Teknologi
Fenomena Hujan Meteor Perseid Hiasi Langit Nanti Malam, Ini Waktu Terbaik Melihatnya
Kaltimtoday.co - Fenomena astronomi hujan meteor Perseid masih dapat disaksikan oleh masyarakat di Indonesia pada Kamis (13/8/2026) malam hingga Jumat (14/8/2026) dini hari.
Meskipun puncak utama fenomena tahunan ini telah berlangsung pada 12–13 Agustus, intensitas dan aktivitas meteor Perseid dilaporkan masih cukup tinggi untuk diamati.
Berdasarkan kalender International Meteor Organization (IMO), periode aktif hujan meteor Perseid sendiri berlangsung sejak 17 Juli hingga 24 Agustus 2026.
Pengamatan tahun ini dinilai sangat menguntungkan karena bertepatan dengan fase bulan baru (new moon) yang jatuh pada Rabu (12/8/2026).
Minimnya cahaya Bulan membuat kondisi langit malam menjadi jauh lebih gelap. Hal ini memudahkan pengamat untuk melihat meteor-meteor yang memiliki intensitas cahaya lebih redup.
Bagi masyarakat di Indonesia, waktu terbaik untuk mengamati Perseid adalah mulai pukul 22.00 WIB hingga menjelang matahari terbit pada Jumat (14/8/2026).
National Aeronautics and Space Administration (NASA) menjelaskan bahwa jam-jam sebelum fajar merupakan periode paling ideal. Pada waktu tersebut, posisi rasi Perseus sebagai titik radiant berada semakin tinggi di langit sehingga peluang melihat meteor semakin besar.
Dalam kondisi lokasi pengamatan yang ideal dan langit cerah, fenomena ini masih mampu menghasilkan puluhan meteor per jam. Perseid juga dikenal kerap menghasilkan fireball, yaitu meteor berukuran lebih besar yang tampak jauh lebih terang.
Secara ilmiah, hujan meteor Perseid terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu dan serpihan yang ditinggalkan oleh Komet 109P/Swift-Tuttle. Material tersebut melesat masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 59 kilometer per detik dan terbakar hingga menciptakan kilatan cahaya.
Untuk mengamati fenomena ini, masyarakat tidak memerlukan teleskop atau peralatan khusus. Pengamatan menggunakan mata telanjang justru lebih efektif karena memberikan bidang pandang yang jauh lebih luas di langit.
Masyarakat disarankan memilih lokasi yang minim polusi cahaya, seperti area pantai, pegunungan, atau lapangan terbuka. Pengamat juga perlu memberi waktu 20 hingga 30 menit bagi mata untuk beradaptasi dengan kegelapan serta meminimalkan penggunaan layar ponsel.
Proses pengamatan akan terasa lebih nyaman jika dilakukan sambil berbaring atau menggunakan kursi santai di bawah langit yang cerah tanpa terhalang gedung tinggi atau pepohonan lebat.
Bagi wilayah yang terkendala cuaca mendung atau polusi cahaya tinggi, fenomena ini tetap dapat disaksikan melalui siaran langsung ata live streaming.
NASA menyediakan siaran pengamatan langsung menggunakan kamera Automated Lunar and Meteor Observatory (ALaMO) melalui kanal YouTube resmi mereka.
Selain itu, observatorium The Virtual Telescope Project di Manciano, Italia, juga menyiarkan pemandangan langit secara real-time melalui webcast dan platform YouTube.
[RWT]
Related Posts
- Kemarau Kukar Diprediksi hingga Oktober, Karhutla Sudah Terjadi di 14 Kecamatan
- Cara Sanggah dan Pengajuan Masuk Desil 1–3 Bansos via Aplikasi Cek Bansos Kemensos
- Ajukan PK Kasus Hibah DBON Kaltim, Kuasa Hukum Sebut Agus Hari Kesuma Jalankan Perintah Jabatan
- Tembus 15 Juta Pengikut Instagram, Cortis Cetak Rekor Grup K-Pop Tercepat
- Isu Gaji Manajer Kopdes Rp10 Juta, Menkeu Sebut Masih Bahas Acuan UMP







