Pendidikan

Lewat Satire Prodo Imitatio, Teater Yupa Unmul Sabet Juara Monolog PEKSIMINAS XVIII

Kaltim Today
17 September 2026 09:58
Lewat Satire Prodo Imitatio, Teater Yupa Unmul Sabet Juara Monolog PEKSIMINAS XVIII
Kontingen Teater Lupa berhasil meraih juara dengan membawakan monolog Prodo Imitatio dalam PEKSIMINAS XVIII di Jember, September 2026.

JEMBER, Kaltimtoday.co - Teater Yupa Universitas Mulawarman (Unmul) menyabet Juara I Tangkai Lomba Monolog dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XVIII Tahun 2026.

Prestasi tersebut diraih oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unmul, Feby Febriana Hidayat atau yang akrab disapa Bovy, pada ajang yang berlangsung di Universitas Jember, Jawa Timur, 8–10 September 2026.

Bovy membawakan naskah Prodo Imitatio karya Arthur S. Nalan yang mengusung isu jual beli gelar akademik sebagai satire mengenai pergeseran makna pendidikan.

Pementasan tersebut menggambarkan kritik sosial terhadap legitimasi gelar yang diperlakukan sebagai komoditas melalui pendekatan absurd, ironi, dan karakter ganjil di negeri fiktif Manaboa.

Persiapan pementasan memakan waktu sekitar dua bulan melalui latihan intensif harian yang mencakup pendalaman karakter, pengembangan konsep, hingga pematangan unsur teknis.

Bovy mengungkapkan bahwa keberhasilannya meraih juara pertama merupakan buah dari perjuangan dan dukungan seluruh tim produksi yang mendampinginya sepanjang proses pementasan.

"Berdirinya saya di sini bukan semata-mata atas nama pribadi. Ada orang-orang yang ikut berjuang, menemani, dan menjadi bagian dari setiap proses hingga akhirnya saya bisa sampai di titik ini," ujar Bovy.

Pimpinan produksi pementasan, Febriana Dirot, menjelaskan bahwa persiapan pementasan dilakukan secara menyeluruh mencakup manajemen produksi, artistik, dan teknis.

"Proses ini membutuhkan komitmen, kerja sama, dan kesiapan dari seluruh tim untuk memberikan hasil yang terbaik," kata Febriana Dirot.

Produksi naskah ini melibatkan kolaborasi lintas fakultas, termasuk penataan panggung oleh Muhammad Subhan Askori dan Rafly Aprilyan, serta penataan musik oleh Novia Risky Amelia dan tim.

Penataan rias dan kostum ditangani oleh Meisya Rahma Kalisa, dengan penataan cahaya oleh Febriana Dirot dan Mohammad Nurul Djihram, di bawah koordinasi Ketua UKM Teater Yupa Unmul Jumriani.

Pelatih sekaligus dramaturg Teater Yupa, Sigit Prhabu, menyampaikan bahwa pemilihan naskah Prodo Imitatio bertujuan menyajikan teater sebagai alat pembacaan kenyataan secara lebih jernih.

Sigit menilai pementasan ini menggarisbawahi persoalan pergeseran nilai ketika gelar akademik dianggap lebih penting daripada pengetahuan itu sendiri.

"Ketika gelar memiliki nilai lebih tinggi daripada pengetahuan dan legitimasi dapat dibeli, pendidikan tidak hanya mengalami penyimpangan, tetapi mengalami pergeseran makna," tutur Sigit.

Ia menambahkan bahwa humor dalam pertunjukan ini dirancang untuk membuka kesadaran penonton mengenai fenomena sosial yang diangkat.

"Tawa bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju kesadaran," jelas Sigit.

Menurut Sigit, latar negeri fiktif Manaboa berfungsi sebagai cermin bagi penonton untuk merefleksikan realitas di sekitarnya tanpa merasa ditunjuk secara langsung.

"Manaboa menjadi cermin yang tidak menunjuk langsung kepada siapa pun, tetapi memungkinkan siapa pun merasa sedang melihat dirinya sendiri," kata Sigit.

Di sisi lain, Bovy mengakui bahwa proses menuju kompetisi nasional memberikan tekanan fisik dan mental yang menuntut ketahanan tinggi seluruh anggota tim.

"Ada lelah, tekanan, keraguan, bahkan momen ketika rasanya ingin berhenti. Namun dari proses itulah saya belajar bahwa untuk berdiri di sini bukan hanya kemampuan yang dibutuhkan, tetapi juga ketahanan untuk tetap bertahan," ungkap Bovy.

Atas raihan tersebut, Rektor Unmul Prof Abdunnur, menyampaikan apresiasi dan selamat kepada tim kontingen, pendamping, serta mahasiswa yang terlibat.

Pencapaian ini sekaligus mempertegas konsistensi UKM Teater Yupa Unmul dalam menggunakan panggung seni sebagai media kreativitas serta pendorong daya kritis mahasiswa terhadap isu sosial.

[TOS]



Berita Lainnya