Daerah

Di Balik Festival Mecaq Undat Sungai Bawang, Perjuangan Merawat Tarian Warisan Leluhur

Supri Yadha — Kaltim Today 31 Oktober 2026 20:59
Di Balik Festival Mecaq Undat Sungai Bawang, Perjuangan Merawat Tarian Warisan Leluhur
Penampilan penari di Festival Mecaq Undat Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara. (Supri/Kaltimtoday.co)

Suara musik tradisional menggema diseluruh sudut Lamin Adat Pemung Madung, Desa Budaya Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar). Para penari mulai anak-anak, remaja hingga perempuan lanjut usia mengikuti ritme alunan melodi. Gerakannya berbeda-beda, tetapi membawa cerita yang sama tentang warisan leluhur Dayak Kenyah.

Berbagai tarian yang dibawakan, didalamnya terdapat anak-anak berusia empat tahun. Ada pula perempuan lanjut usia yang sudah berumur 68 hingga 70 tahun.  Menari dipanggung yang sama, menjadi bagian menjaga kesenian tradisional agar tidak hilang ditelan zaman.

Pemandangan itu tersaji dalam Festival Budaya Dayak Kenyah Mecaq Undat yang berlangsung pada 27-28 Agustus 2026. Selama dua hari, Lamin Adat Pemung Madung menjadi ruang pertemuan masyarakat, penari, dan pengunjung untuk menyaksikan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Mecaq Undat sendiri merupakan pesta adat setelah panen padi. Secara harfiah, Mecaq Undat berarti menumbuk beras secara bersama-sama menggunakan lesung panjang hingga menjadi tepung. Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Bagi masyarakat Sungai Bawang, perayaan tersebut bukan sekadar menandai keberhasilan panen. Ada nilai spiritual yang dipercaya membawa keberkahan bagi musim tanam berikutnya. Hasil panen yang dibagikan juga menjadi bentuk penghormatan kepada arwah leluhur yang diyakini menjaga ladang dari serangan hama.

Kemeriahan festival tidak hanya terlihat dari prosesi adat dan tarian. Sejumlah pemuda Dayak Kenyah juga mengarak tamu kehormatan menggunakan Alut Adang, perahu kayu berukiran khas Dayak dengan ornamen Burung Enggang di bagian depan. 

Perahu sepanjang lima meter itu dipikul bersama-sama di atas susunan bambu, bukan dihanyutkan ke sungai.

Arak-arakan tersebut diiringi Tari Perang yang dibawakan para pemuda. Para tamu kemudian diarahkan menuju Lamin Adat untuk mengikuti rangkaian kegiatan berikutnya.

Di balik kemeriahan festival, ada tugas berat yang mesti diemban, yaitu memastikan anak-anak tetap mengenal tarian dan musik tradisional yang menjadi identitasnya.

Warisan leluhur itu dirasakan langsung perempuan berusia 20 tahun, Karolina Lampang. Separuh lebih usianya telah diisi dengan kegiatan menari. Ia mulai mengenal tari tradisional sejak kelas II sekolah dasar, ketika berusia sekitar delapan tahun.

Sebelum terjun di dunia seni tari, dirinya menganggap gerakan tari menarik. Rasa penasaran itu menariknya untuk merasakan langsung.

"Mungkin karena gerakannya. Gerakannya juga agak menarik," katanya saat menceritakan alasan menyukai tari tradisional.

Sekitar 12 tahun sudah ia menekuni kesenian tersebut. Nyelama Sakai dan Anyam Tali menjadi beberapa tarian yang sering dibawakannya. Tari kreasi juga dipelajarinya.  Meski gerakannya dibuat sendiri, namun unsur-unsur seni Dayak tetap dipertahankan.

Dari tarian tradisional, membawa Karolina tampil di berbagai daerah di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Mulai dari Tenggarong, Kota Samarinda, Balikpapan. Dan, Yogyakarta jadi tempat terjauh yang pernah dikunjunginya untuk tampil.

Disisi lain. Walau disibukkan dengan bekerja di Puskesmas Sungai Bawang. Ia harus lebih pandai membagi waktu agar kegiatan menari tak terabaikan. Jika ada penampilan, ia minta 
 izin terlebih dahulu.

"Iya, kita izin dulu," tuturnya singkat.

Meski begitu, pekerjaan tidak membuatnya ingin meninggalkan dunia tari. Dari kegiatan tersebut, ia juga mendapatkan penghasilan. Meski harus dicukup-cukupkan, ia tetap ingin melanjutkannya.

Dirinya melihat anak-anak yang lebih muda masih memiliki semangat untuk belajar menari. Bahkan, menurutnya, anak-anak kecil justru terlihat sangat antusias.

"Enggak sih, masih tetap saja seperti zaman saya dulu. Malah yang kecil-kecil itu semangat penuh," ucap Karolina dengan senyuman tipis.

Dirinya pun tidak ingin hanya menjadi penari. Ke depan, ia berencana ikut melatih generasi di bawahnya untuk meneruskan ilmu yang selama ini diperoleh dari para pelatih.

