Nasional
Erupsi Anak Krakatau Tutup 4 Bandara, Ahli Kebencanaan Beberkan Efek Fatal Abu Vulkanik pada Mesin Jet
Kaltimtoday.co - Penutupan empat bandara utama di Indonesia Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Budiarto Curug—akibat erupsi Gunung Anak Krakatau bukan sekadar antisipasi administratif biasa. Di balik keputusan otoritas penerbangan AirNav dan BMKG, terdapat risiko fatal dari partikel abu vulkanik yang sanggup merusak komponen kritis pesawat hingga mematikan mesin jet di tengah penerbangan (engine flameout).
Catatan BMKG menunjukkan material erupsi Gunung Anak Krakatau membubung dari ketinggian 20.000 kaki hingga menembus 50.000 kaki. Sebaran abu melintas di atas ruang udara DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Selat Sunda, Bengkulu, hingga Samudra Hindia.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa partikel abu vulkanik secara fundamental berbeda dengan awan mendung biasa yang hanya tersusun dari butiran air atau kristal es.
“Abu vulkanis tidak terdiri dari tetesan air atau kristal es. Ini adalah fragmentasi batuan tajam mikroskopis, silika (SiO2), dan kristal mineral yang bersifat sangat abrasif. Menembusnya sama dengan menghujani pesawat dengan pecahan kaca dengan kecepatan tinggi,” terang Daryono dalam keterangan resminya, Senin (7/9/2026).
Ancaman terbesar terjadi di ruang bakar mesin turbofan. Saat mesin beroperasi, suhunya sanggup mencapai 1.400 hingga 2.000 derajat celsius, jauh melampaui titik leleh partikel silika yang berkisar di angka 1.100 derajat celsius.
"Ketika terisap masuk, partikel silika itu langsung meleleh mendadak, mengalir, lalu membeku kembali menjadi kerak kaca (silicate glass coating) saat melewati bagian turbin yang lebih dingin. Kerak kaca ini menyumbat nosel dan merusak aerodinamika, yang berujung pada berhentinya pembakaran internal secara total (flameout),” papar Daryono.
Selain merusak dapur pacu, partikel silika yang bersifat abrasif dan korosif dapat menimbulkan rentetan dampak teknis lain:
- Menggores dan membuat kaca kokpit buram sehingga pilot kehilangan visibilitas langsung.
- Menyumbat sensor pitot tube, yang mengakibatkan instrumen pembaca kecepatan udara di kokpit menjadi galat atau malafungsi.
- Menghasilkan muatan listrik statis tinggi di badan pesawat (St. Elmo's Fire).
Risiko mematikan ini berakar dari pengalaman bersejarah erupsi Gunung Galunggung pada 1982. Kala itu, pesawat Boeing 747 British Airways rute Kuala Lumpur–Perth meluncur bebas tanpa daya di udara selama 16 menit setelah keempat mesinnya mati mendadak usai melintasi awan abu vulkanik di Tasikmalaya. Tiga pekan berselang, Boeing 747 milik Singapore Airlines mengalami insiden serupa pada dua mesinnya di lokasi yang sama.
Kedua insiden legendaris tersebut berhasil mendarat darurat di Jakarta dan secara permanen mengubah prosedur keselamatan penerbangan global. Hingga kini, industri dirgantara internasional berpegang teguh pada prinsip toleransi nol (zero tolerance): menghindari sama sekali jalur sebaran abu vulkanik demi menjamin keselamatan jutaan nyawa penumpang.
[RWT]
Related Posts
- Penjelasan PVMBG Soal Erupsi 6 Gunung di Indonesia yang Hampir Bersamaan: Dapur Magma Masing-Masing
- Karhutla Belum Ganggu Penerbangan Kaltim, Mobilitas Udara Tetap Berjalan
- Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan, Rute Singkawang hingga Pangkalan Bun Terdampak
- 3 Gunung Api di Indonesia Erupsi Berurutan, Badan Geologi Rilis Rekomendasi Bahaya
- Maroon 5 Konser di Jakarta 5 Februari 2027, Ini Harga Tiket dan Cara Belinya







