Opini

Wasiat Luqman Al-Hakim bagi Pemuda Muslim Indonesia

Oleh: Misbahul Ramadhani (Mudarrisah di Pondok Pesantren An-Nur)

Dunia saat ini sedang dihadapkan dengan situasi yang sulit di mana masyarakat harus menghadapi perubahan hidup yang cukup drastis terutama bagi pelajar Indonesia yang kini semua aktivitas dilakukan di rumah secara online. Banyak di antara mereka yang semakin salah dalam memanfaatkan teknologi seperti bermain game online, tidak bijak dalam menggunakan medsos, menonton video youtube yang tidak bermanfaat hingga membuat mereka lupa belajar, ibadah, dan hal bermanfaat lainnya.

Tidak hanya itu, tindak kejahatan yang dilakukan anak muda saat ini juga semakin meningkat terlebih di tengah wabah Covid-19 yang menggemparkan masyarakat seperti pencurian, penipuan, pembunuhan yang sedikit banyaknya mereka pelakunya. Inilah yang menunjukkan bahwa perilaku anak muda zaman sekarang tidak lagi mencerminkan jati diri mereka yang sesungguhnya.

Baca juga:  Politik, Hukum dan Urgensi Penyelenggaraan Pilkada Serentak di Tengah Masa Pandemi Covid-19

Perubahan ini menjadi tantangan besar bagi orang tua dalam mendidik anaknya agar dapat menjadi pribadi muslim yang mengacu pada nilai-nilai Alquran maupun Hadits dan lebih tangguh saat menghadapi situasi apapun. Referensi yang menjadi rujukan orang tua muslim dalam mendidik anaknya adalah nasehat-nasehat Luqman al-Hakim yang penuh hikmah. Nasehat ini juga dapat menjadi prinsip dasar bagi orang tua muslim dalam menanamkan pendidikan Islam kepada anaknya.

Umat Islam pasti mengenal siapa Luqman al-Hakim. Ia adalah satu-satunya manusia bukan Nabi dan Rasul namun kisahnya diabadikan dalam Alquran karena kata-kata bijaknya dan kecintaannya kepada Allah yakni dalam surah Luqman ayat 12-19. Allah menyebutnya dengan sebaik-baik sebutan karena wasiatnya kepada putra yang paling dicintainya. Di antara nasehat-nasehat yang disampaikan Luqman kepada anaknya adalah :

1. Memegang aqidah yang kuat

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (Q.S. Luqman [31] : 13).

Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya bahwa wasiat pertama yang disampaikan Luqman kepada anaknya adalah beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya karena itu merupakan perbuatan syirik yakni kezhaliman terbesar. Ini merupakan pelajaran pertama yang harus ditanamkan kepada anak agar mereka selamat dan tidak mencampuradukkan keimanan dengan syirik yang dapat membuat Allah murka.

2. Berbakti kepada orang tua

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (Q.S. Luqman [31] : 14).

Wasiat kedua yang disampaikan Luqman adalah perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua yang telah mengandung, menyapih, mendidik, membesarkan dengan penuh kasih sayang hingga kesulitan dan kelelahan yang dirasakan keduanya. Ibnu katsir pun mengatakan, berbaktilah kepada orang tua yang telah melahirkanmu sekalipun keduanya memaksamu untuk menyekutukan Allah, jangan engkau mengikutinya. Hal itu pun tidak boleh menjadi penghalangmu untuk berbuat baik kepada keduanya.

3. Kesadaran akan pengawasan Allah

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Luqman [31] : 16).

Ayat ini mengandung perintah agar setiap anak senantiasa sadar akan pengawasan dan hukum Allah. Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya bahwa kebaikan dan keburukan yang diperbuat sekecil apapun itu akan selalu diketahui-Nya dan diberi balasan yang setimpal oleh-Nya. Allah Maha Mengetahui, sekalipun langkah-langkah semut dikegelapan malam yang sangat pekat. Ini juga menjadi tantangan bagi orang tua untuk selalu mengingatkan anaknya akan hukum Allah.

4. Mengerjakan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, dan sabar.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Q.S. Luqman [31] : 17).

Aqidah yang kokoh dan kesadaran akan pengawasan Allah tidak berarti jika tanpa pembuktian melalui perbuatan. Ayat ini menuntun setiap anak agar melaksanakan shalat dengan sempurna syarat, rukun, dan sunnah-sunnahnya, berdakwah sesuai kemampuannya, dan bersabar atas tantangan serta rintangan dalam melaksanakan tuntunan Allah karena sabar merupakan perkara yang diperintahkan Allah. Ini sebagai bukti kesetiaan hamba kepada Penciptanya.

5. Tidak sombong

“Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Luqman [31] : 18).

Tidak seorang pun yang mampu hidup sendirian di dunia ini. Manusia hidup saling bergantung satu sama lain. Oleh sebab itu, tidak ada yang patut dibanggakan kepada orang lain. Inilah yang menjadi pokok nasehat Luqman selanjutnya kepada anaknya tentang akhlak dan sopan santun terhadap sesama. Ibnu Katsir pun melarang untuk tidak memalingkan wajah dan bersikap sombong ketika berkomunikasi dengan orang lain, akan tetapi merendahlah dan maniskanlah wajah ketika bertemu mereka.

Baca juga:  Kewajiban Menjaga Fithrah

6. Bersikap sederhana

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. Luqman [31] : 19).

Akhir dari nasehat Luqman adalah perintah agar setiap anak bersikap sederhana dan bertutur kata sopan. Berjalan sederhana berarti tidak membusungkan dada dan tidak merunduk seperti orang sakit. Tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat, akan tetapi adil dan pertengahan. Tidak juga berlebihan dalam berbicara dan mengeraskan suara dengan kasar seperti teriakan keledai karena itu merupakan seburuk-buruk suara dan perbuatan yang dapat membuat Allah murka.

Demikian nasehat Luqman al-Hakim kepada anaknya. Banyak hikmah yang dapat diambil darinya terkhusus bagi anak muda zaman sekarang agar selalu melaksanakan kewajibannya kepada Allah, melakukan hal yang lebih bermanfaat, banyak membantu orang tua, amar ma’ruf nahi munkar walaupun disampaikan melalui medsos terlebih di tengah wabah Covid-19 saat ini. Para pemuda muslim harus dibekali iman yang kuat agar mereka dapat memilih jalan yang benar ketika dihadapkan dengan situasi yang sulit sekalipun.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close