HeadlineOpini

Tantangan Kurikulum Merdeka Belajar

Oleh: Mohammad Makmun Qomar, M.Pd (Guru SMP Negeri 12 Samarinda)

PERUBAHAN atau pergantian kurikulum menjadi keniscayaan yang harus dihadapi para guru. Perubahan global, peningkatan mutu lulusan, efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan pendidikan dan fenomena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan masyarakat yang semakin tinggi dan peningkatan profesionalisme guru adalah beberapa faktor yang mendorong perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum bagi guru adalah hal biasa karena memang sering terjadi. Apalagi saat Covid-19 mendera. Bukankah saat itu tiba-tiba muncul kurikulum darurat. 

Implementasi kurikulum tidak mudah. Unsur-unsur yang berada di dalamnya harus diperbaiki kalau ingin memaksimalkan output dari kurikulum tersebut. Di bawah ini adalah tantangan-tantangan yang dapat menghambat keberhasilan implementasi kurikulum merdeka

Guru

Perubahan kurikulum akan terasa mandul kalau mindset para guru tidak berubah. Guru masih mengajar dengan cara lama, merasa yang paling tahu dibandingkan dengan peserta didiknya. Metode mengajar ceramah tidak memberi kesempatan peserta didik bertukar pikiran. Penguasaan teknologi informatika sangat lemah sehingga untuk mencari ilmu atau informasi baru sangat lemah. Padahal dengan kemampuan mengoperasikan android, berselancar dengan google dan youtube, informasi pengetahuan cepat dan mudah didapat.

Saat ini sudah memasuki era revolusi industri. Tuntutan kepada guru semakin meningkat. Peserta didik sudah berbeda. Guru harus memahami kids zaman now. Mereka sudah terbiasa dengan teknologi informatika dan akan sangat aneh kalau gurunya masih old mindset. Guru harus menyadari bahwa peserta didiknya adalah anak anak milenial, yang mempunyai ketergantungan dengan teknologi informatika. Sehingga proses pembelajaran seorang guru harus penuh dengan terbiasa dan membiasakan diri berinovasi, berimprovisasi, serta berkreasi dalam pembelajaran.

Revolusi industri 4.0 memberikan pengaruh luar biasa dalam pendidikan. Zaman ini ditandai dengan betapa mudahnya mencari informasi dan sumber belajar sangat mudah diperoleh. Hal ini tidak serta merta terjadi disrupsi dalam pendidikan. Teknologi tidak mempunyai empati, tidak ada kepedulian, tidak mengajarkan karakter. Teknologi tidak dapat menggantikan peran guru sebagai uswah hasanah yang selalu menanamkan karakter ke arah perilaku yang lebih baik. Guru akan tetap menjadi trust menjadi pembelajaran lebih efektif. Peran guru harus menjadi sahabat para peserta didik dalam memilih dan memilah konten dalam media sosial, agar dapat diambil manfaatnya. Guru mempunyai tanggung jawab besar dalam keilmuan, akhlakul karimah, kedalaman spiritual dalam mengantarkan peserta didik mempengaruhi kehidupan masa depan.

Covid 19 telah mengajarkan akselerasi teknologi. Tidak terbayang guru dan peserta didik dapat belajar ditempat yang berbeda. Covid 19 telah memaksa guru untuk belajar teknologi informatika. Hasil dari pelaksanaan itu pembelajaran saat Covid 19 mendera bisa dilalui dengan tetap belajar, belajar tanpa batas, kapan dan dimana saja belajar. Kemampuan menyerap teknologi ini adalah salah satu warisan hebat saat pandemi Covid 19 yang harus terus dikembangkan dalam proses pembelajaran yang inovatif. 

Guru masa kini adalah guru yang mampu membuat modul pembelajaran yang dapat diakses secara online. Kemampuan guru dalam mengemas modul online dalam sebuah situs akan menjadikan jembatan pembelajaran blended learning, sebagai model pembelajaran inovatif. Pembelajaran yang menyenangkan dan menarik. Pembelajaran yang memadukan problem based learning dan project based learning. Hal ini dalam menyiapkan perubahan zaman yang cepat dan serba mendadak.

Baca juga:  Prasmanan, Belajar Mandiri Platform Merdeka Mengajar

Perubahan kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka banyak tawaran pelatihan, seminar, workshop gratis atau berbayar. Guru harus mengambil momen ini untuk meningkatkan kompetensinya. Tawaran kegiatan pengembangan diri memang banyak, guru harus bijak mengambil kesempatan pengembangan diri tersebut. Guru mengetahui pelatihan mana yang urgent yang harus diambil. Jangan semua diambil ujung-ujungnya tidak maksimal dan tidak selesai. Ambil yang paling penting lakukan ikuti secara maksimal sehingga harapan pelatihan tersebut dapat diraih. Pelatihan itu ibarat prasmanan ambil yang penting yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi. Memaksa diri mengambil banyak akan berakibat tidak dapat mencerna, tidak fokus akhirnya jauh dari harapan.

