Green Zetizen
Dorong Ekonomi Sirkular, Pelatihan Green Zetizen Ajarkan Anak Muda Samarinda Olah Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomis
Kaltimtoday.com, Samarinda – Menghadapi fase pertumbuhan urban yang pesat sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), Kota Samarinda menghadapi tantangan ledakan volume sampah, khususnya sampah plastik.
Jika tidak dikelola secara radikal dari sumbernya, pola konvensional 'Kumpul - Angkut - Buang' dinilai tidak lagi efektif seiring keterbatasan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Merespons tantangan krusial isu lingkungan tersebut, Yayasan Mitra Hijau (YMH) bekerja sama dengan Green Zetizen menggelar agenda Green Zetizen Training bertajuk "Penguatan Kapasitas Generasi Muda dalam Memilah dan Mengolah Sampah Plastik Menjadi Produk Bernilai Ekonomis".
Kegiatan ini berlangsung di Hotel Aston Samarinda pada Kamis (25/06) dengan melibatkan 30 perwakilan siswa dari 9 SMA/Sederajat di Kota Samarinda.
Kehadiran mereka diharapkan mampu memicu pergeseran paradigma di kalangan pelajar dari sekadar membuang menjadi memilah dan menciptakan nilai ekonomi baru dari sampah.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau (YMH), Dicky Edwin Hindarto, dalam pemaparannya menekankan bahwa penanganan sampah erat kaitannya dengan aksi mitigasi perubahan iklim global.
Lebih lanjut, Ia menggarisbawahi pentingnya keterlibatan aktif masyarakat serta generasi muda di dalam penanganan sampah langsung dari sumbernya, bukan sekadar menyerahkannya ke TPA.
“Tantangan penanganan sampah kita selama ini adalah kurangnya pelibatan masyarakat. Melalui transisi yang berkeadilan, kita perlu menanamkan pola pikir baru kalau sampah bisa menjadi bahan baku yang menguntungkan secara ekonomi, sekaligus melindungi ekosistem lingkungan sekitar kita,” ujar Dicky.
Senada dengan hal itu, Angela Sanita G. alias Jeje selaku perwakilan dari PT Asiana Recycle Indonesia (ARI) - perusahaan pengelola Bank Sampah Induk Samarinda - membeberkan realita angka sampah di ibu kota Kaltim ini.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, Samarinda menghasilkan timbulan sampah mencapai 615,17 ton per hari, atau setara dengan 225.152,99 ton dalam setahun.
Tak hanya memberikan presentasi satu arah, Jeje juga memberikan demonstrasi langsung di hadapan para peserta mengenai tata cara pemilahan sampah yang benar berdasarkan jenisnya.
Menggunakan sampel material secara interaktif, ia memperlihatkan bagaimana membedakan sampah yang masih bernilai ekonomi dan mana yang termasuk residu.
“Dari total timbulan tersebut, ada sekitar 12,94 persen atau hampir 80 ton per hari sampah yang belum terkelola dengan baik. Kunci sebenarnya ada di pemilahan dari awal untuk mengurangi masalah di akhir. Hal ini seharusnya bisa dilakukan seluruh masyarakat, karena mereka hanya perlu membagi sampah menjadi tiga kategori utama dari rumah, yaitu anorganik, organik, dan residu,” tutur Jeje yang aktif bermitra dengan Dinas Lingkungan Hidup di berbagai daerah di Kaltim tersebut.
Tak hanya dibekali teori tatap muka, para peserta pelatihan juga diajak menjelajahi ekosistem pengelolaan sampah lokal bersama Kiki dari Komunitas Samarinda Sadar Sampah (SSS).
Komunitas SSS mengenalkan konsep hierarki pengelolaan sampah (The Waste Hierarchy) yang menempatkan daur ulang (recycle) bukan sebagai solusi pertama, melainkan didahului dengan aksi menolak (refuse), mengurangi (reduce), dan menggunakan kembali (reuse).
Gerakan ini kemudian diwujudkan secara nyata lewat sesi praktik pembuatan produk kreatif. Didampingi oleh 6 fasilitator berpengalaman dari Komunitas SSS, seluruh peserta diajak untuk mempraktikkan langsung pemanfaatan limbah tutup botol plastik menjadi gantungan kunci baru yang bernilai estetis serta ekonomis.
“Kita tidak bisa menghilangkan semua sampah, tetapi kita bisa mengubah cara kita memperlakukannya melalui gerakan #SadarSampahSedariRumah. Harapannya, temen-temen yang hadir hari ini bukan hanya sekedar paham persoalan lingkungan, tapi bisa pulang dan memulai kebiasaan yang baik untuk lingkungan” Ungkap Kiki.
Rangkaian acara pelatihan ini kemudian ditutup dengan evaluasi performa peserta lewat sesi post-test untuk mengukur pemahaman materi ekonomi sirkular serta pengenalan jenis-jenis sampah bernilai jual tinggi, seperti plastik jenis PET, blowing, kertas HVS, hingga minyak jelantah.
[AD | ADV]
Related Posts
- Dorong Guru Siap Hadapi Era Digital, Hetifah Inisiasi Workshop Transformasi Pembelajaran Melalui Pemanfaatan Teknologi
- Gubernur Harum dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Sinergi Perlindungan Pekerja Kaltim
- Sidang Penusukan di Samarinda: Kuasa Hukum Cium Kejanggalan Keterangan Saksi Rengganis
- TRC PPA Kaltim Gelar Aksi di Kemenag, Desak Perlindungan Santri Kasus Kekerasan Seksual
- IESR Desak Pemerintah Segera Terapkan Insentif dan Target Adopsi Motor Listrik