"Pasti,” jawabnya ketika ditanya apakah bersedia melatih generasi muda.

Semangat anak-anak yang dilihat Karolina juga dirasakan Norti, seorang pembina sekaligus pelatih tari di Desa Budaya Sungai Bawang sejak 2014.

Rentang usia penari yang dibina cukup jauh. Paling muda berusia empat tahun, sementara yang tertua mencapai 68 hingga 70 tahun.

Norti mengaku antusiasme anak-anak menjadi salah satu hal yang membuatnya terus bersemangat melatih. Bahkan, anak-anak yang belum bersekolah sudah datang sebelum jadwal latihan dimulai.

"Kalau anak-anak ini antusiasnya luar biasa. Kalau anak-anak yang belum sekolah, yang PAUD, pokoknya kita janji jam 2, mereka sebelum jamnya sudah ada di sini," jawabnya antusias.

Latihan biasanya dilaksanakan setiap Minggu. Bahkan, untuk menjaga semangat anak-anak ia rela menyediakan makanan ringan dan minuman dari sedikit biaya operasional Pokdarwis yang bersumber dari desa.

Latihan berlangsung sekitar satu hingga dua jam. Tempatnya di Lamin Adat, meski terkadang berpindah ke rumah Norti. Meski demikian, pembinaan tidak selalu berjalan mudah. 

Penari laki-laki yang sudah dewasa mulai sulit dikumpulkan karena sebagian besar melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Anak-anak yang bersekolah di perkotaan juga memiliki keterbatasan waktu untuk mengikuti latihan bersama.

Sementara itu, anak-anak perempuan dinilai lebih mudah diajak berlatih. Norti melihat semangat mereka masih terjaga, terutama untuk usia sekolah dasar ke bawah.

Di tengah keterbatasan itu, Norti tetap bertahan meski hanya menerima honorarium Rp250 ribu per bulan dari desa.

Bagi Norti, jumlah tersebut bukan alasan untuk berhenti. Ada keinginan yang lebih besar daripada sekadar imbalan.

"Karena mungkin kita mau mengembangkan budaya ya. Kita mau perkenalkan budaya kita sejak dini kepada anak-anak kita," matanya  berkaca-kaca.

Norti juga ingin anak-anak memahami cerita di balik tarian yang mereka pelajari. Salah satunya melalui tarian tarian Pita Ba’i Uyan Uma. Tarian tersebut menggambarkan kehidupan leluhur masyarakat Dayak Kenyah ketika mencari nafkah dengan membuka ladang di kawasan pegunungan. Mereka harus masuk ke hutan untuk menemukan lahan yang subur sebelum mulai bercocok tanam.

Dalam rangkaian gerakannya, empat orang digambarkan mencari lokasi yang cocok untuk membuka ladang. Setelah menemukan tempat yang sesuai, mereka memasang patok, kemudian melakukan ritual dan berdoa agar hasil panen melimpah.

Gerakan berikutnya menggambarkan proses menanam hingga mengolah hasil panen menjadi beras. Ada proses panjang yang harus dilalui sebelum padi bisa dikonsumsi. Salah satunya melalui proses penumbukan.

"Jadi, menggambarkan pola hidup orang Dayak leluhur kita dulu. Kita mau supaya anak-anak kita tahu, oh seperti ini leluhur kita," kata Norti.

Selain Pita Ba’i Uyan Uma, ada tarian Datun Menoq, Ajai Kerahan Lepoq, Udoq Kiba/Kitaq. Beberapa tarian memiliki pakem yang tetap dipertahankan. 

Untuk anak-anak yang baru mulai belajar, Norti terlebih dahulu mengenalkan tarian Tunggal, kemudian Nyelama Sakai. Tarian Nyelama Sakai biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu maupun pejabat yang berkunjung ke desa.

Keterbatasan Penari dan Dukungan untuk Pelestarian

Menjaga kesenian tetap hidup membutuhkan keterlibatan banyak orang. Kepala Desa Sungai Bawang, Martinus, mengakui jumlah penduduk yang terbatas menjadi salah satu kendala dalam penyelenggaraan kegiatan budaya.

Kondisi itu membuat beberapa anak harus membawakan dua hingga tiga jenis tarian dalam satu pertunjukan. Padahal, idealnya setiap tarian dibawakan oleh penari yang berbeda.

"Kendala paling mendasar itu karena jumlah penduduk kami tidak seberapa. Sementara banyak peserta yang harus terlibat dalam setiap kegiatan yang kami laksanakan," jelas Martinus.

Karena itu, pemerintah desa terus mendorong keterlibatan anak-anak sejak dini. Tujuannya agar semakin banyak generasi muda yang mengenal dan mampu membawakan kesenian tradisional.

Festival Mecaq Undat sendiri menjadi salah satu agenda tahunan yang diinisiasi pemerintah desa melalui anggaran alokasi dana desa (ADD). Pelaksanaannya dipercayakan kepada lembaga adat untuk mengoordinasikan seluruh rangkaian kegiatan.

