Opini

Lunturnya Pendidikan Karakter Selama Pandemi

Oleh: Mohammad Makmun Qomar, M.Pd. (Guru SMP Negeri 12 Samarinda)

Problematika pendidikan di Indonesia penuh aneka warna. Selagi manusia di Indonesia masih bersekolah berarti problematika pasti akan muncul kepermukaan. Problematika yang terbesar yang dihadapi pendidikan Indonesia adalah terjangan Covid-19. Kesadaran menghentak ketika pembelajaran tidak bisa dilakukan di ruang kelas, dilarang dilakukan di sekolah. Pemerintah gagap karena selama ini tidak menyiapkan kurikulum darurat. Sehingga apa yang harus dilakukan guru kepada peserta didiknya, memerlukan pembicaraan, kajian panjang agar dapat merumuskan yang terbaik strategi pembelajaran pindah dari sekolah ke rumah, school from home (sekolah dari rumah).

Dari sekian tantangan saat pandemi ini yang terberat adalah strategi pembelajaran pendidikan karakter. Guru yang biasanya menjadi role model yang langsung dapat memberi contoh dengan bahasa tubuh dan bahasa lisannya, sekarang tidak ada di hadapan peserta didik. Strategi seperti apa yang harus dilakukan agar tetap efektif dan efesien mencapai tujuan pendidikan.

Baca juga:  Law Enforcement Berstigmakan Extra Judicial Killing?

Menelisik isi Surat Edaran Nomor 4/2020 Mendikbud itu antara lain menyatakan bahwa belajar dari rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19. Kata-kata penting surat edaran tersebut dapat disimpulkan saat pandemi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memberikan pengalaman bermakna, tidak terbebani pencapaian kurikulum dan fokus pada pendidikan kecakapan hidup.

Pembelajaran memang harus bermakna (meaningfull learning) bagi peserta didik. Peserta didik harus memahami keadaan yang sedang dialami sekarang. Mengapa pembelajaran harus dari rumah , mengapa tidak di sekolah seperti biasanya. Peserta didik harus mampu mengaitkan keadaan situasi pandemi dengan bahaya belajar di sekolah. Konsep harus dibangun secara mandiri dengan mengabungkan beberapa fakta yang terjadi sehingga peserta didik dapat bersikap yang benar saat pandemi ini masih mewabah.

Pada saat keadaan normal, sekolah harus mengakui secara terbuka bahwa pendidikan karakter sangat sulit bisa diaplikasi nyata dalam kehidupan di tengah masyarakat. Di sekolah diajari kebaikan, norma sopan santun, peduli, religius, kerja sama dan lain sebagainya, apakah semua diaplikasikan dimasyarakat. Banyak kendala agar bisa lolos dari jeratan godaan di luar pintu sekolah.

Sekolah mendidik karakter begitu semangatnya tetapi keluar pintu sekolah pendidikan karakter ambyar berkeping-keping. Bagaimana medsos, tv, internet dan lain sebagiainya sangat gencar dengan berita yang kadang kala masih harus diolah dulu baru jadi kebenaran. Kelemahan menyaring berita akhirnya menjadi malapetaka. Disisi lain bagaimana propagandakan bucin. Artis-artis dikejar-kejar pertanyaan siapa pacarnya, siapa saja mantan pacarnya. Bagaimana orang-orang kaya terkenal itu mempertontonkan mobil, asesoris diri, rumah mewahnya saat masyarakat terjepit ekonomi. Karakter apa yang dipelajari anak-anak kita. Siapa yang akan jadi pemenang sekolah ataukah dunia lain itu. Mau dikemanakan pendidikan karakter kita.

Kemampuan setiap peserta didik berbeda-beda. Peserta didik dilahirkan mempunyai keunikan masing-masing, sehingga kemampuan merangkai informasi hasilnya setiap individu berbeda. Peserta didik harus belajar bertanggungjawab terhadap tujuan belajarnya. Pembelajaran merangkai fakta, informasi. Peserta didik belajar bertanggungjawab secara mandiri perlu guide, pembimbing agar tidak terpeleset dalam kondisi yang membahayakan. Inilah peran guru harus tetap berada di samping peserta didik dengan metode pembelajaran yang tidak seperti biasanya.

