Internasional
Suhu Bumi Terancam Lewati Ambang Batas 1,5 Derajat Celsius, PBB Peringatkan Risiko Bencana Ekstrem
Kaltimtoday.co - Badan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Environment Programme/UNEP) mengeluarkan peringatan serius mengenai proyeksi kenaikan suhu rata-rata global yang diperkirakan bakal melampaui ambang batas aman 1,5 derajat celsius di atas level praindustri dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi ini dinilai memicu eskalasi risiko bencana hidrometeorologi ekstrem, kerusakan ekosistem masif, hingga ancaman krisis kesehatan publik di berbagai belahan dunia.
Dalam laporan terbarunya, UNEP menekankan pentingnya komitmen seluruh negara untuk menekan kembali lonjakan suhu bumi agar berada di bawah ambang batas 1,5 derajat celsius pada akhir abad ini guna memitigasi dampak terburuk perubahan iklim.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan bahwa rentetan bencana alam belakangan ini telah menjadi bukti nyata memburuknya krisis lingkungan global. Guterres menyerukan langkah konkret dari para pemimpin dunia menjelang peringatan 10 tahun kesepakatan Perjanjian Paris (Paris Agreement) pada November 2026 mendatang.
"Dunia membutuhkan keberanian untuk melampaui batas ambisi kita," tegas Guterres, Selasa (2/9/2026).
Mengacu pada kebijakan pengendalian iklim global saat ini, laju pemanasan global diproyeksikan dapat menyentuh angka 2,6 derajat celsius pada 2100. Sekalipun target pengurangan emisi gas rumah kaca dan pencapaian emisi nol bersih (net zero emissions) terpenuhi, suhu global diperkirakan tetap naik sekitar 1,8 derajat celsius.
Dampak dari lonjakan suhu tersebut meliputi ancaman hilangnya ekosistem pulau-pulau kecil akibat kenaikan permukaan air laut, krisis ketahanan pangan, gangguan pasokan air bersih, serta kerusakan infrastruktur vital. Apabila laju pemanasan bumi menembus 3 derajat celsius, seperempat massa gletser dunia diprediksi mencair pada 2100, yang berpotensi memicu kenaikan muka air laut setinggi 9 hingga 13 sentimeter.
Pakar iklim dari University of Exeter, Profesor Richard Betts, memaparkan bahwa pemanasan bumi membuat anomali cuaca ekstrem—seperti bencana banjir bandang mematikan di perbatasan Nepal dan Tiongkok baru-baru ini—menjadi lebih sering terjadi dan semakin sulit diprediksi.
UNEP menggarisbawahi bahwa strategi teknologi penyerapan atau penghilangan karbon dioksida di atmosfer hanya berfungsi sebagai instrumen pelengkap. Langkah fundamental yang mutlak diimplementasikan tetaplah dekarbonisasi agresif melalui pemangkasan langsung emisi gas rumah kaca di sektor industri dan energi.
[RWT]
Related Posts
- WHO dan UNICEF Catat Cakupan Imunisasi Anak di Indonesia Meningkat
- China and Xi are seen more favorably than the US and Trump in many nations, new survey says
- Gandeng UN Women, Pemkot Banda Aceh Susun Rencana Aksi Iklim Responsif Gender
- Gelar Corporate Action Lab, UN Women dan Danantara Gandeng 15 BUMN Dorong Tempat Kerja Inklusif
- US begins new Iran strikes after Trump says ships will be charged to use the Strait of Hormuz