Perubahan kurikulum, memaksa guru terbiasa dengan mengembangakan kreativitasnya dalam proses pembelajaran. Kreativitas guru akan mendorong tumbuhkembangnya peserta didik menjadi pribadi yang kreatif, guru dituntut mengembangkan dan berlatih kemampuan berpikir tingkat tinggi. Metode pembelajaran berbasis scientific, problem based learning, project based learning, inquiry, observasi, diskusi hingga presentasi. Efektivitas pendekatan dan model pembelajaran tersebut sangat ditentukan kompetensi guru.

Kepala Sekolah

Pendampingan kepala sekolah kepada atau monitoring kepada guru dalam melakukan proses pembelajaran sangat penting. Kelemahan dan kelebihan guru akan dapat dipantau. Kelemahan dapat didiskusikan bersama agar menemukan jawaban ideal dalam proses pembelajaran. Kelebihan guru dalam proses pembelajaran menjadi bahan yang harus senantiasa dikembangkan agar guru dapat meningkatkan proses pembelajaran. Refleksi kepala sekolah sangat mempunyai peran besar bagi guru dalam menemukan model pembelajaran yang sesuai. Guru jangan biarkan terbiasa jalan sendiri dan tidak mengetahui kelemahan dan kelebihannya. Guru dapat memberikan apresiasi penghargaan terhadap kinerja guru. 

Tantangan tersendiri bagi kepala sekolah untuk terjun langsung ke kelas mendampingi para guru.  Ewuh pakewuh, sungkan, usia gurunya lebih tinggi, karya gurunya lebih banyak atau keluarga pejabat menjadi beberapa alasan kepala sekolah berat melakukan kegiatan monitoring di kelas saat guru mengajar. 

Pemahaman kepala sekolah yang belum mumpuni dalam kurikulum merdeka juga menjadi hambatan besar dalam melakukan implementasi kurikulum merdeka. Kepala sekolah sebagai garda depan dalam pemahaman kurikulum yang akan membuka tembok penghambat berjalannya kurikulum ini. Kepala sekolah menjadi tempat konsultasi pertama Ketika guru mengalami kebuntuan dalam proses pembelajaran. Sangat tidak elok dan tidak etis kalau kepala sekolah tidak mengakui ketidakmampuannya dan kemudian memberikan jawaban sekenanya atau jawaban tidak berdasar kepada dewan guru yang bermasalah dalam pembelajaran. Hal ini sangat berbahaya akan terjadi malpraktek implementasi kurikulum merdeka.

Kepala sekolah tidak boleh alergi untuk mengembangan kapasitas diri. Apalagi yang berhubungan dengan pengembangan sekolah. Tentu saat ini yang terpenting adalah tentang kurikulum merdeka. Kepala sekolah harus mumpuni dalam mendalami materi ini. Sehingga pelatihan yang diambil akan bermanfaat bagi sekolah dan guru-guru yang menjadi tanggungjawabnya. 

Fasilitas Sekolah

  1. Fasilitas komputer

Kondisi sekolah tidak berubah. Beberapa kurikulum sudah dilewati, keadaan fasilitas sekolah tidak ada perkembangan. Fasilitas sekolah berjalan ditempat. Bantuan fasilitas pembelajaran komputer tidak dapat digunakan secara maksimal oleh peserta didik. Komputer sering mengalami masalah. Sangat lambat kinerjanya apalagi kalau komputernya disambungkan dengan internet lama konektifitasnya. Apalagi dalam kurikulum merdeka muncul mata pelajaran informatika, sebuah keharusan sekolah mempunyai fasilitas ini yang memadai. Pembelajaran informatika tidak akan efektif dan efisien kalau fasilitas komputernya bermasalah.

Dalam pembelajaran seni rupa kelas 7 ada materi membuat desain dan membuat tipografi dan logo sebaiknya tidak manual lagi. Penggunaan aplikasi corel draw menjadi keharusan. Ini berarti perangkat komputer sekolah harus memadai untuk diinstall aplikasi tersebut. Sangat ketinggalan kalau anak-anak milenial belajar desain, tipografi dan logo masih manual. Pembelajaran secara manual sangat sama dan tidak efektif. Pembelajaran manual kemampuan mereka menyelesaikan tugas kecepatannya sangat terbatas dan bebas tugasnya sedikit. Berbeda dengan menggunakan fasilitas computer, menyelesaikan lebih cepat dan beban tugas bisa lebih banyak disesuaikan dengan alokasi waktu. Pendalaman dan pengayaan materi pelajaran akan lebih mendalam. Hal ini tentu akan lebih bermakna juga dengan pelajaran lainya.

2. Fasilitas Laboratorium IPA

Laboratorium IPA, sering sekali alat dan bahan tidak memadai. Laboratorium IPA terbatas penggunaannya, Padahal pemerintah sering mengadakan lomba Karya Ilmiah Remaja. Laboratorium tentu sangat mendukung lomba ini. Kalau laboratoriumnya tidak dikembangkan maka pembelajaran yang berbasis scientific, problem based learning, project based learning, inquiry, observasi masih menjadi mimpi panjang seorang guru dan peserta didik. Seharusnya dengan implementasi kurikulum merdeka laboratorium fasilitasnya ditingkatkan. 

