Internasional
Wabah Virus Hanta di Kapal Pesiar MV Hondius: 3 Orang Tewas, Pakar Sebut Kecil Potensi Pandemi
Kaltimtoday.co - Dunia internasional tengah menaruh perhatian besar pada kapal pesiar MV Hondius yang terdeteksi mengalami wabah virus Hanta mematikan. Kapal yang sedang berlayar menuju Kepulauan Canary tersebut melaporkan tiga orang meninggal dunia dan delapan lainnya terinfeksi dari total 150 penumpang dan kru.
Kejadian ini sempat memicu spekulasi mengenai potensi pandemi global baru. Namun, sejumlah otoritas kesehatan segera memberikan klarifikasi untuk meredam kepanikan masyarakat dunia dengan menegaskan perbedaan karakteristik virus ini dengan SARS-CoV-2.
Para pakar penyakit menular dari Cleveland Clinic dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menekankan bahwa virus Hanta tidak memiliki efisiensi penularan yang sama dengan Covid-19. Perbedaan utama terletak pada cara virus tersebut menyebar di antara manusia.
“Covid-19 menyebar dengan sangat cepat melalui droplet di udara, sementara virus Hanta memiliki mekanisme penularan yang jauh lebih sulit dan terbatas,” demikian laporan yang dikutip dari Today, Kamis (7/5/2026).
Secara medis, virus Hanta umumnya ditularkan melalui hewan pengerat atau tikus. Manusia biasanya terinfeksi saat menghirup partikel dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengering di udara. Namun, wabah di MV Hondius menjadi perhatian khusus karena diduga melibatkan strain Andes.
Strain Andes diketahui sebagai satu-satunya spesies virus Hanta yang memiliki kemampuan transmisi antarmanusia, meski dalam skala terbatas. Penularan ini umumnya membutuhkan kontak fisik yang sangat dekat dan dalam jangka waktu lama, seperti dalam satu rumah atau perawatan medis tanpa pelindung.
Penasihat teknis WHO, Maria Van Kerkhove, menyatakan kemungkinan besar beberapa penumpang telah terinfeksi saat berada di daratan sebelum memulai pelayaran. Setelah itu, terjadi penularan terbatas di antara kontak dekat selama berada di atas kapal.
Infeksi strain Andes ini menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni gangguan pernapasan parah dengan tingkat kematian mencapai 30 hingga 40 persen. Gejala awalnya serupa flu, namun dapat memburuk menjadi gagal napas akibat penumpukan cairan di paru-paru dalam 10 hari.
Meski memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, CDC dan WHO menilai risiko bagi masyarakat umum saat ini masih "sangat rendah". Langkah penanganan ketat telah dilakukan, termasuk rencana disinfeksi total saat kapal merapat di Kepulauan Canary dalam beberapa hari ke depan.
Penyelidikan kini difokuskan pada asal masuknya virus ke kapal yang berangkat dari Argentina Selatan tersebut. Fakta bahwa tidak ada laporan kasus baru di luar kelompok delapan orang terinfeksi memberikan sinyal positif bahwa wabah ini berhasil dilokalisasi.
WHO terus berkoordinasi dengan otoritas kesehatan terkait untuk melakukan pelacakan kontak (contact tracing) terhadap penumpang yang sempat turun di Pulau St. Helena. Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas kesehatan global tanpa harus menghentikan aktivitas industri pariwisata secara luas.
[RWT]
Related Posts
- Pecah Rekor! Kucuran Dana Bansos 2024 Lebih Besar Dibanding Era Pandemi, Benarkah? Cek Fakta Berikut Ini
- Status Covid-19 Berubah dari Pandemi jadi Endemi, Pasien Bakal Dikenakan Biaya
- Capai 93 Persen, Kekebalan Masyarakat Samarinda terhadap Covid-19 Lebih Tinggi Dibanding Rata-Rata Nasional
- Cara Lengkap Daftar Akun BSU Kemnaker hingga Cek Status Pencairan
- Peran Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman dalam Menanggulangi Penyebaran Covid-19









