HeadlineKubar
Trending

Ribuan Ikan Sungai Perak di Kubar Mati Mendadak, Diduga Akibat Limbah Tambang dan Sawit

DLH Kubar Masih Melakukan Uji Laboratorium

Kaltimtoday.co, Sendawar – Memasuki musim penghujan rupanya tidak membuat semua masyarakat merasakan hal yang sama. Seperti yang dialami masyarakat Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) yang justru mengalami derita. Penyebabnya aliran Sungai Perak yang merupakan anak Sungai Kedang Pahu dan bermuara ke Sungai Mahakam, tak lagi bisa digunakan sebagaimana biasanya.

Hal itu karena puluhan ribu jenis ikan berbeda yang mati secara mendadak di aliran sungai tersebut. Pasalnya tidak hanya ikan. Namun ribuan udang, bidawang alias labi-labi, dan berbagai jenis hewan sungai juga mengalami nasib serupa.

Baca juga:  5 Jam Pencarian, 3 Siswa DHBS Semua Ditemukan Meninggal Dunia

Kepada awak media, Ketua Badan Permusyawaratan Kampung (BPK) Permai Kecamatan Damai Dones Husein saat dikonfirmasi menuturkan, jika peristiwa itu diduga akibat limbah pabrik yang berada di sekitar kampung. Diketahui jika ada dua perushaan yang berada di sana, yakni perusahaan tambang batu bara dan perushaan perkebunan sawit.

“Ini bukan yang pertama. Sudah pernah terjadi 2015 lalu,” ungkapnya.

Adapun peristiwa terbaru ini terjadi pada Kamis 21 November 2019, sekira pukul 07.00 Wita. Meski begitu, Dones sudah berulang kalo melaporkannya peristiwa tersebut ke pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum. Tapi sama sekali tidak ada penanganan serius yang dilakukan para pemangku kewenangan.

“Biasanya kalau sudah musim hujan ya begini. Sedangkan kalau kemarau baik-baik saja,” imbuhnya.

Dari hasil temuannya bersama warga yang lain, Dones memperkirakan sekitar 10.000 ekor ikan dari berbagi jenis mati di sepanjang aliran sungai. Peristiwa itu sangat membuat warga was-was. Sebab di bagian hulu sungai, ada 90 persen warga yang menggantungkan kebutuhan hidupnya pada aliran air tersebut. Sungai yang tercemar membuat masyarakat takut mengkonsumsi air atau ikan. Mereka terpaksa harus merogoh kocek untuk membeli bahan baku air bersih layak konsumsi, senilai Rp 7.500 per 20 liter.

“Untuk kebutuhan lainnya seperti mandi dan cucian kami masih menggunakan air sungai,” imbuhnya.

Sedangkan desa yang terdampak akibat peristiwa ini ialah Desa Permai tempat Dones bermukim dan Desa Besi yang merupakan tetangganya. Kendati demikian, Dones masih bersyukur karena sampai saat ini ia belum menemukan masyarakat yang terdampak kesehatannya akibat pencemaran yang tak kunjung mendapatkan penanganan serius dari pihak pemerintah setempat.

“Cuma kepada tuhan yang belum saya laporkan,” keluhnya.

Dengan tegas Dones berharap agar pemerintah daerah maupun pihak berwajib jangan sampai diam dan seolah-olah menutup mata. Karena saat ini, ribuan penduduk kampung dari dua desa yang terdampak sekitar 40 persennya menggantungkan mata pencahariannya sebagai nelayan.

“Jangan mentang-mentang ini perusahaan besar,” tegasnya.

Baca juga:  Jembatan Mahakam Rawan Ambruk, LPJK Kaltim: Mestinya Pemerintah Lakukan Pengawasan Ketat

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kubar Ali Sadikin saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya telah turun ke lapangan dan sedang mengumpulkan sejumlah sampel untuk dilakukan uji laboratorium.

“Selain ambil sampling airnya, juga membawa ikannya untuk di uji. Jadi airnya kita ambil dibeberapa titik. Minimal lima lah di lokasi berbeda,” ucapnya.

Ali belum bisa memastikan apakah peristiwa matinya puluhan ribu binatang penghuni Sungai Perak karena pencemaran limbah pabrik. Karena bisa saja hal itu dikarenakan faktor alam lainnya seperti erosi tinggi misalnya.

Jika hasil uji lab telah keluar. Kedepannya maka mudah untuk mengetahui penyebab matinya puluhan ribu binatang di sungai tersebut. Kalau misalnya dikarenakan kegiatan tambang, kata Ali, itu ada parameter. Begitu pun jika dari kegiatan perkebunan sawit.

“Untuk sekarang saya minta maaf kita harus bersabar dulu. Karena tim masih dilapangan untuk sampling dan setelahnya kita tunggu hasil uji lab,” pungkasnya.

[JRO | TOS]

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Back to top button
Close