Nasional

Diduga Keracunan MBG, 567 Santri dan Siswa di Sidoarjo Dilarikan ke Rumah Sakit, 80 Dirawat Inap

Network — Kaltim Today 03 September 2026 09:15
Diduga Keracunan MBG, 567 Santri dan Siswa di Sidoarjo Dilarikan ke Rumah Sakit, 80 Dirawat Inap
Sejumlah santri diduga keracunan MBG di Sidoarjo, Jawa Timur, masih menjalani perawatan di rumah sakit pada Kamis, 3 September 2026 pagi. (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Sebanyak 567 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba'ul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, serta sejumlah siswa sekolah di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah mengeluhkan gangguan kesehatan usai menyantap paket makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Berdasarkan data penanganan medis per Kamis (3/9/2026) pagi, akumulasi korban yang mendapatkan tindakan medis sejak Selasa (1/9/2026) mencapai 567 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 457 pasien telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang, sementara 80 pasien masih menjalani rawat inap serta 30 lainnya berada dalam masa observasi klinis di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Notopuro dan RS Delta Surya. 

Jumlah korban diperkirakan masih berpotensi bertambah mengingat adanya gelombang rujukan lanjutan puluhan penerima manfaat program MBG ke unit gawat darurat yang datanya masih dalam proses rekonsiliasi.

Para korban rata-rata menunjukkan gejala keracunan serupa, seperti pusing berat, mual hebat, muntah-muntah, hingga diare akut beberapa saat setelah mengonsumsi paket makanan.

Reni, salah seorang wali santri, mengungkapkan bahwa anaknya mengalami reaksi tubuh ekstrem tidak lama usai menyantap paket menu MBG yang dibagikan.

"Menu yang diterima ada orek telur, bumbu bali tempe, dan oseng baby corn. Anak saya bahkan tidak memakan sayurnya, tetapi langsung pusing, mual, muntah, sampai diare, hingga harus dirawat di RSUD Notopuro. Alhamdulillah sekarang sudah diperbolehkan pulang," ungkap Reni.

Pihak otoritas terkait dan dinas kesehatan setempat saat ini tengah melakukan investigasi epidemiologi serta menguji sampel sisa makanan di laboratorium guna memastikan penyebab pasti terjadinya kontaminasi massal tersebut, sembari memantau pemulihan para santri dan siswa yang masih dirawat intensif. 

[RWT] 



Berita Lainnya