masalah yang perlu diwaspadai dan diperhatikan di Indonesia. Menurut WHO dalam (Arsyati et al., 2022), dari riset yang dilakukan pada 2019, didapatkan bahwa Indonesia menjadi negara nomor urut 3 dengan prevalensi stunting tertinggi di South-East Asian Region setelah Timor Leste (50,5%), India (38,4%) dan Indonesia sendiri (36,4%). Angka tersebut menunjukan betapa meluasnya kasus stunting di Indonesia.

Terkhusus di Kalimantan Timur, kasus stunting pun tersebar di penjuru kabupaten dan kota. Dilansir dari kanal berita (Kaltimtoday.co), Kutai Timur menjadi kabupaten dengan jumlah stunting tertinggi yaitu 27,5%, kemudian disusul oleh kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) 27,3%; Kukar 26,4%; Kota Bontang 26,3%; Berau 25,7%, Paser 23,6%; Samarinda 21,6%; Mahakam Ulu 20,3%; Balikpapan 17,6%; dan Kutai Barat 15,8%. Data tersebut didapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan mulai awal hingga akhir tahun 2021 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan yang bekerja sama dengan Biro Pusat Statistik (BPS) dengan dukungan Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hainnes et al dalam (Astuti, Adriani & Handayani 2020) didapatkan bahwa masih rendahnya pengetahuan masyarakat terkhusus ibu terkait dengan kejadian stunting pada anak. Padahal bisa dilihat sendiri banyak sekali dampak ataupun risiko jangka panjang yang dapat ditimbulkan jika anak mengidap stunting seperti yang dijelaskan oleh website (hellosehat), yaitu antara lain menurunnya kemampuan perkembangan kognitif otak anak, kekebalan tubuh melemah sehingga mudah sakit, risiko tinggi munculnya penyakit metabolik seperti kegemukan, munculnya penyakit jantung dan pembuluh darah, hingga sulitnya untuk memahami pelajaran.

Melihat dari prevalensi kasus stunting yang masih tinggi serta masih banyak yang belum sadar dan mengetahui lebih dalam mengenai stunting, maka dari itu perlunya eksekusi untuk pencegahan stunting terkhusus di Kalimantan Timur. Penulis menawarkan satu teori dari seorang tokoh keperawatan bernama Nola J Pender.

Ia mengagaskan suatu karya tentang “Health Promotion Model” yang di mana karya tersebut hasil penggabungan 2 teori yaitu, teori nilai harapan (Expectacy value) dan teori kognitif sosial (Social Cognitive Theory) yang secara utuh memandang pentingnya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Health promotion model (HPM) dapat menjadi satu perencanaan yang dapat diberikan pada masyarakat guna memahami dasar-dasar perilaku kesehatan individu yang di mana hal ini menjadi pondasi intervensi perilaku agar sasaran yang telah diberikan promosi kesehatan dapat meningkatkan gaya hidup sehat.

Pendekatan teori Nola J Pender mengupayakan agar individu dapat mempertahankan kondisi kesehatannya dengan keyakinan bahwa intervensi yang diberikan dapat lebih baik pada saat seseorang dalam kondisi sehat serta dapat melakukan tindakan yang mengarah oada perbaikan kondisi yang dimiliki. Inti dari teori Nola J Pender adalah sehat melalui promosi kesehatan, pender berpendapat bahwa individu merupakan makhluk biofisik yang dibentuk oleh lingkungan tetapi berusaha menciptakan hubungan antara lingkungan dan manusia. 

Menurut penulis, jika masyarakat banyak dibekali dengan informasi yang cukup, maka hal tersebut akan menjadi pondasi agar ke depannya mampu mengatasi gejala dan memilah perilaku yang baik sehingga kemungkinan buruk terjadi sangatlah kecil. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, aplikasi teori Nola J Pender ini sangat bagus untuk dilakukan. Masyarakat bisa dibekali dengan kegiatan promosi kesehatan tentang apa itu penyakit stunting, bagaimana pencegahan stunting, apa saja tanda gejala stunting, dan komplikasi atau risiko buruk yang terjadi jika terjadi stunting.

Baca juga:  Prasmanan, Belajar Mandiri Platform Merdeka Mengajar

Tentu hal ini diperlukan kolaborasi antar sektor, dan penulis menyarankan pengimplementasian kegiatan ini dapat dimulai dari bottom to up yaitu dari pemerintahanan desa atau kelurahan, lalu lanjut melaporkannya ke kecamatan lebih lanjut lagi dilaporkan kepada kabupaten hingga provinsi. Jika kesadaran dipupuk dari bawah, maka mendeteksi kejadian stunting pun akan lebih mudah. Untuk lebih lanjut, eksekusi promosi kesehatannya, pemerintah dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan sebagai edukator dalam memberikan pendidikan kesehatan di masyarakat. Sesuai argumen sebelumnya, ketika masyarakat dibekali informasi yang cukup, maka akan meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.

Untuk kegiatan lebih lanjut, pemerintah desa dapat membentuk sekelompok kader pencegahan stunting, di mana kader-kader ini akan dibekali terlebih dahulu seputar kiat-kiat penyakit stunting, sehingga ketika kader ini sudah memahami sepenuhnya, maka selanjutnya eksekusi dalam memberikan promosi kesehatan dan juga skrining penyakit pun akan lebih mudah dan tidak perlu lagi menunggu momen melakukan kegiatan pendidikan kesehatan yang membutuhkan pemateri dari luar daerah yang kemungkinan membutuhkan waktu lama untuk melaksanakan kegiatannya.

Stunting merupakan permasalahan yang tidak boleh dianggap sepele, karena kejadian stunting dapat berdampak pada kualitas sumber daya manusia ke depannya. Kita tau bersama bahwa anak-anak merupakan tonggak peradaban yang akan menjadi pelopor-pelopor untuk kemajuan bangsa, maka dari itu perlunya memerhatikan kesehatan anak yang salah satunya adalah mencegah terjadinya stunting. Semoga aplikasi teori Nola J Pender dapat menjadi salah satu pilihan yang dapat mencegah kejadian stunting di Kalimantan Timur.(*)

Referensi

Arsyati, Asri Masitha, et al. “EDUKASI DAN MONITORING KESEHATAN IBU ANAK DALAM PENCEGAHAN STUNTING DI WILAYAH SUKARESMI KOTA BOGOR.” Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Pontianak. Vol. 1. No. 1. 2022.

Astuti, Dyah Dwi, Rita Benya Adriani, and Tri Widyastuti Handayani. “Pemberdayaan masyarakat dalam rangka stop generasi stunting.” JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) 4.2 (2020): 156-162.

Carolina, Octoviana. “Analisis Pelayanan Intervensi Gizi Spesifik Integratif Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pademangan Jakarta Utara.” Jurnal Medika Hutama 3.01 Oktober (2021): 1372-1379.

Vinci, Alfi Sina, Adang Bachtiar, and Isidora Galuh Parahita. “Efektivitas Edukasi Mengenai Pencegahan Stunting Kepada Kader: Systematic Literature Review.” Jurnal Endurance: Kajian Ilmiah Problema Kesehatan 7.1 (2022): 66-73.


*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker