Nasional
Anak Krakatau Kerap Meletus, Ahli Vulkanologi Surono Sebut Gunung Sedang Tumbuh Tinggi dan Besar
Kaltimtoday.co - Rentetan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dalam beberapa hari terakhir dinilai sebagai fase geologis yang lazim. Mantan Kepala Badan Geologi yang juga ahli vulkanologi, Surono, yang akrab disapa Mbah Rono, menjelaskan bahwa erupsi berulang merupakan mekanisme alamiah bagi gunung api muda untuk membangun konstruksi tubuhnya agar bertambah tinggi dan besar.
Penumpukan material magmatik padat seperti batuan, pasir, dan abu di sekitar bibir kawah secara perlahan membentuk morfologi kerucut gunung dari waktu ke waktu.
"Gunung api muda seperti Anak Krakatau memang harus sering meletus untuk membangun tubuhnya agar semakin tinggi dan besar. Dahulu pada 2007, Krakatau nyaris tidak berhenti meletus sepanjang tahun," ujar Surono dalam wawancara di program Beritasatu Siang di BTV, dikutip Senin (7/9/2026).
Surono menilai frekuensi letusan saat ini justru meminimalkan risiko erupsi paroksismal berskala katastropik. Selama pipa magma utama dan saluran keluarnya material tetap dalam kondisi terbuka (open system), akumulasi tekanan fluida dan gas magmatik dari perut bumi dapat dilepaskan secara bertahap.
"Selama sistemnya terbuka, tidak ada penumpukan energi berlebih. Letusan akan sering terjadi, tetapi material jatuh di sekitar puncak," terangnya.
Ia juga meredakan kekhawatiran publik mengenai potensi tsunami seperti bencana pada akhir Desember 2018 silam. Surono menegaskan tsunami masa lalu dipicu oleh fenomena kolaps atau longsoran bawah laut dari tubuh gunung (flank collapse), bukan semata-mata karena letusan magmatik itu sendiri.
"Letusan sekarang tidak sampai ke daratan Jawa maupun Sumatra. Radius bahaya masih sekitar 5 kilometer dari titik letusan," tambah Surono.
Mengenai suara dentuman dan gemuruh berat yang terdengar hingga ke kawasan daratan yang jauh, Surono memaparkan bahwa propagasi atau rambatan gelombang suara di udara sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, lapisan inversi suhu, dan arah angin. Kondisi tersebut memungkinkan dentuman terbiaskan sehingga terdengar lebih lantang di area berjarak puluhan kilometer ketimbang di sekitar titik kawah, sebagaimana pernah terjadi saat periode 2020.
Kendati fenomena ini tergolong proses pertumbuhan alamiah, pemantauan ketat secara instrumental tetap mutlak dilakukan. Nelayan serta masyarakat pesisir di Selat Sunda diimbau untuk mematuhi radius steril yang ditetapkan otoritas kebencanaan dan tidak terpancing kepanikan berlebih.
[RWT]
Related Posts
- Soal Hukum Perusahaan Pembakar Hutan, Singapura Harap Kerja Sama dari Indonesia
- Rudy Mas’ud Siapkan Rumah Oksigen untuk Kelompok Rentan, Kutai Barat hingga Kukar Jadi Prioritas Penanganan Karhutla
- Kerusuhan Buntut Protes Biaya Hidup Meluas, Emmanuel Macron Buka Opsi Larang Demonstrasi di Prancis
- Berau Expo 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan 177 Stan dan Layanan Publik
- DPMD Kukar Usulkan Internet Gratis untuk 3.212 RT Lewat Program RT-KU Terbaik







