Kaltim
Kritis Tinggal Satu Ekor di Alam Liar, Badak Pari Mahulu Segera Dievakuasi Lewat Udara
BALIKPAPAN, Kaltimtoday.co - Upaya penyelamatan badak sub-spesies Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) memasuki tahapan paling krusial. Dalam Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu Tingkat Provinsi yang digelar di Balikpapan pada Senin (8/6/2026), pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan menyepakati percepatan translokasi (pemindahan) Pari Mahulu, individu badak betina terakhir yang saat ini masih hidup bebas di alam liar Kalimantan.
Rapat koordinasi yang dipimpin oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur tersebut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kaltim, akademisi, unsur TNI-Polri, Dewan Adat Dayak Kaltim, serta sejumlah organisasi lingkungan seperti WWF, Jatam Kaltim, dan Walhi Kaltim.
Saat ini, populasi Badak Kalimantan tercatat hanya menyisakan dua individu yang masih hidup. Satu individu bernama Pahu telah berada di bawah pengawasan penuh di dalam kawasan konservasi Suaka Badak Kelian. Sementara itu, satu-satunya individu yang masih bertahan di habitat alaminya di pedalaman Kabupaten Mahakam Ulu adalah Pari Mahulu.
Kepala BKSDA Kaltim, Ari Wibawanto, menegaskan bahwa seluruh elemen yang hadir dalam rakor tersebut sepakat bahwa proses penyelamatan darurat harus segera dieksekusi mengingat kondisi populasi badak yang sudah berada di titik kritis menuju kepunahan.
“Semua pihak cukup paham bahwa upaya penyelamatan itu harus segera dilakukan. Yang perlu kita detailkan adalah bagaimana penyelamatan itu bisa memberikan hasil yang bermanfaat bagi badaknya maupun bagi manusia,” ujar Ari setelah menghadiri rakor pada Selasa (9/6/2026).
Selain merancang skenario evakuasi satwa, rakor tersebut juga meluruskan isu terkait nasib kawasan hutan yang selama ini menjadi jelajah Pari Mahulu. Ari memastikan bahwa habitat asli badak di Mahakam Ulu akan tetap dipertahankan dan diusulkan kepada pemerintah pusat untuk menjadi areal preservasi yang dilindungi secara ketat.
“Habitatnya tidak hilang seperti isu yang beredar. Kami sepakat habitat itu tetap dijaga. Harapannya nanti ketika penyelamatan berhasil dan badaknya berkembang biak, ada lokasi untuk pelepasliaran kembali,” kata Ari meluruskan.
Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Budi Mulyanto, menambahkan bahwa dukungan dari pemerintah provinsi sangat vital untuk memperkuat legitimasi operasi ini. Mengingat Pari Mahulu adalah benteng genetik terakhir di alam bebas, langkah komprehensif mutlak diperlukan agar proses pengembangbiakan ke depan dapat berjalan.
Melalui translokasi ke Suaka Badak Kelian, Pari Mahulu nantinya akan dipersiapkan untuk masuk ke dalam program pengembangbiakan berbasis Teknologi Reproduksi Berbantuan (Assisted Reproductive Technology/ART) guna menyelamatkan materi genetik badak Kalimantan yang tersisa.
Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu, Kurnia Oktavia Khairani, memaparkan bahwa persiapan infrastruktur di Suaka Badak Kelian sudah berjalan signifikan. Tim lapangan tengah merampungkan pembangunan boma atau kandang karantina yang akan digunakan Pari Mahulu selama tiga bulan pertama masa adaptasi, serta mendirikan paddock (kandang eksklosur) baru.
Untuk meminimalkan tingkat stres, risiko cedera, dan mempercepat waktu evakuasi dari pedalaman Mahakam Ulu menuju kawasan konservasi, tim sepakat akan memindahkan badak tersebut melalui jalur udara.
"Karena translokasi ini akan menggunakan jalur udara, kami sedang menyiapkan helikopter yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang dibutuhkan. Saat ini proses pemilihan vendor juga berjalan karena seluruh aspek administrasi harus dipastikan memenuhi ketentuan yang berlaku," jelas Kurnia.
Hingga saat ini, tim lapangan, dokter hewan, dan tim penangkap masih rutin melakukan survei serta pemantauan pergerakan Pari Mahulu di habitat aslinya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan posisi satwa tetap berada di area pantauan sebelum tahap akhir berupa pemasangan perangkap penangkap (pit trap) resmi dilakukan.
Dukungan penuh juga dideklarasikan oleh masyarakat lokal. Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur, Victor Juan, menyatakan bahwa penyelamatan satwa endemik ini bernilai sakral dan paralel dengan semangat masyarakat adat dalam menjaga kelestarian hutan serta keseimbangan ekosistem di sekitarnya.
“Harapan kami hutan tetap terjaga, tetap lestari, dan keseimbangan alam bisa dipertahankan. Karena penyelamatan badak ini juga berkaitan dengan perlindungan kawasan konservasi di sekitarnya,” tutur Victor.
[TOS]
Related Posts
- Iran’s soccer team arrives in Mexico for training ahead of the World Cup
- Gempa di Filipina M 7,7 Berpotensi Tsunami, BMKG Tetapkan Berau, Bontang, dan Kutim di Kaltim Status Waspada!
- Korupsi Receh dengan Teknik Cemen ala Dadan dan Silmy
- Warga Samarinda Tewas di Lubang Tambang PT ECI, Korban di Kaltim Bertambah Jadi 53 Orang
- Kawal Transparansi Pendidikan, Ombudsman Kaltim Buka Posko Pengaduan SPMB dan PMBM Ajaran 2026/2027