Belajar seperti yang telah difahami selama ini adalah proses perubahan tingkah laku, baik yang berupa pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Proses belajar yang baik adalah secara sadar dan tulus peserta didik menerima perlakuan, masukan, yang berupa pengetahuan, sikap dan ketrampilan  baik dari guru, pembimbing, orang tua, dan lingkungannya.

Saat pandemi seperti sekarang ini peran guru tidak bisa disamakan dengan kondisi masih normal dahulu. Jarak antara guru dan peserta didik jauh. Pendekatan dalam melakukan perannya akhirnya juga berbeda. Proses pembelajaran, evaluasi, umpan balik, penguatan memerlukan waktu jeda bahkan kadang lost antara guru dengan peserta didik.

Baca juga:  Sekolah Kembali Dibuka, Bijakkah?

Kondisi saat ini, guru tidak punya kekuatan untuk memaksa peserta didik untuk hadir disetiap proses pembelajaran. Kendala fasilitas masing-masing peserta didik berbeda beda. Handphone tidak ada, kuota habis, jaringan tidak lancar, listrik mati. Kendala ini harus difahami oleh guru. Guru harus bisa menafsirkan kemampuan peserta didik, jangan sampai memberi tugas seperti saat keadaan normal. Hal ini karena yang mendampingi peserta didik di rumah adalah orang tua yang kadang kala kemampunnya lemah.

Peserta didik saat pandemi ini sudah jenuh terkurung di rumah. Beban pembelajaran dengan aplikasi internet sudah melelahkan. Tugas setiap mata pelajaran juga berjibun menumpuk, apalagi tugas yang tanpa toleransi harus dikumpul hari ini juga. Keadaan peserta didik psykologisnya sangat tertekan. Hal ini kalau tidak disadari oleh pendidik sangat bahaya bagi perkembangan peserta didiknya. Kekuatan masing-masing pribadi peserta didik untuk menyelesaikan beban tugas sangat berbeda-beda. Karakter personal peserta didik harus difahami oleh para pengajar. Apalagi saat pandemi seperti ini.

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang sangat penting di pelajari peserta didik. Pandemi ini guru banyak yang hanya fokus pada materi tuntutan kurikulum. Hampir kalau dicermati hanya sedikit porsi pendidikan karakter yang bisa disentuhkan kepada peserta didik. Sesuai kompetensi inti dari kurikulum 2013 seperti memiliki sifat relijius, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, toleransi, gotong royong, santun, percaya diri, dll. Guru harus dapat melakukan inovasi pendekatan agar pendidikan karakter tetap dapat diberikan kepada peserta didik.

Pendidikan karakter adalah pendidikan global yang dapat bersumber dari kearifan lokal. Kearifan lokal dapat dikembangkan menjadi materi pendidikan karakter. Peserta didik harus mempunyai kebangaan pada kearifan lokal dimana dia lahir dan dibesarkan. Karakter lokal yang dapat dikembangkan saat mereka nanti menjadi pengguni dunia global.

Saat pandemi ini, banyak para guru menjadi youtuber. Materi pembelajarannya disampaikan melalui chanel youtube. Sangat kreatif dan layak mendapat apresiasi karena selama ini, guru sedikit sekali yang memberikan ilmunya melalui aplikasi tersebut.

Beberapa tanyangan materi pembelajaran di chanel youtube oleh beberapa guru, beliau fokus pada materi pelajaran saja. Pendidikan karakter hanya simpul kecil yang mungkin itupun hanya merupakan kebiasaan saja. Guru misalnya mengucapkan salam, hal tersebut karena memang sudah biasa kalau bertemu dengan orang dengan salam, nilainya tidak lebih.

Analisis beberapa tayangan youtube tentang conten guru mengajar berisi: Pembuka, menyampaikan tujuan, materi pelajaran, penutup.  Guru-guru youtuber tersebut tidak berusaha menyampaikan cerita motivasi kehidupan, tidak menanyakan kegiatan positif apa yang sudah dilakukan pagi ini. Apakah sholatnya berjamaah dengan orang tuanya. Bagaimana dengan mengajinya. Apakah sudah membantu ibu dan bapak. Apakah membantu saudara-saudaranya. Apakah bajunya dicuci dan disetelika sendiri. Dan serentetan pertanyaan lain yang dapat mengajak peserta didik mengembangkan karakter dirinya. Pertanyaan-pertanyaan sepele tetapi dapat menggugah kesadaran berpikir peserta didik.

