Nasional

Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau, Penutupan 4 Bandara Diperpanjang hingga Sore Ini

Kaltim Today
07 September 2026 09:31
Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau, Penutupan 4 Bandara Diperpanjang hingga Sore Ini
Bandara Soekarno-Hatta ditutup hingga sore hari ini imbas akibat abu vulkanik gunung Anak Krakatau.

JAKARTA, Kaltimtoday.co - Penutupan operasional penerbangan di empat bandara akibat paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau resmi diperpanjang. Langkah penutupan sementara ini diberlakukan hingga Senin (7/9/2026) pukul 18.00 WIB.

PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) mengonfirmasi perpanjangan masa penutupan penerbangan tersebut menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

"Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, beberapa bandara PT Angkasa Pura Indonesia mengalami penghentian operasional penerbangan sampai dengan 7 September 2026 pukul 18.00 WIB," tulis PT Angkasa Pura Indonesia melalui akun Instagram resminya, Senin (7/9/2026).

Penghentian operasional penerbangan berlaku di empat bandara utama, yakni Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Bandara Radin Inten II Lampung (TKG), dan Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO).

Pengelola bandara mengimbau para calon penumpang untuk terus memantau pembaruan status penerbangan secara berkala melalui maskapai terkait atau menghubungi contact center InJourney Airports.

Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) pukul 20.23 WIB.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), visual letusan Gunung Anak Krakatau tidak teramati secara langsung. Namun, erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 58 mm dan durasi 44 detik.

Sebaran abu vulkanik akibat erupsi dilaporkan telah meluas hingga menjangkau kawasan Jakarta pada Senin (7/9/2026) pagi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi adanya dua klaster sebaran debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau berdasarkan data pemantauan hingga pukul 06.00 WIB.

"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 7 September 2026 pukul 06.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau," demikian keterangan resmi BMKG.

[TOS]



Berita Lainnya