Gaya Hidup

Kaya Nilai Budaya, Ini 7 Tradisi Unik Menyambut Iduladha di Berbagai Daerah Indonesia

Network — Kaltim Today 26 Mei 2026 17:26
Kaya Nilai Budaya, Ini 7 Tradisi Unik Menyambut Iduladha di Berbagai Daerah Indonesia
Tradisi Meugang di Aceh. (Dok. Pemprov Aceh)

Kaltimtoday.co - Perayaan Hari Raya Iduladha 2026 di Indonesia tidak melulu diidentikkan dengan ibadah penyembelihan hewan kurban atau salat jemaah semata. Di balik sakralnya nilai religius ini, tersimpan kekayaan khazanah kebudayaan berupa berbagai tradisi unik turun-temurun yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Setiap daerah memiliki cara komunal tersendiri dalam mengekspresikan rasa syukur atas datangnya Iduladha 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu (27/5/2026). Perpaduan apik antara syiar Islam dengan adat istiadat setempat melahirkan harmoni kebersamaan, gotong royong, hingga kerukunan antarumat beragama.

Berikut adalah 7 tradisi unik perayaan Iduladha di Indonesia yang masih lestari hingga tahun 2026 ini:

1. Meugang di Aceh

Menjadi salah satu tradisi tertua, meugang atau makmeugang telah eksis sejak era kejayaan Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607–1636 M). Digelar satu atau dua hari sebelum lebaran, tradisi ini diwujudkan dengan menyembelih sapi atau kerbau dalam skala besar. Daging kurban tersebut kemudian dimasak menjadi hidangan khas aceh, lalu disantap bersama keluarga serta dibagikan kepada anak yatim dan kaum dhuafa sebagai simbol solidaritas sosial.

2. Garebeg Gunungan di Yogyakarta

Diselenggarakan secara megah oleh Keraton Yogyakarta, tradisi ini memamerkan sejumlah gunungan raksasa yang tersusun dari aneka hasil bumi, sayuran, buah, hingga jajanan pasar. Gunungan ini akan diarak dari kompleks keraton menuju Masjid Gede Kauman dengan kawalan ketat prajurit berbusana adat. Usai didoakan, masyarakat akan berebut isi gunungan yang dipercaya membawa berkah kesuburan dan rezeki.

3. Manten Sapi di Pasuruan

Keunikan tersendiri tampak di Desa Wates Tani, Pasuruan, Jawa Timur. Sehari sebelum disembelih, sapi-sapi kurban akan dimandikan hingga bersih layaknya pengantin (manten). Tubuh sapi kemudian didandani dengan kalung bunga tujuh rupa, dibalut kain kafan putih, sorban, serta sajadah. Kain kafan tersebut melambangkan kesucian niat orang yang berkurban. Sapi-sapi ini lalu diarak keliling desa menuju masjid diiringi kumandang selawat dan takbir.

4. Apitan di Semarang

Diwariskan dari kebiasaan zaman Wali Songo, tradisi apitan digelar warga Semarang sebagai representasi rasa syukur atas kelimpahan sektor tani dan ternak. Rangkaian acara dimeriahkan dengan arak-arakan gunungan hasil bumi mengitari wilayah kampung yang dipadukan dengan pertunjukan seni lokal yang dinamis, seperti tarian kuda lumping dari kelompok Turonggo Seto.  

5. Nganggung di Bangka Belitung

Tradisi ini mengakar pada filosofi hidup masyarakat Melayu Bangka yang bertajuk sepintu sedulang. Setiap kepala keluarga akan berbondong-bondong membawa sebuah dulang (talam kuningan/kayu) berisi nasi, lauk-pauk, dan kue tradisional menuju masjid dengan cara dijunjung di atas bahu. Di dalam masjid, makanan di dalam dulang yang ditutup tudung saji anyaman pandan ini akan saling dipertukarkan untuk disantap bersama demi mempererat tali persaudaraan.

6. Mepe Kasur di Banyuwangi

Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, menyambut Iduladha dengan menggelar ritual mepe kasur(menjemur kasur) secara massal di depan rumah masing-masing sejak pagi hingga sore. Kasur yang dijemur memiliki corak khas kombinasi warna merah (simbol keberanian) dan hitam (simbol kelanggengan). Didahului dengan pementasan Tari Gandrung, tradisi bersih-bersih ini diyakini sebagai tolak bala dan upaya menjaga keharmonisan rumah tangga.

7. Ngejot di Bali

Menjadi potret paling benderang dari toleransi beragama di tanah air, tradisi ngejot (berarti memberi) di Bali dilakukan dengan cara mengantarkan makanan, kue, dan buah-buahan kepada tetangga yang berbeda keyakinan. Umat Muslim di Bali akan mengantarkan hidangan halal kepada tetangga yang beragama Hindu, begitu pula sebaliknya saat perayaan hari besar Hindu. Tradisi yang bertahan ratusan tahun ini menjadi pilar perawat perdamaian di tengah kemajemukan.

[RWT] 



Berita Lainnya