Kaltim

Bantah Isu Pengosongan Hutan, Evakuasi Badak Pari Mahulu Murni Demi Selamatkan Genetik Spesies

Kaltim Today
10 Juni 2026 06:39
Bantah Isu Pengosongan Hutan, Evakuasi Badak Pari Mahulu Murni Demi Selamatkan Genetik Spesies
Badak Pari Mahulu terpantau di alam liar. (Istimewa)

BALIKPAPAN, Kaltimtoday.co - Rencana pemindahan Badak Pari Mahulu dari hutan pedalaman Mahakam Ulu ke Suaka Badak Kelian di Kabupaten Kutai Barat sempat memunculkan berbagai spekulasi. Salah satu yang paling sering beredar adalah anggapan bahwa evakuasi badak betina terakhir di alam Kalimantan itu menjadi jalan untuk mengosongkan kawasan hutan yang selama ini menjadi habitatnya.

Isu tersebut dibantah dalam Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu Tingkat Provinsi yang digelar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur di Balikpapan, Senin (8/6/2026).

Forum yang dihadiri pemerintah, akademisi, organisasi lingkungan, hingga perwakilan masyarakat adat itu menegaskan bahwa pemindahan Pari dilakukan karena alasan biologis yang mendesak, bukan untuk membuka ruang bagi aktivitas lain di kawasan hutan.

Saat ini Pari merupakan satu-satunya Badak Kalimantan yang masih hidup bebas di alam liar. Kondisinya menjadi perhatian serius karena satwa berjenis kelamin betina itu hidup sendirian tanpa pasangan.

Jika dibiarkan tetap terisolasi di alam dan mati tanpa terpantau, peluang menyelamatkan spesies tersebut praktis berakhir.

Tim ahli reproduksi badak Indonesia, drh Muhammad Agil, menjelaskan kematian Pari di alam akan membuat material biologis yang tersimpan dalam tubuh satwa itu ikut hilang.

"Kalau dia mati di alam dan tidak ketahuan, saat ditemukan biasanya sudah mengalami pembusukan. Sel-sel hidupnya sudah rusak dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Yang tersisa mungkin hanya tulangnya untuk kerangka museum," katanya saat ditemui usai rakor.

Menurut Agil, kondisi itu pernah terjadi pada sejumlah badak yang ditemukan mati di habitat alaminya. Karena itu, memindahkan Pari dalam keadaan hidup menjadi kesempatan terakhir untuk menyelamatkan materi genetik Badak Kalimantan.

Ia menilai kondisi tubuh Pari yang masih relatif baik memberi peluang besar bagi pengembangan teknologi reproduksi berbantu. Di Suaka Badak Kelian, tim peneliti dapat mengambil sampel jaringan kulit dan mukosa gusi untuk dikembangkan menjadi sel hidup yang dapat disimpan dalam jangka panjang.

Dari sampel tersebut, para ilmuwan berpeluang menghasilkan sel telur maupun sel sperma artifisial, bahkan membuka kemungkinan program kloning di masa depan.

"Kalau material biologis ini bisa diamankan, peluang menyelamatkan spesiesnya masih ada. Kita bisa mengembangkan embrio, melakukan program bayi tabung, bahkan kloning. Itu tidak mungkin dilakukan kalau Pari tetap berada di alam tanpa pengawasan intensif," ujarnya.

Agil mengatakan keberhasilan penyelamatan material genetik Pari akan menjadi modal penting untuk mencegah nasib Badak Kalimantan berakhir seperti populasi badak di Malaysia yang telah punah tanpa menyisakan cukup materi biologis untuk dikembangkan kembali.

Di tengah rencana translokasi itu, muncul pula kekhawatiran bahwa habitat asli Pari akan kehilangan perlindungan setelah satwa tersebut dipindahkan.

Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas dalam rakor.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, menegaskan kawasan Hutan Lindung Buring Ayok yang selama ini menjadi rumah Pari tetap akan dipertahankan sebagai kawasan konservasi.

"Habitatnya tidak hilang seperti isu yang berhembus. Kami sepakat kawasan itu tetap dijaga dan akan diusulkan menjadi areal preservasi kepada pemerintah pusat," kata Ari.

Buring Ayok merupakan bentang hutan lindung yang berada di wilayah perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Kawasan ini bersinggungan dengan wilayah adat masyarakat Dayak di Kampung Nyaribungan dan Kampung Danum Paroy, Kecamatan Laham, Kabupaten Mahakam Ulu.

Selain menjadi habitat Badak Kalimantan, kawasan tersebut dikenal memiliki kekayaan hayati tinggi dan menjadi bagian penting dari ekosistem hulu Sungai Mahakam.

Karena itu, keberadaan maupun ketiadaan Pari di dalam kawasan tersebut tidak mengubah nilai konservasinya.

Para pihak yang hadir dalam rakor menegaskan Buring Ayok tetap harus dilindungi karena menyimpan keanekaragaman hayati yang jauh lebih besar daripada satu spesies satwa semata.

Justru perlindungan kawasan itu dinilai menjadi syarat penting jika program pengembangbiakan Badak Kalimantan berhasil dilakukan di masa mendatang.

Dengan habitat yang tetap utuh, anak-cucu Pari yang lahir melalui program konservasi memiliki peluang untuk suatu hari kembali dilepasliarkan ke hutan asalnya.

Di satu sisi, sains berupaya menyelamatkan spesies yang tinggal selangkah dari kepunahan. Di sisi lain, hutan yang menjadi rumah terakhirnya juga dipastikan tetap dijaga.

Bagi para peneliti dan pegiat konservasi, translokasi Pari bukanlah akhir dari cerita di Mahakam Ulu, melainkan upaya agar Badak Kalimantan masih memiliki masa depan.

[TOS]



Berita Lainnya