Opini

Inisiatif Amerika Serikat Membantu Indonesia Menghadapi Pandemi Covid-19: Ada Udang di Balik Batu?

Oleh: Muhammad Fadhil Hidayat Samsir, (Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Islam Indonesia)

Kemunculan virus Corona tidak pernah diduga oleh dunia internasional. Tidak ada negara yang begitu siap dalam hal penanganan dan mengatasinya, sehingga menyebabkan dinamika dunia internasional terganggu. Tak hanya pada kesehatan, kehadiran Covid-19 telah membawa dampak luar biasa bagi dunia internasional. Ekonomi merupakan salah satu sektor yang terkena dampak dari adanya Virus Corona, bahkan dampaknya dapat menyebabkan krisis ekonomi yang lebih parah dibanding krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1930.

Momen krisis inilah yang menjadikan kerja sama internasional sebagai salah satu instrumen penting dalam menghadapi krisis ini. Dengan adanya kerja sama internasional, negara akan lebih mudah dalam menghadapi dan menangani pandemi virus Corona. 

Baca juga:  Urgensi Netralitas ASN dalam Kontestasi Pilkada Serentak 2020

Namun, perlu kita sadari, setiap kerja sama bisa saja diiringi dengan kepentingan negara itu sendiri. Ibaratkan seseorang yang bersedia membantu temannya, namun menginginkan imbalan setelahnya, secara langsung atau tidak. Tidak pernah ada kerugian yang diinginkan dari kerja sama antar kedua belah pihak. Setidaknya kerja sama tersebut saling menguntungkan, atau bisa lebih menguntungkan salah satu pihak. 

Indonesia dan Amerika Serikat di Masa Pandemi Virus Corona

Indonesia melaporkan kasus pertamanya pada awal bulan Maret lalu, ketika dua WNI asal Depok dilaporkan positif Covid-19. Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki jumlah kasus lebih dari 60.000 orang, disertai dengan jumlah kematian lebih dari 3.000 orang. Indonesia dengan segala upaya akhirnya mengalami kewalahan. Penambahan jumlah yang terus meningkat setiap harinya menyebabkan pemadatan pasien di rumah sakit dan alat kesehatan sebagai pendukung tenaga medis juga terus berkurang. Dengan kondisi demikian, pemerintah Indonesia tentunya butuh bantuan pihak luar untuk menangani kondisi tersebut. Pada bulan maret lalu, pihak Amerika Serikat menyatakan bersedia membantu Indonesia dengan memberikan bantuan sekitar Rp 37,6 miliar dan juga ventilator untuk rumah sakitnya. Bantuan ini tentunya disambut baik oleh pihak Indonesia.

Namun, jika melihat ke Amerika Serikat, negara yang dikenal sebagai negara Paman Sam itu memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda dengan negara Indonesia. Ini menimbulkan banyaknya spekulasi dan opini mengenai kebersediaan Amerika Serikat dalam membantu Indonesia, ketika Amerika Serikat sendiri juga sedang membutuhkan dana atau pun alat kesehatan lainnya yang dapat digunakan sebagai instrumen penanganan pandemi Virus Corona di negaranya.

Analisis Tindakan Amerika Serikat kepada Indonesia

Munculnya spekulasi semakin terdukung dengan adanya perang dagang antara Tiongkok dengan Amerika Serikat yang tiap hari kian memanas dan hingga saat ini, perang dagang yang terjadi belum menemukan titik terang adanya kesepakatan yang dapat mendamaikan kedua belah pihak. Kejadian ini tentunya berdampak bagi keadaan ekonomi Amerika Serikat, ditambah lagi dengan Hongkong sebagai salah satu tempat investasi terbesar bagi Amerika Serikat harus hilang karena Hongkong telah kehilangan hak khusus mereka setelah adanya pengesahan UU keamanan nasional beberapa waktu yang lalu yang telah disahkan oleh China. 

Baca juga:  Korean Wave dan Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Korea Selatan 

Spekulasi yang muncul pun seperti berikut, apakah Amerika Serikat ingin mencari pengganti Hong Kong sebagai tempat investasi selanjutnya? Atau apakah Amerika Serikat ingin menguatkan pengaruhnya di Indonesia, mengingat hubungan China dan Indonesia dapat dikatakan cukup erat. Pertanyaan dan spekulasi ini sekilas muncul karena ketersediaan Amerika Serikat yang mengalami konflik dengan Tiongkok serta ketersediaannya membantu Indonesia dengan jumlah ‘sumbangan’ cukup besar, disertai dengan salah satu alat yang vital dalam menangani pasien positif Corona. 

Kesempatan yang Dapat Dimanfaatkan

Melihat kondisi ini, Indonesia sebaiknya tidak gegabah dalam menerima atau mengambil kerja sama begitu saja. Mengingat bahwa ketergantungan sebuah negara akan mengakibatkan hilangnya pengaruh negara tersebut di dunia internasional. Bisa jadi, akan berdampak pada terikatnya negara Indonesia kepada Amerika Serikat karena “hutang budi” atau pun perjanjian yang telah disepakati. 

Negara-negara di masa krisis seperti sekarang ini tetap akan berlomba dalam memperbesar kekuatan dan pengaruhnya. Caranya adalah dengan terlepas dari cengkraman virus Corona, maka negara akan meningkatkan ekonomi yang sempat terhalang. Negara tersebut tentunya akan membuat kemajuan tekonologi baru seperti penggunaan robot, penanganan kesehatan yang lebih baik, dan juga teknologi-teknologi lainnya yang dapat menjadi nilai tambah untuk kekuatan negara tersebut. 

Baca juga:  Rasisme dalam Kemajuan Globalisasi: Bercermin dari Kematian George Floyd dan Anti-Asia di Tengah Pandemi

Menurut saya, Bebas-Aktif sebagai kebijakan politik luar negeri Indonesia sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin, mengingat posisi Indonesia yang tidak memihak Barat ataupun Timur. Keadaan “tengah” ini dapat menguntungkan bagi Indonesia, yang mana Amerika Serikat sebagai negara dengan pengaruhnya yang besar di wilayah Barat dan juga Tiongkok sebagai negara dengan pengaruh besarnya di wilayah timur. Posisi ini dapat dijadikan sebagai suatu peluang yang tidak bisa dilewatkan. Indonesia sebagai negara yang netral menjadi nilai tambah untuk negara lain menanamkan kepercayaannya dalam dinamika dunia internasional. Indonesia sendiri juga dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya. Hal tersebut tentunya menjadi nilai tambah untuk menarik negara lain untuk menanamkan modal ataupun investasi di Indonesia dalam mendorong ekonomi Indonesia terus maju.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close