Samarinda

Kebakaran Hutan di Unmul Picu Penurunan Kualitas Udara

Kaltim Today
28 Agustus 2026 07:01
Kebakaran Hutan di Unmul Picu Penurunan Kualitas Udara
Indikator yang menunjukkan penurunan kualitas udara usai kebakaran yang terjadi di dekat Fisip Unmul, Samarinda.

SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Kebakaran hutan yang terjadi di Universitas Mulawarnam pada Kamis (27/8/2026) siang rupanya memicu penurunan kualitas udara di sekitar kampus. Kondisi ini setidaknya terekam melalui alat pemantau kualitas udara secara real time.

Juli Nurdiana dari Prodi Teknik Lingkungan Unmul mengatakan, di sekitar kampus memang dipasang alat pendeteksi kualitas udara. Alat itu dapat memonitor kualitas udara untuk PM 2,5 dan PM 10, suhu, kelembapan udara (humidity), karbon dioksida (CO2) hingga volatile organic compounds (VOC).

Ketika kebakaran terjadi di sekitar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol), indikator alat itu menununjukkan terjadinya lonjakan nilai senyawa organik volatik (VOC) dan karbon dioksida.

''Nilai VOC dan CO2 meningkat setelah kebakaran. Ini menunjukkan kesesuaian pola temporan yang sama, menguatkan dugaan adanya indikasi pengaruh kejadian kebakaran terhadap peningkatan konsentrasi polutan,'' kata Juli pada Kaltim Today, Kamis (27/8/2026) malam.

Tangkapan layar yang menunjukkan kebakaran lahan di sekitar Kampus Fisip Unmul. 

Dampak kebakaran terhadap penurunan kualitas udara setidaknya berlangsung beberapa jam setelahnya. Berdasarkan pengecekan terhadap alat pemantau tersebut, angka baru berangsur turun sekitar pukul 21.00 Wita.

''Penurunan tidak bisa kita tentukan jam atau harinya. Yang perlu kita cek adalah trend PM 2,5. Kita juga perlu lihat apakah sudah tidak terjadi kebakaran lagi, angin kuat atau tidak atau turunnnya hujan untuk membersihkan partikel di udara. Jadi ini (kualitas udara memburuk) bisa berlangsung beberapa jam setelahnya atau bisa jadi 1-2 hari,'' urainya.

Juli menegaskan, kendati api bisa saja dipadamkan, namun penurunan kualitas udara pasca kejadian bisa berlangsung lebih lama. Menurutnya, pemerintah dalam hal ini Pemkot Samarinda, perlu melakukan mitigasi. Baik terhadap potensi terjadinya kebakaran susulan atau memonitor kawasan yang menjadi sumber emisi. Menurutnya ini makin penting, terlebih saat ini Samarinda mengalami kekeringan berkepanjangan, yang diperburuk dengan dampak perubaan iklim.

''Pemkot bisa memasang alat monitoring sejenis yang menjadi sumber potensi emisi, termasuk di jalan-jalan utama dari emisi kendaraan. Pembakaran sampah juga bisa menjadi sumber emisi udara, sehingga harus dihilangkan juga,'' tandansya.



Berita Lainnya