Opini

Korean Wave dan Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Korea Selatan 

Oleh: Muhammad Rafli Lubis (Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia)

Indonesia dan Korea Selatan sudah sejak lama melakukan kerja sama yang baik pada tahun 1966. Kerja sama bilateral ini sudah saling memberikan dampak baik bagi kedua negara tersebut hingga saat ini. Kedua negara tersebut saling bekerja sama dalam melengkapi aspek yang diperlukan oleh keduanya. Hal ini terlihat bahwa Indonesia membutuhkan modal atau investasi dari Korea Selatan dalam mengembangkan perekonomiannya, sebaliknya Korea Selatan sangat membutuhkan peranan Indonesia dalam memenuhi aspek sumber daya alam dan mineral, serta pasar Indonesia yang sangat besar. 

Bukti dari baiknya hubungan Indonesia dan Korea Selatan dilihat ketika kedua negara tersebut menyepakati the Joint Declaration on Strategic Partnership to Promote Friendship and Cooperation in the 21st Century pada Desember 2006 di Jakarta. Kerja sama ini membuat Indonesia dan Korea Selatan akan menjadi patner yang lebih dekat untuk memajukan kedua negara tersebut khususnya dalam bidang perekonomian. 

Baca juga:  Rasisme dalam Kemajuan Globalisasi: Bercermin dari Kematian George Floyd dan Anti-Asia di Tengah Pandemi

Selanjutnya, kerja sama ini pun saling menguntungkan bagi kedua belah pihak tersebut. Korea Selatan dikenal dengan gaya diplomasinya yang soft power membuat Korea Selatan dapat dikenal di dunia Internasional melalui budayanya, sehingga dapat meningkatkan perekonomian negara dan mencapai kepentingan tujuan nasionalnya khususnya di Indonesia. 

Budaya Korea Selatan selalu menjadi trend  bagi masyarakat Indonesia khususnya pada kelompok ibu-ibu dan remaja. Hal ini mengacu pada fenomena Hallyu yang sangat berpengaruh pada sebuah kerja sama Korea Selatan denga negara lainnya. Hallyu merupakan arus gelombang budaya Korea Selatan yang meningkat di dunia Internasional yang begitu populer secara luas. 

Budaya Korea tersebar di Indonesia berawal dari drama Korea yang sangat laris dan digemari oleh masyarakat Indonesia, sehingga hal ini dapat mempengaruhi perekonomian Korea Selatan dalam industri film drama. Besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap kebudayaan Korea Selatan menjadi sebuah peluang untuk melancarkan kerja sama lainnya terhadap Indonesia, apalagi Indonesia dikenal memiliki pasar yang cukup besar untuk mengundang para investor-investor Korea Selatan untuk berinvestasi di Indonesia.

Selanjutnya, di masa pandemi COVID-19 ini menjadikan drama Korea Selatan menjadi sajian tayangan yang menarik menemani masa karantina masyarakat Indonesia, terutama terhadap remaja-remaja Indonesia yang menggemari aktor-aktor yang berperan di dalamnya. Sehingga hal ini dapat dimanfaatkan oleh Korea Selatan untuk menjadikan para aktor sebagai ikon, mendistribusikan produk-produk kosmetik dan elektronik sebagai upaya meningkatkan perekonomian mereka. Hal ini juga dapat menjadi peluang juga bagi Indonesia memperbaiki perekonomian mereka yang turun di masa pandemi COVID-19, akibat kegiatan kerja sama ekspor dan impor yang  sementara waktu dihentikan. 

Era globalisasi seperti ini juga menjadi sebuah peluang yang dapat mendorong aktivitas kapitalis yang semakin meluas. Fenomena booming-nya budaya Korea Selatan di Indonesia memperlihatkan bagaimana Korea Selatan melebarkan sayapnya, dengan memanfaatkan globalisasi dalam menghidupkan perekonomian mereka dengan Indonesia. Tercatat pada tahun 2011, Korea Selatan mengalami peningkatan perekonomian yang cukup pesat yaitu sebesar USD 73,3 milyar dengan dibantu peran pemerintah yang menjadi pendorong diplomasi dan juga media sebagai penyalur untuk dapat mempromosikan budaya mereka. 

Indonesia sendiri dapat memanfaatkan era globalisasi yang sama dengan Korea Selatan, melihat seperti Agnes Monica yang telah go International sebagai seorang penyanyi, namun pada kenyataanya musik Indonesia kurang mendapatkan dukungan sehingga Indonesia dan Korea Selatan melakukan kerja sama dalam industri kreatif untuk menumbuhkan perekonomian mereka. Oleh karena itu, kerjasama yang dilakukan ini berdampak bagi Indonesia sendiri, dimana hal ini sebagai batu loncatan untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki Indonesia seperti memajukan industri film Indonesia, fashion, pendidikan , dan teknologi.

Baca juga:  Rasisme Menggerus Nilai Sportivitas dalam Dunia Olahraga

Contoh lain dari kerja sama ini yaitu dengan diputarnya film Indonesia di Korea Selatan. Para penduduk Korea Selatan pun terlihat antusias mengenali Indonesia. Hal ini terlihat banyaknya para youtuber Korea Selatan yang mengangkat budaya Indonesia. Oleh karena itu, dapat membangun potensi kedua tersebut untuk mendongkrak perekonomian mereka dari sektor budaya dengan diplomasi publik.

Sayangnya, diplomasi publik Korea Selatan juga tidak selalu berjalan mulus di Indonesia, ada sebagian kelompok juga menolak hal ini karena dianggap dapat mempengaruhi nasionalisme anak bangsa. Hal ini dapat dilihat di kota-kota besar yang ada di Indonesia yang hampir mengubah setengah gaya hidup mereka menjadi budaya Korea karena terinspirasi dari aktor favorit mereka. Puncak dari hal ini terjadi di tahun 2012 dengan bermunculannya boyband dan girlband versi Indonesia yang mengikuti budaya Korea Selatan. Oleh karena itu, hal ini membuat munculnya anggapan-anggapan negatif terhadap Korea Selatan.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close