Samarinda

Barang Bekas yang Layak Pakai, Thrift Simpan Nilai Berharga hingga Sejarah

Kaltimtoday.co, Samarinda – Belakangan ini, tren thrift semakin menjamur di tengah masyarakat. Thrift adalah sebuah barang bekas atau second yang berasal dari barang impor. Didominasi oleh fesyen. Oleh sebab itu, biasanya kondisi dari barang second itu tak melulu mulus 100 persen. Namun jika jeli, bisa saja menemukan kondisi barang yang masih layak pakai dan seperti baru. Bahkan langka dan hanya ada satu-satunya.

Salah satu penjual barang thrift di Samarinda adalah Marcellino Arditius. Pria yang akrab disapa Onil ini mempunyai thrift shop bernama OnilzSecondhand. Memulainya sejak 2018 silam dan makin serius ditekuni saat 2019. Barang thrift yang dijualnya merupakan hasil thrifting (berburu barang thrift) sampai keluar kota dan dalam kuantitas besar.

Baca juga:  Pertama Kali Thrifting? Simak 4 Tips Berikut Saat Ingin Beli Barang

Onil juga menjelaskan soal perbedaan thrift dan preloved. Pada dasarnya, thrift merupakan barang dari luar negeri, pernah dipakai, dikemas ulang, lalu dikirim ke Indonesia. Sedangkan preloved itu murni dari barang pribadi yang dijual kembali. Menurut Onil, banyak orang yang salah paham dengan definisi keduanya.

“Beberapa barang thrift itu banyak dari Jepang dan Korea. Juga tidak masuk di pasar Indonesia. Kalau saya lebih banyak jual kaos vintage, jaket, hoodie, dan sweater,” jelas Onil saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Sabtu (16/1/2021).

Onil juga menyoroti soal tren thrift selama 2020 lalu. Kemungkinan besar karena momen pandemi. Sehingga banyak orang yang melihat peluang dan mencoba peruntungan di bisnis thrift shop. Alhasil, banyak yang tertarik. Sampai saat ini, ada sekitar 50 penjual barang thrift di Samarinda.

Itu belum termasuk yang berdiri independen, tak masuk ke dalam komunitas. Nah, di Samarinda ada dikenal Samarinda Second Fest yakni gabungan 3 komunitas seperti Garage Second Market, Pasar Setan, dan Pasar Bekas. Onil sendiri menjadi salah satu bagian dari Garage Second Market.

“Kebanyakan orang yang terjun di dunia bisnis thrift ini, awalnya pemakai si barang dan kerap membeli. 90 persen dari teman-teman itu juga karena hobi sering beli barang second,” lanjutnya.

Kepada pembelinya, Onil kerap membagikan edukasi. Sebab ada saja beberapa pembeli yang mengeluh terkait mahalnya barang yang dijual atau lebih mahal dibanding barang baru.

Tak dapat dimungkiri, harga barang thrift itu relatif. Bahkan bisa ratusan juta. Itu bergantung dari proses mencari si barang dan pertimbangan bahwa barang itu memang sudah langka. Bahkan ada barang yang memang sengaja diburu oleh para kolektor.

Onil mencontohkan, beberapa barang vintage ada yang mencapai jutaan rupiah. Misalnya untuk kaos atau jaket, bisa melebihi Rp 2 juta rupiah. Meski begitu, ada value yang bisa diambil dari barang second tersebut.

Baca juga:  6 Gempa Bumi Paling Dahsyat yang Pernah Terjadi di Indonesia

“Value-nya itu ini barang vintage, mempunyai sejarah, atau barang itu susah didapatkan. Contohnya kaos sebuah band yang diproduksi pada 1993. Itu kan sudah melewati beberapa tahun. Jadinya unik. Di Indonesia, pasar untuk barang thrift vintage itu sudah mulai berkembang,” beber Onil.

Onil mengakui bahwa menekuni bisnis thrift ini tak semudah yang dibayangkan. Banyak proses yang harus dijalani. Onil mengingat pesan dari salah satu teman bahwa bekali ilmu sebelum menekuni thrift.

Maksudnya, harus mengetahui brand lebih dulu sampai tahu untuk membandingkan mana barang palsu dan asli. Jadi tak sekadar berjualan tanpa mengedukasi orang.

[YMD | RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close