Samarinda

Butuh Rp 160 Miliar untuk Renovasi Stadion Palaran

Kaltimtoday.co, Samarinda – Kondisi Stadion Palaran begitu memilukan. Karena kemegahannya hanya bertahan sekejap mata. Setelah sebelas tahun didirikan untuk menyambut pagelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) 2008, perlahan kejayaannya pun kian tersingkirkan.

Lokasinya berada di wilayah selatan Samarinda, tepatnya di Kecamatan Palaran. Waktu tempuh dari kota sekitar 40 menit bila tak dikepung macet. Dari awal perjalan, saat memasuki gerbang pertama, terlihat plang bertuliskan ‘Stadion Utama Palaran’ dengan kondisi terbengkalai. Tiang pancang plang itu nampak kusam karena korosi. Belum lagi jalan setelahnya yang tidak rata dan dipenuhi sejumlah lubang, karena menjadi lintasan truk-truk bermuatan besar.

Baca juga:  PSSI Kaltim Sesalkan Kondisi Stadion Palaran

Jarak tempuh sekitar 10 menit dari gerbang pertama, menuju pintu utamanya. Saat memasuki badan jalan dengan bahan baku paving block. Meski tersusun rapi, tapi rumput sudah merajalalela. Begitu riskan saat dilalui pengendara motor atau mobil. Tak jarang saat dilewati, bata paving block itu terlepas dari susunannya.

Kondisi tersebut dikabarkan karena alokasi anggaran pengelolaan yang diterima tidaklah cukup, untuk mengakomodir semua pemeliharaannya.

Hal ini diungkapkan, Sayid Husein Sadly, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Prasarana Olahraga (PPO), saat dijumpai di Gedung Olahraga Akuatik pada Rabu (30/10/2019) sore tadi.

“Berapapun itu, kami tetap maksimalkan, meskipun kalau dibilang sebenernya tidak cukup. Ya, beginilah kondisinya sekarang,” ucapnya, saat melakukan kunjungan kerja, untuk mengecek kondisi genset utama di kompleks Stadion Palaran.

Sayid Husein Sadly, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Prasarana Olahraga (PPO).

Bangunan megah ini, dahulunya didirikan dengan biaya Rp 800 miliar dan bertaraf internasional. Saat ini, mendapatkan kesempatan berkunjung ke stadion utamanya. Di sana, terlihat dengan jelas kondisi bangunannya yang tak terawat. Sekelilingnya ditumbuhi tanaman belukar. Bahkan dari retakan tembok juga ditumbuhi rumput liar. Saat memasuki pintu menuju lapangan hijau, juga harus melewati anak tangga dengan kondisi terbelah, lantaran tanahnya amblas.

Bahkan untuk bagian pondasinya pun sangat mengkhawatirkan. Bayangkan, posisi bangunan penopang kursi tribun penonton itu miring dan nyaris ambruk. Meski demikian, pihak pengelola tak mampu berbuat banyak. Karena terbatas oleh anggaran yang diterimanya. Maklum duitnya saban tahun sebesar Rp 1,3 miliar. Dan anggaran itu harus dibagi lagi untuk mengurus Stadion Madya Sempaja.

Kata Sayid, pihaknya sudah semaksimal mungkin menjaga dan memelihara bangunan kompleks stadion tersebut. Namun dengan luasan 88 hekatare dan 10 gelanggang olahraga termasuk stadion utamanya, dia mengaku anggaran tersebut tidak akan mampu jika harus mengembalikan wajah kejayaan Stadion Utama Palaran.

“Kami berharap ada tamabahan. Karena yang ada saat ini pasti kurang untuk mengurus keduanya, terlebih untuk stadion palaran,” ungkapnya.

Untuk ongkos pembersihannya saja, Stadion Palaran harus menyiapkan dana sebesar Rp 1 miliar setiap tahunnya. Apalagi, selama ini pemeliharaan dilakukan oleh pihak ketiga untuk bagian cleaning service itu.

Kepala Pengelola Stadion Utama Palaran, Hasbar.

“Jelas kurang maksimal dan pasti tidak akan cukup,” sambungnya.

Sedangkan untuk Stadion Madya Sempaja, diketahui memiliki sumber dana secara mandiri. Yakni dari retribusi pengelolaan parkir. Namun nilainya juga tidaklah besar. Hasil yang diperolehnya hanya sebesar Rp 150 juta dan itupun harus dibagi dengan pihak ketiga.

Sementara, Stadion Utama Palaran saat ini sudah memasuki kategori rusak berat. Meski sebelumnya sempat mendapatkan perbaikan saat perhelatan Piala Gubernur pada 2016 dan 2018. Tapi saat ini pemugarannya harus segera dilaksanakan.

Secara terpisah, Kepala Pengelola Stadion Utama Palaran, Hasbar mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan untuk audit building (pemeriksaan bangunan) pada 2016 lalu, agar bisa diketahui jumlah kerusakan dan total anggaran yang harus disediakan untuk mengembalikan komplek Stadion Utama Palaran seperti masa kejayaannya pertama kali.

Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Prasarana Olahraga (PPO) saat berada di Gedung Olahraga Akuatik pada Rabu (30/10/2019) sore tadi.

“Kira-kira hasilnya itu sekitar Rp160 miliar. Itu sudah semua, termasuk memperbaiki pagar dan jalan yang rusak,” jelasnya.

Namun permintaan itu rupanya tak direspon hingga saat ini. Karena persoalannya tetap sama. Yakni di anggaran yang tak mencukupi. Jadi, untuk saat ini pihak pengelola hanya mampu mempekerjakan 16 orang pegawainya, dengan rincian 4 diantaranya sebagai PNS dan 12 lainnya non PNS.

“Kalau petugas keamanan ada 26 orang dengan tiga shift waktu jaga,” kata Hasbar.

“Beberapa tahun lalu memang ada perbaikan, tapi cuma cat nya saja. Yang benar-benar mendapatkan perbaikan hanya di GOR Serbaguna saja,” tuturnya.

Harapan pun turut dilontarkan Hasbar, dia mengatakan agar pemerintah juga memperhatikan bangunan lainnya. Seperti gedung bulu tangkis, lapangan tenis, softball, panjat tebing, kolam renang, dan lain-lain. Jumlahnya itu ada 10 venue.

“Semuanya itu perlu perawatan. Dan semoga semua bisa diperhatikan,” pungkasnya.

[JRO | RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close