Opini

Rekayasa Rencana Pembelajaran, Haruskah?

Oleh: Abd. Wahab Syahrani, M.Pd (Ketua JSIT Kaltim)

Beberapa hari lalu saya dapat telepon melalui seluler dari seorang praktisi pendidikan di Samarinda, bincang-bincang ringan, ternyata beliau sekedar mengajak sharing seputar bagaimana kira-kira proses pembelajaran di tahun ajaran 2020/2021 nanti.

Sudah kurang lebih 3 bulan pandemi Covid-19 ini mewabah di negeri kita, tidak terkecuali di Bumi Etam, Kalimantan Timur. Semua sektor kehidupan termasuk dunia pendidikan mengalami “guncangan proses”, khususnya pendidikan dasar dan menengah, mulai dari UNBK yang batal, perpisahan siswa yang dinanti-nantikan tidak kunjung terlaksana, Penilaian Tengah Semester dan akhirnya sebagai penutup agenda akhir tahun, penilaian akhir semester pun dilaksanakan dengan metode online. Ada yang siap, ada yang kaget, ada yang shock berat, bahkan tidak sedikit anak-anak kita mengalami kejenuhan sampai pada tingkat depresi akhirnya melakukan hal-hal yang tidak produktif.

Baca juga:  Aliansi Vaksin dan Imunisasi Global Dapat Bantuan Dana US$ 8,8 Miliar untuk Covid-19

Dalam sebuah kegiatan Sosialisasi Dampak Psikologis COVID-19 dan Cara Mengatasinya, beberapa permasalahan yang muncul di masyarakat adalah gangguan emosional yang muncul atau permasalahan psikologis yang terkait dengan pandemi COVID-19 di antaranya kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, stress yang disebabkan karena terlalu lama di rumah, terkena PHK/dirumahkan, konflik keluarga dan sebagainya. (Listya Istiningtyas, M.Psi., Psi)

Beberapa waktu kedepan kita akan menyambut TA baru, terlepas dari apakah akan tetap dilakukan 13 Juli 2020 atau akan diundur sampai awal Januari 2021. Namun yang pasti sabagai praktisi pendidikan, kita perlu membuat rencana atau lagkah antisipatif agar pada saat kegiatan KBM dijalankan secara online atau pun offline, dapat berjalan sebagaimana mestinya. Terlebih ketika aktifitas KBM nanti harus berjalan online, saya fikir tidak hanya bagaimana agar jaringan lancar, pihak guru, siswa dan orangtua akrab dengan model ini, tetapi juga konten dan bahan ajar yang kita sampaikan.

SKL yang yang sudah ada perlu penyesuaian, karena tentu pencapaian target kurikulum akan berbeda antara konten yang kita sampaikan secara tatap muka tetapi harus di sampaikan secara jarak jauh (offline). Hal inilah yang saya maksud perlu rekayasa rencana pembelajaran di kelas. Sehingga tidak terkesan memaksakan harus semua tercapai. Mengingat kondisi-kondisi yang saya paparkan di atas harus juga menjadi bahan pertimbangan oleh semua pemangku kebijakan di satuan pendidikan, agar semua dapat berjalan.

Baca juga:  Belum Selesai Covid-19, WHO Ingatkan Ancaman Wabah Ebola

Terkait dengan akan tiba nya TA 2020/2021 saya berharap agar pemerintah perlu mempertimbangkan kesiapan sekolah hubungannya dengan pelaksanaan protokoler kesehatan dan peluang terjadinya interaksi antar siswa, guru dan semua civitas akademika. Terlebih sekolah yang menyelenggarakan pendidikan dalam konsep fullday school dan asrama (Boarding School), ini perlu kajian yang lebih mendalam, agar tidak menimbulkan kasus-kasus baru, naudzubillah. Artinya kalaupun akhirnya kebijakan sekolah mengaktifkan siswa dalam kondisi yang belum stabil ini, masalah durasi KBM di sekolah pun harus dipertimbangkan agar mengurangi masa interaksi antar individu. Setelah semua upaya ini kita lakukan, selebihnya kita serahkan kepada Allah, seraya berdoa semoga wabah ini segera berlalu. Wallahu musta’aan.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close