Nasional

Jangan Lewatkan, Fenomena Strawberry Moon 2026 Masih Bisa Dilihat Jelas Malam Ini 

Network — Kaltim Today 30 Juni 2026 19:37
Jangan Lewatkan, Fenomena Strawberry Moon 2026 Masih Bisa Dilihat Jelas Malam Ini 
Ilustrasi. (Pixabay)

Kaltimtoday.co - Fenomena astronomis strawberry moon atau bulan purnama Juni 2026 telah mencapai puncak fasenya pada Selasa (30/6/2026) pagi. Kendati demikian, masyarakat Indonesia dipastikan masih memiliki kesempatan besar untuk menikmati keindahan fenomena alam ini sepanjang Selasa malam hingga menjelang fajar. 

Secara visual, satelit alami Bumi tersebut tetap akan tampak bulat sempurna dan bersinar sangat terang di langit malam. Perubahan bentuk bulan pascafase puncak dinilai tidak akan terlihat signifikan oleh mata manusia karena tingkat pencahayaannya masih mencapai sekitar 99 persen.

Berdasarkan data astronomis, puncak fase bulan purnama Juni ini sebenarnya terjadi pada Selasa pagi saat Matahari sudah terbit, tepatnya pukul 06.56 WIB, pukul 07.56 Wita, dan pukul 08.56 WIT. Karena kendala cahaya siang, waktu terbaik bagi masyarakat di tanah air untuk mengamatinya justru berlangsung pada malam hari.

Masyarakat yang ingin mengamati fenomena ini dapat mulai melihat ke arah ufuk timur sesaat setelah Matahari terbenam atau selepas waktu Magrib. Saat baru muncul di cakrawala, bulan berpotensi menampilkan ilusi ukuran yang lebih besar dengan pancaran warna kekuningan hingga jingga hangat.

Efek visual warna hangat tersebut dipastikan bukan berasal dari perubahan warna asli bulan, melainkan dampak dari pembiasan cahaya oleh lapisan atmosfer Bumi. Seiring posisi bulan yang bergerak semakin tinggi di langit, warnanya akan kembali berubah menjadi putih terang seperti purnama pada umumnya.

Banyak orang keliru mengira bahwa istilah strawberry moon berarti bulan akan berubah warna menjadi merah muda atau menyerupai buah stroberi. Faktanya, penamaan unik ini sama sekali tidak berkaitan dengan rupa fisik maupun warna dari bulan itu sendiri. 

Istilah tersebut berakar dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara, khususnya suku Algonquin, yang menggunakan siklus pergantian bulan untuk menandai musim pertanian. Bulan purnama yang muncul pada Juni dinamakan strawberry moonkarena bertepatan dengan musim panen stroberi liar di wilayah mereka pada masa lampau.

Keistimewaan fenomena pada tahun ini kian bertambah karena strawberry moon 2026 terjadi bersamaan dengan status micromoon. Kondisi ini merujuk pada momen ketika bulan purnama bertepatan dengan posisi bulan yang berada di titik terjauh dari Bumi dalam garis orbitnya, atau yang dikenal sebagai apogee.

Akibat posisi orbit yang menjauh tersebut, ukuran diameter bulan secara matematis diperkirakan akan terlihat sekitar 13 persen lebih kecil dan sedikit lebih redup dibandingkan saat berada di posisi terdekat dengan Bumi (perigee). Meski begitu, perbedaan skala ini dipastikan sulit dikenali jika hanya dipandang dengan mata telanjang.

Salah satu keunggulan dari fenomena ini adalah kemudahan akses pengamatannya bagi publik. Masyarakat tidak memerlukan alat bantu optik mahal seperti teleskop, binokular, ataupun filter khusus untuk bisa menangkap keindahan struktur bulan purnama ini.

Guna mendapatkan pengalaman pengamatan yang maksimal, masyarakat disarankan untuk memilih waktu pengamatan tepat setelah matahari terbenam dengan mencari lokasi terbuka yang memiliki pandangan luas ke arah timur seperti lapangan atau halaman rumah.

Faktor cuaca yang cerah serta minimnya polusi cahaya lampu perkotaan juga menjadi poin penting yang sangat menentukan keberhasilan pengamatan visual.  

[RWT] 


Related Posts


Berita Lainnya