Nasional
Bukan Indra Keenam, Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Hewan Lebih Cepat Merespons Bencana Alam
Kaltimtoday.co - Fenomena perubahan perilaku satwa kembali ramai diperbincangkan warganet menyusul rentetan erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/2026). Spekulasi publik mencuat setelah beredarnya video kemunculan kawanan hiu di perairan dangkal pesisir Lampung yang dikaitkan sebagai firasat alami menjelang bencana.
Catatan sejarah mengenai perilaku tak lazim hewan sebelum bencana telah terekam sejak 373 SM saat satwa melarikan diri menjelang gempa Kota Helice, Yunani, hingga fenomena gajah mengungsi ke bukit saat Tsunami Aceh 2004. Namun, kajian geofisika dan biologi modern menegaskan bahwa reaksi tersebut murni berakar pada keunggulan sensorik biologis, bukan kemampuan supranatural.
Dosen dan peneliti Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, Dr. drh. Heru Setijanto, memaparkan bahwa satwa memiliki ambang kepekaan yang jauh melampaui manusia terhadap anomali fisik bumi.
“Beberapa hewan diyakini dapat mendengar suara dan merasakan getaran yang terkait dengan pergeseran lapisan di dalam bumi. Hewan juga dinilai memiliki kemampuan mendeteksi perubahan elektromagnetik alam semesta yang lebih baik daripada manusia,” jelas Heru.
Secara ilmiah, terdapat sejumlah mekanisme biologis yang menjelaskan respons cepat satwa terhadap ancaman alam:
1. Deteksi Gelombang Seismik Primer
Hewan mampu merasakan getaran halus dari gelombang P (primary wave) yang merambat lebih cepat melalui batuan, sebelum disusul oleh gelombang S (secondary wave) berdaya rusak yang baru disadari manusia.
2. Pendengaran Frekuensi Infrasonik
Mamalia seperti gajah, anjing, hingga burung mampu menangkap suara berfrekuensi sangat rendah di bawah 20 Hz, rentang frekuensi yang lazim dipicu oleh retakan lempeng tektonik maupun pergerakan magma.
3. Kepekaan Tekanan Barometrik dan Hidrostatik
Burung dan serangga merespons penurunan tekanan udara menjelang badai ekstrem, sementara hiu memiliki sistem reseptor khusus yang sangat sensitif terhadap fluktuasi mendadak pada tekanan air dan suhu akibat letusan gunung api bawah laut.
4. Resonansi Elektromagnetik dan Kimiawi
Pelepasan ion listrik ke air tanah dan udara akibat tekanan batuan kerak bumi kerap memicu ketidaknyamanan fisiologis pada amfibi dan reptil, mendorong mereka keluar dari sarang secara serentak.
Kemunculan satwa liar di kawasan pesisir maupun perubahan pola gerak fauna sebelum erupsi Anak Krakatau merupakan respons adaptif terhadap dinamika lingkungan fisik. Perilaku tersebut mencerminkan naluri pertahanan hidup satwa saat mendeteksi anomali alam, bukan kemampuan meramal bencana secara mandiri.
[RWT]
Related Posts
- Erupsi Anak Krakatau Tutup 4 Bandara, Ahli Kebencanaan Beberkan Efek Fatal Abu Vulkanik pada Mesin Jet
- Penjelasan PVMBG Soal Erupsi 6 Gunung di Indonesia yang Hampir Bersamaan: Dapur Magma Masing-Masing
- Update Gempa M 7,7 Nagekeo NTT: 127 Korban Meninggal Dunia, 97 Ribu Rumah Warga Rusak
- Rekomendasi 8 Aplikasi Pemantau Gempa Terkini dan Peringatan Tsunami di HP
- 3 Gunung Api di Indonesia Erupsi Berurutan, Badan Geologi Rilis Rekomendasi Bahaya