Pertanyaan pertanyaan sepele yang mungkin sudah biasa dilakukan oleh peserta didik di rumah adalah sebagai bentuk perhatian, bimbingan, penguatan guru dalam pembentukan karakter peserta didik. Bagi peserta didik yang hidupnya kaya mungkin pertanyaan sederhana tentang apakah bajunya disetelika sendiri, bisa membuat terkejut. Hal ini karena selama ini baju sudah setelikan tinggal mengambil di lemari. Dia tidak akan mampu memberikan penjelasan tentang proses baju itu tersusun rapi di lemarinya. Akan sangat berbeda jawabanya bagi peserta didik dari keluarga menengah ataupun bawah yang biasa di didik dengan kemandirian karena memang tidak ada asisten keluarga. Peserta didik yang biasa didik mandiri orang tuanya diajarkan bagaimana cara menyelesaikan kebutuhan pribadinya.

Peserta didik yang biasa bangun siang. Ketika guru menanyakan sebutkan lima perbuatan positif yang sudah dilakukan pagi ini. Peserta didik yang jujur, tentu akan kesulitan memberikan jawaban. Sebaliknya bagi peserta didik yang biasa sholat shubuh berjamaah, mengaji dan dilanjutkan membantu orang tuanya misal membantu mencuci piring, mencuci baju, membersihkan rumah, membangunkan adiknya dan lain-lain. Dia akan mudah menjawab pertanyaan gurunya. Pendidikan karakter dapat dimulai dari perhatian guru kepada peserta didiknya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan setiap hari. Sehingga peserta didik akan terbiasa melakukan kebaikan-kebaikan membantu orang tuanya di rumah.

Dimensi pendidikan karakter tidak cukup guru dengan peserta didik saja. Orang tua harus terlibat aktif. Guru dapat meminta wali murid untuk memberikan umpan balik yang telah dilakukan oleh peserta didik mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Sehingga wali murid mengisi umpan balik balik atau pertanyaan dari gurunya setelah sholat isya’ misalnya. Metode umpan balik orang tua yang mengamati anaknya yang diserahkan ke gurunya dapat melalui banyak cara. Agar metode ini lebih mudah guru dapat mengirim pertanyaan ke wali murid dengan google clasroom. Wali murid menerima link-nya dan menjawab. Sangat simpel dan guru dapat memberikan evaluasi ke wali murid secara periodik. Agar metode ini lebih menarik, sekolah dapat memberikan apresiasi kepada wali murid teraktif yang telah memberikan umpan balik tersebut. Apresiasi ini dapat dilakukan satu bulan atau setengah bulan sekali.

Baca juga:  Akselerasi Reformasi Birokrasi dalam Tatanan Adaptasi Kebiasaan Baru

Pemberian apresiasi sekolah kepada wali murid yang telah memberikan jawaban jujur dan tertib tentang kondisi anak-anaknya bertujuan saling bertanggungjawab terhadap perkembangan karakter anak-anaknya. Waktu pemberian apresiasi harus tertib dan diusahakan satu semester jangan sekali. Hal ini bertujuan agar wali murid juga berlomba-lomba memberikan umpan balik yang terbaik bagi anak-anaknya. Sehingga kalau hal ini dilakukan dengan semangat, disiplin, jujur maka kekuatiran terhadap pendidikan karakter luntur di masa pendemi dapat terbantahkan.

Langkah sederhana tersebut apabila dilakukan dengan terbuka, konsisten, disiplin akan memberikan solusi pembelajaran karakter ketika pandemi. Hasilnya memang perlu pengkajian lebih dalam. Ada kelemahan metode tersebut ketika integritas orang tua rendah. Jawaban orang tua tentang prilaku anak di rumah semua di jawab melakukan dengan sangat baik. Hal ini dilakukan orang tua karena hanya ingin mengejar apresiasi dari sekolah. Side effects tidak terpikirkan. Ini akan menjadi bumerang bagi wali murid di suatu hari nanti.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close