Pada pelaksanaan tahun ini, sekitar 1.500 orang dipersiapkan untuk terlibat dan hadir. Peserta olahraga tradisional datang dari berbagai daerah di Kalimantan Timur, seperti Kutai Timur, Kutai Barat, Samarinda, dan Balikpapan.

Pentas seni juga melibatkan kelompok kesenian dari Desa Lekaq Kidau, Kecamatan Sebulu, serta Desa Budaya Lung Anai, Kecamatan Loa Kulu. Selain tarian, ada empat olahraga tradisional yang dipertandingkan, yakni sumpit, gasing, ketapel, dan lembing.

Martinus menyebut keterlibatan pihak swasta turut membantu keberlangsungan kegiatan tersebut. Salah satunya melalui dukungan Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

Perusahaan tersebut memberikan bantuan peralatan musik tradisional, pakaian tari, serta fasilitas di Lamin Adat. Bantuan yang diterima di antaranya gong, sampek, dan kipas angin.

"Bantuan yang diberikan PHM kepada kami ini sudah sangat luar biasa, sehingga kegiatan pentas seni yang ada di Sungai Bawang bisa dilaksanakan," ujarnya.

Tidak hanya memberikan bantuan fasilitas, PHM juga menghadirkan pengunjung dari luar daerah untuk menyaksikan langsung kegiatan budaya di Sungai Bawang. Bahkan, sejumlah pengunjung berkesempatan menginap bersama masyarakat selama festival berlangsung.

Martinus berharap dukungan tersebut terus berlanjut. Dengan anggaran desa yang terbatas, bantuan pihak ketiga masih dibutuhkan untuk menghidupkan kegiatan kesenian.

“Jadi, kami berharap perhatian dan dukungan ini terus berlanjut agar masyarakat kami semakin maju dan sejahtera,” harapnya.

Tidak Hanya Festival, Sungai Bawang Disiapkan Menjadi Desa Wisata

Dukungan terhadap pelestarian budaya juga menjadi bagian dari program Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) PHM.

Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto menyampaikan, keterlibatan perusahaan tidak hanya terbatas pada Festival Mecaq Undat. PHM memiliki komitmen mendukung pelestarian budaya Dayak dan Kutai di Kalimantan Timur.

"PHM itu berkomitmen untuk mendukung pelestarian suku budaya yang ada di Kalimantan Timur, yaitu suku budaya dalam hal ini Dayak dan Kutai," katanya.

Di Desa Budaya Sungai Bawang, program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi budaya. Salah satunya dengan mendorong produksi kerajinan dan berbagai produk kesenian khas Dayak.

Menurut Achmad, program yang berjalan sejak 2018 itu dilakukan secara bertahap. Awalnya berfokus pada pengembangan aset, kemudian peningkatan kompetensi masyarakat, pengembangan kerajinan, hingga kemampuan mengelola pariwisata.

"Jadi, tidak hanya melibatkan, tapi juga mengembangkan," ucapnya.

Memasuki 2026, PHM mulai mendorong masyarakat agar mampu mengelola potensi wisata desa secara lebih mandiri. Potensi yang ditawarkan tidak hanya berupa festival tahunan, tetapi juga pengalaman tinggal bersama masyarakat Dayak Kenyah melalui fasilitas homestay.

Dalam pelaksanaan festival tahun ini, PHM berkolaborasi dengan pihak ketiga untuk menyelenggarakan pendampingan open trip. Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan tersebut.

Melalui kegiatan itu, pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan seni, tetapi juga berkesempatan mengenal budaya dan merasakan kehidupan masyarakat di desa.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, Heriansyah, menilai kebudayaan merupakan kekuatan yang dapat dikembangkan menjadi sektor pariwisata.

"Bagaimana dari sisi hulu kita memperkuat kebudayaan, kemudian di sisi hilirnya dapat berkembang menjadi sektor pariwisata," ujarnya.

Ia berharap kegiatan seperti Mecaq Undat tidak hanya dikenal di tingkat kecamatan dan provinsi, tetapi juga mampu menjangkau tingkat nasional hingga internasional.

Pengembangan tersebut sejalan dengan program Dedikasi Kukar Idaman Terbaik yang mendorong penguatan kebudayaan sebagai bagian dari transformasi ekonomi. Potensi budaya diharapkan menjadi sumber ekonomi baru yang berkelanjutan, di luar sektor ekstraktif.

Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat, lembaga adat, dan perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.

“Pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Diperlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan melalui kolaborasi dan sinergi. Keseimbangan ini sangat penting,” imbuhnya.

Pada akhirnya, keberlangsungan budaya Dayak di Sungai Bawang tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan festival yang digelar setiap tahun. Ada anak-anak yang datang lebih awal untuk berlatih, penari muda yang ingin meneruskan tradisi, serta para pelatih yang tetap mengajar meski dengan honorarium terbatas.

Di Lamin Adat Pemung Madung, gerakan-gerakan itu terus diajarkan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar cerita tentang kehidupan leluhur tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi tetap hidup melalui tarian.

[SUP]



Berita Lainnya