Nusantara

Dampak El Nino, 40 Hektare Sawah di Kawasan IKN Alami Kekeringan Parah

Network — Kaltim Today 06 Agustus 2026 09:30
Dampak El Nino, 40 Hektare Sawah di Kawasan IKN Alami Kekeringan Parah
Sawah di kawasan deliniasi Ibu Kota Nusantara (IKN), tepatnya di Desa Wonosari, Kecamatan Sepaku,PPU. (Beritasatu.com)

Kaltimtoday.co - Fenomena iklim El Nino memicu kekeringan parah yang melanda sedikitnya 40 hektare lahan persawahan di kawasan deliniasi Ibu Kota Nusantara (IKN), tepatnya di Desa Wonosari, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

Kondisi tanah retak akibat krisis air yang berlangsung selama tiga bulan terakhir tersebut memicu penurunan drastis hasil panen padi, hingga merugikan puluhan petani lokal hingga puluhan juta rupiah.

Mayoritas saluran irigasi di Desa Wonosari tidak lagi mampu mendistribusikan air karena debit sungai alami bersumber dari hutan yang menjadi tumpuan utama telah mengering total.

Salah seorang petani terdampak, Mudianto, mengungkapkan bahwa hasil produksi padi miliknya anjlok lebih dari 50 persen akibat minimnya pasokan air saat memasuki fase pembentukan bulir gabah.

"Padi yang panen kemarin agak kurang karena kekurangan air. Biasanya 1 hektar bisa mencapai kurang lebih 5 ton, kemarin cuma 1,5 ton," ungkap Mudianto di lokasi persawahan Desa Wonosari, PPU, Kamis (6/8/2026) pagi.

Mudianto menambahkan, ketiadaan pasokan air dari sungai maupun waduk membuat para petani terpaksa menghentikan total aktivitas tanam dan membiarkan lahan persawahan terbengkalai sementara waktu.

Data Pemerintah Desa Wonosari mencatat sedikitnya 50 petani mengeluhkan dampak kekeringan ekstrem ini. Kepala Desa Wonosari, Kasiyono, mengkhawatirkan berkurangnya produktivitas padi dapat memicu alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perkebunan.

Padahal, keberadaan persawahan di Desa Wonosari memiliki peranan vital sebagai benteng penyangga ketahanan pangan bagi kawasan IKN.

Menanggapi ancaman tersebut, pihak pemerintah desa bersama kelompok tani mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera menyalurkan bantuan infrastruktur berupa sumur bor sebagai sumber air alternatif saat kemarau.

"Harapan kami ada dukungan dari pemerintah daerah maupun pusat kepada petani kami yang masih berjuang untuk mempertahankan lahan pertanian. Tolong didukung, dibantu sumur bor untuk pengairannya sehingga kalau adanya sumur bor, insyaallah angka gagal panennya bisa diminimalisir," pungkas Kasiyono. 

[RWT] 



Berita Lainnya