Perpustakaan yang menunjang pembelajaran masih sangat terbatas. Buku-buku pelajaran memang disediakan oleh sekolah tetapi buku-buku referensi lainnya hampir tidak ada. Buku -buku motivasi, cerita, pengetahuan lain sangat terbatas. Sehingga mengembangkan literasi masih akan menemukan kendala. Perpustakaan sekolah kadang kala hanya berisi buku-buku pajangan karena memang buku-buku itu tidak menarik untuk membacanya. Keterbatasan judul, keterbatasan koleksi buku, tata letak buku, ruangan baca kurang bersahabat dengan peserta didik. Keterbatasan fasilitas perpustakaan sekolah ini turut menyumbang tantangan besar implementasi kurikulum sekolah.

3. Laboratorium Bahasa

Banyak sekolah tidak memikirkan laboratorium Bahasa. Sedikit sekali sekolah yang mempunyai laboratorium Bahasa. Padahal untuk meningkatkan pembelajaran Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia dapat memakai fasilitas ini. Dari tempat ini peserta didik dapat memaksimalkan pengetahuan bahasanya untuk komunikasi atau pengembangan keilmuan lainya.

4. Galeri Seni

Tidak kalah pentingnya sekolah mempunyai galeri seni. Karya-karya siswa terbaik dipajang di ruangan yang dapat diabadikan. Apresiasi sekolah terhadap karya-karya peserta didik. Selama ini karya-karya peserta didik menjadi kumpulan sampah yang memenuhi ruangan guru yang sangat tidak indah dipandang mata. Hal ini memang guru tidak dapat Menyusun karya tersebut karena tidak ada ruangan yang tersedia dan layak. Apresiasi karya, karya peserta di pajang menjadi media pembelajaran bagi peserta didik lainnya. Sehingga akan diketahui perkembangan pembelajaran seni rupa atau lainnya, hal ini sebagai pemicu peserta didik lain harus lebih baik dari karya-karya yang dipajang di ruangan tersebut. Bukan hal yang mustahil, dari sekolah akan lahir para apresiator dan calon-calon seniman. Berikan apresiasi dan wadahnya sehingga peserta didik terpacu untuk berkembang.

Pengawas sekolah

Pengawas sekolah kadang di beberapa mata pelajaran tidak ada. Beliau sudah purna tugas dan tidak ada pengangkatan pengawas baru. Kekosongan ini berlarut-larut. Berimbas kepada kinerja guru dikelas. Peningkatan kualitas guru salah satunya dengan metode kehadiran pengawas sekolah ke kelas para guru. Pembinaan, pembimbingan pengawas sekolah dalam merefleksi guru dalam pembelajaran sangat besar pengaruhnya. Guru yang mengetahui kelemahan dan kelebihan dalam proses pembelajaran akan memperbaiki diri dalam proses pembelajaran selanjutnya. Apalagi secara periodik pengawas melakukan kunjungan kelas. Kualitas pembelajaran akan meningkat. 

Sekolah senantiasa membuka diri untuk mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak. Apalagi muatan penguatan profil pelajar Pancasila. Peserta didik dapat belajar dimana saja sesuai dengan modul yang dikembangkan oleh mata beberapa mata pelajaran. Pelajaran tidak harus di kelas lagi, peserta didik dapat langsung belajar kepada masyarakat atau tempat-tempat yang diasumsikan bermanfaat bagi penguatan profil pelajar Pancasila. Ini dibutuhkan guru yang dapat memandu peserta didik mengembangkan karakter-karakter yang dikembangkan dalam penguatan profil tersebut. 

Sekolah menjalin kerja sama dengan sekolah lain yang telah mengimplementasikan kurikulum merdeka. Sehingga sekolah dapat belajar secara langsung hambatan-hambatan dari implementasi kurikulum ini. Dari kerja sama ini akan didapat solusi-solusi terbaik bagi pengembangan implementasi kurikulum, sehingga kurikulum ini akan bermakna bagi perjalanan peserta didik dalam menemukan karakter dan masa depannya.

Kurikulum merdeka memang masih sangat mudah, belum Nampak kelemahan dan kehebatannya. Proses keberhasilan sebuah kurikulum baru dapat diketahui 10 atau 20 tahun ke depan. Sehingga untuk mendapatkan generasi yang diidam-idamkan untuk mengisi Indonesia Emas adalah proses pembelajaran yang bertanggungjawab terhadap perkembangan karakter dan keilmuan. Kesalahan fatal jangan sampai terulang kembali seperti implementasi kurikulum 2013 yaitu pendapat yang pentingkan nilai raportnya. Kesalahan fatal kalau raport adalah segalanya sedangkan proses untuk mendapatkan nilai itu tidak pernah dievaluasi. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co News Update”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Editor: Ibrahim Yusuf

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker