Kukar

Sekdes Bhuana Jaya Budidaya Lebah Kelulut Sejak 2012, Jadi Wadah Eko-Eduwisata

Kaltimtoday.co, Tenggarong — Madu kelulut memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan. Diantaranya menyembuhkan luka, mengatasi peradangan, menangkal radiasi bebas dan mencegah penyakit kronis.

Sebelum budidaya madu kelulut menjamur seperti saat ini. Pada 2012 lalu, seorang warga bersama Suwondo yang kini menjabat Sekretaris Desa Bhuana Jaya telah lebih dulu membudidayakannya.

Baca juga:  Perubahan Perda PT MGRM, Pansus DPRD Kukar Minta Perusahan Berdayakan Tenaga Kerja Lokal

Berbekal pengetahuan yang dilihat melalui browsing tutorial budidaya di Malasyia, Brunei Darussalam dan Thailand. Setelah 10 tahun mengembangkan, kini Suwando telah memiliki sekitar 70 koloni madu kelulut atau lanceng. Tersebar di halaman rumahnya terletak di RT 3  dan juga RT 2. Kemudian dijadikan wadah tempat eko-eduwisata lebah trigona.

“Sejak 2012 lalu, mungkin menjadi pionir karena saat itu belum booming tutorial budidaya di YouTube belum banyak, baru sedikit. Bahkan di lokal belum ada,” kata Sawondo saat dikunjungi Kabid Pengelolaan Komunikasi Publik Diskominfo Kukar, Ahmad Rianto pada Sabtu (21/5/2022).

Dia juga telah membentuk beberapa komunitas yang tersebar di Kecamatan Tenggarong Seberang dan Sebulu. Di Bhuana Jaya, rata-rata masyarakatnya sudah punya satu koloni lebah madu kelulut untuk dikonsumsi sendiri. Apalagi perawatannya tidak terlalu sulit.

 

Sekretaris Desa Bhuana Jaya, Suwondo saat melihatkan madu kelulut kepada Kabid PKP Diskominfo Kukar, Ahmad Rianto. (Supri/Kaltimtoday.co).

Disamping itu, sejumlah desa pernah berkunjung ke Bhuana Jaya dalam rangka sharing cara budidaya. Baru-baru ini yang datang dari Desa Muara Siran Kecamatan Muara Kaman dan Desa Senyiur Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Bahkan menginap selama tiga hari.

Eko-Eduwisata ini dijadikan sejumlah Universitas di Kalimantan Timur dan pulau Jawa sebagai objek penelitian. Salah satunya Mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI).

“UI itu mengadakan penelitian terkait propolis dari lebah penghasil madu kelulut,” ungkapnya.

Baca juga:  Kemenag Kukar: Buka Puasa Bersama Boleh Dilakukan, Begini Isi Surat Edarannya

Lebah tidak menyengat semakin digemari masyarakat, karena masa panen terbilang cepat daripada lebah menyengat yang biasanya setahun sekali. Lebah Trigona Itama bisa sebulan sekali panen terutama di musim bunga.

Dalam sekali panen, madu yang dihasilkan mencapai 12 liter. Kemudian di jual melalui media sosial dan lewat website https://ladangternakankelulut.com/. Harga dipatok per mililiternya sebesar seribu.

“Kalau madu murni di jual satu liter dengan harga Rp 90 atau 100 ribu itu saya yakin costnya tidak akan dapat dan mungkin dapat madu yang ada campuran bahan lainnya,” tutupnya.

[SUP | NON | ADV DISKOMINFO KUKAR]

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker