Samarinda

Berdasarkan Riset, Vaksin Covid-19 Diharapkan Efektif hingga 95 Persen

Kaltim Today
14 Januari 2021 22:13
Berdasarkan Riset, Vaksin Covid-19 Diharapkan Efektif hingga 95 Persen
Ketua IDI Kaltim, dr Nataniel Tandirogang ketika disuntik vaksin pada Kamis (14/1/2021).

Kaltimtoday.co, Samarinda - Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seseorang jika akan disuntik vaksin. Salah satunya tidak boleh mempunyai komorbiditas atau penyakit penyerta. Dijelaskan oleh Direktur RSUD AW Sjahranie, dr David Hariadi Masjhoer bahwa vaksinasi merupakan proses diberikan kuman Covid-19 ke dalam tubuh. Namun kuman yang diberikan itu sudah dimatikan. Sehingga, diharapkan tidak akan menimbulkan proses infeksi.

"Hanya saja, tubuh masih mampu mengenali kuman ini sehingga membentuk antibodi. Nah itu yang diharapkan sebenarnya dari tubuh. Bisa menghasilkan antibodi dari vaksin Covid-19. Jadi kalau ada infeksi Covid-19, tubuh sudah mengenali dan tidak terjadi penyakit," beber David saat konferensi pers di Kantor Gubernur Kaltim pada Kamis (14/1/2021).

Salah satu contoh penyakit adalah hipertensi. Bagi penderita hipertensi, maka tidak boleh diberikan vaksin. Sebab dikhawatirkan, efek penyuntikan akan menimbulkan rasa nyeri. Ditambahkan oleh Ketua IDI Kaltim, dr Nataniel Tandirogang bahwa tahap awal vaksinasi ini, penderita komorbiditas memang belum diperbolehkan.

Sebab harus ada data real terkait dengan uji klinis terhadap komorbiditas. Mungkin dalam perjalanannya nanti, data-data itu akan di-update. Sehingga tidak menutup kemungkinan bagi beberapa komorbiditas akan diperkenankan untuk divaksin.

"Masih butuh data tambahan uji klinis pada beberapa kasus komorbiditas," beber Nataniel.

Bicara soal efektivitas vaksin, Nataniel menjelaskan bahwa berdasarkan data riset, vaksinasi diharapkan bisa melindungi seseorang dari Covid-19 hingga mencapai di atas 95 persen. Namun masih dalam bentuk data dan kini masih tahap awal penyuntikan. Selanjutnya, data tersebut akan diuji lebih lanjut sehingga bisa dijabarkan hasil perkiraan di atas 90 persen untuk perlindungan si penerima vaksin.

Ini berkaitan dengan kemampuan tubuh masing-masing orang untuk membentuk sel-sel imun. Terkait apakah seseorang ketika diberikan rancangan langsung membentuk sistem imunnya, maka khusus vaksin ini akan diberikan 2 kali.

"Sejak 14 hari pertama penyuntikan vaksin itu, diharapkan ada peninggian. Tapi nanti sistem imun kita akan turun. Kemudian di-booster lagi di suntikan kedua, harapannya akan tinggi lagi," lanjutnya.

Sampai saat ini, hal tersebut diyakini akan memberikan perlindungan seumur hidup. Namun dalam perjalanannya, tentu akan mengikuti data yang ada. Semisal, bisa saja ada potensi untuk penambahan booster ketiga atau keempat. Sebab ketika sistem imun turun, maka harus dirangsang lagi agar kembali naik.

"Perkembangan vaksin Covid-19 ini akan diikuti terus. Kira-kira akan berapa kali diberikan suntikan supaya bisa memberi perlindungan seumur hidup. Sampai saat ini, dikatakan bahwa setelah 2 kali suntikan, maka bisa bertahan lebih dari setahun," pungkasnya.

[YMD | RWT]



Berita Lainnya