Opini

Tiga Bahasa, "Siapa Takut" Rita Widyasari, dan Panggung Hangat Para Legend

Kaltim Today
14 Juni 2026 07:57
Tiga Bahasa, "Siapa Takut" Rita Widyasari, dan Panggung Hangat Para Legend
Penulis, Rusdiansyah Aras bersama Rita Widyasari.

Oleh: Rusdiansyah Aras (Jurnalis Senior, Mantan Ketua KONI Kaltim)

AROMA kopi malam itu seperti berkelindan dengan mesin waktu. Di Claro Hotel—yang bagi ingatan kolektif kami masyarakat Samarinda lebih lekat sebagai ex Hotel Atlet di kawasan GOR Kadrie Oening Sempaja—ratusan ingatan mendadak tumpah. Tajuk acaranya ringkas namun penuh daya pikat: Wartawan Legend Bedapatan.

Sahabat saya, Syafrin TH Noor, sempat berbisik jenaka di tengah riuhnya suasana. "Rus, acara kita malam ini unik. Ada tiga bahasa jadi satu: Indonesia, Inggris (Legend), dan Banjar (Bedapatan)." Kami tertawa. Kalimat pendek itu justru merangkum esensi malam itu: sebuah pertemuan lintas batas, lintas generasi, dan penuh kehangatan yang cair.

Malam itu menjadi begitu semarak. Sejumlah figur publik papan atas Benua Etam tampak hadir membaur tanpa sekat protokoler yang kaku. Ada Wali Kota Samarinda Dr. H. Andi Harun yang hadir bersama Wakil Wali Kota Saefuddin Zuhri. Hadir pula mantan Wali Kota Balikpapan dua periode yang juga mantan Pemimpin Redaksi SKH Kaltim Post, Rizal Effendi. Seperti biasa, Mas Rizal dengan joke-joke segarnya yang khas tetap sukses mengocok perut dan membuat seisi ruangan tak berhentinya tertawa.

Saya sendiri memilih duduk di antara para senior yang telah menjadi guru sekaligus kompas saya di dunia jurnalisme. Di dekat saya, ada Bang Dillah (Sadillah), redaktur olahraga saya dulu. Mata saya agak berkaca-kaca sekaligus bangga melihatnya malam itu mengenakan kaos SEA Games Thailand 2025—buah tangan yang sengaja saya bawa untuk beliau tempo hari. Di sisi lain, tampak pula Bang Syarifuddin Pernyata dan Syafrin TH Noor. Duduk di antara mereka selalu membawa saya kembali ke memori ruang redaksi yang bising oleh suara mesin ketik dan tenggat waktu (deadline).

Magnet Kembalinya sang "Dayang"

Namun, harus diakui, magnet utama yang menyedot perhatian malam itu adalah kehadiran mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari. Setelah hampir 9 tahun berjarak dari hiruk-pikuk langsung Bumi Mulawarman, malam itu ia kembali menapakkan kakinya di Benua Etam.

Saya berkesempatan menyambut langsung kedatangan mantan bupati perempuan pertama di Kaltim ini. Kami kemudian duduk berdampingan, mengobrol panjang lebar. Bukan soal politik berat, melainkan nostalgia hal-hal kecil yang masih melekat kuat di ingatan kami berdua masa lalu. Sisi humanis Rita sama sekali tidak pudar; senyum dan keramahannya masih sama seperti yang saya kenal dulu.

Tentu saja, sebagai orang media, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak "mengorek" apa langkah selanjutnya setelah ia kembali menghirup udara segar kebebasan.

"Saya belum memiliki agenda politik saat ini, Rus. Ingin fokus berada di tengah-tengah masyarakat dulu dan melakukan hal-hal yang bermanfaat," ujarnya dengan nada tenang.

Namun, dinamika berubah ketika saya memancingnya dengan pertanyaan spekulatif: bagaimana jika di masa mendatang masyarakat kembali memberikan kepercayaan dan mendaulatnya untuk kembali memimpin?

Rita menatap saya, tersenyum tipis, lalu meluncurlah jawaban yang langsung memantik adrenalin jurnalistik saya:

“Siapa takut.”

Dua kata yang singkat, padat, namun bertenaga. Pernyataan "Siapa Takut" itu seolah menjadi sinyal bahwa insting petarung seorang Rita Widyasari belum sepenuhnya padam. Di tengah antusiasme luar biasa warga Kukar dan Kaltim yang menyambut kepulangannya, pernyataan ini jelas bukan sekadar pemanis bibir, melainkan sebuah kalimat bersayap yang siap memicu berbagai spekulasi politik ke depan.

Di Bawah Bayang-Bayang Spanduk Strategis

Menariknya lagi, panggung reuni para wartawan gaek ini digelar di bawah bayang-bayang sebuah pesan visual yang cukup mencolok. Mata saya—dan mungkin mata sebagian besar undangan yang hadir—langsung tertuju pada tulisan di spanduk acara.

Di sana tertera dengan jelas bahwa perhelatan hangat ini disponsori penuh oleh Rudy Mas'ud, yang notabene adalah Gubernur Kaltim periode 2025–2030.

Kehadiran Rita Widyasari di ruang publik, dipadukan dengan dukungan penuh dari sang gubernur petahana dalam acara bernuansa media ini, seolah melempar sebuah teka-teki menarik ke lantai bursa politik lokal. Apakah ini sekadar reuni melepas rindu, ataukah sebuah awal dari pergeseran dan konsolidasi kekuatan baru di bawah permukaan politik Kalimantan Timur?

Sebagai wartawan yang telah mencatat perjalanan dinasti dan dinamika daerah ini selama puluhan tahun, saya hanya bisa tersenym. Malam "Wartawan Legend Bedapatan" sukses menuntaskan dua hal sekaligus: memuaskan rindu para kuli tinta senior, sekaligus memberi kami "bahan bakar" segar untuk terus menganalisis ke mana arah angin politik Benua Etam akan berembus selanjutnya.

Satu yang pasti, panggung politik Kaltim ke depan tampaknya tidak akan pernah membosankan. (*)



Berita Lainnya