KaltimSamarinda

Industri Ekstraktif Merajalela, WALHI Sebut Kaltim Berpotensi Alami Bencana

Kaltimtoday.co, Samarinda – Belakangan ini, pemberitaan nasional ramai dengan bencana banjir yang menimpa Kalimantan Selatan (Kalsel). Banjir itu terjadi hampir di seluruh kabupaten dan kota se-Kalsel sejak pertengahan Januari 2021. Tak sesederhana disebabkan hujan deras yang terus mengguyur, namun diduga akibat dampak industri ekstraktif seperti pertambangan dan kelapa sawit.

50 persen atau sekitar 3,7 hektar lahan di Kalsel diisi oleh industri ekstraktif. Didominasi industri tambang batu bara. Direktur WALHI Kaltim, Yohana Tiko menyampaikan bahwa Kaltim juga berpotensi mengalami kejadian serupa. Terlebih lagi, industri ekstraktif di Kaltim juga banyak.

Baca juga:  Kaltim Masuk Kategori Darurat dengan 1.735 Lubang Tambang di Berbagai Daerah

Mengacu pada Data Dinas Perkebunan tahun 2018, luas lahan kelapa sawit di Kaltim mencapai 1,2 juta hektar. Luasan itu tersebar di seluruh kabupaten dan kota se-Kaltim. Daerah paling luas ada di Kutai Timur (Kutim) yakni seluas 459 hektar lahan sawit.

Sedangkan untuk industri pertambangan, mengacu pada data tahun 2017 terhitung ada 1.143 izin usaha pertambangan (IUP) yang dikeluarkan pemerintah daerah (Pemda) seluas 5,2 juta hektar.

“Hal ini memicu kerusakan alam di Kaltim. Jadinya berpotensi mendatangkan bencana alam. Bukan tak mungkin Kaltim akan bernasib sama dengan Kalsel,” ungkap Tiko saat ditemui awak media.

Baca juga:  JATAM Sebut Kejahatan Negara Ditunggangi oleh Kepentingan Korporasi

Dijelaskan Tiko, makin ke sini potensi bencana terjadi di Kaltim makin terlihat jelas. Terbukti dengan banyaknya daerah yang terdampak banjir. Salah satu contohnya seperti di Tanah Grogot, Paser. Kemudian di Marangkayu, Kukar dan Sepaku, Penajam Paser Utara.

“Padahal, sebelumnya daerah tersebut tak pernah mengalami banjir,” tandas Tiko.

[YMD | RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close