Daerah

Puluhan Jurnalis Ikuti Pelatihan Training of Trainers BI, Perkuat Kapasitas hingga Belajar Etika Jurnalisme Ekonomi

Defrico Alfan Saputra — Kaltim Today 17 September 2026 19:28
Puluhan Jurnalis Ikuti Pelatihan Training of Trainers BI, Perkuat Kapasitas hingga Belajar Etika Jurnalisme Ekonomi
Sebanyak 21 Jurnalis Kaltim mengikuti pelatihan Training of Trainers yang digelar Bank Indonesia (BI) di Yogyakarta. (Defrico/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Yogyakarta - Sebanyak 21 jurnalis dari Kalimantan Timur memperdalam pemahaman mengenai isu ekonomi dan tantangan dunia pers di era digital melalui pelatihan Training of Trainers yang digelar Bank Indonesia (BI) di Yogyakarta, Kamis (17/9/2026). 

Tak sekadar membahas perkembangan ekonomi dan inflasi, pelatihan tersebut juga membekali jurnalis dengan pemahaman etika jurnalisme ekonomi, komunikasi kebijakan, hingga perubahan pola konsumsi informasi masyarakat di tengah maraknya news influencer.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto mengatakan bahwa media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi ke publik, khususnya soal perkembangan ekonomi di Kaltim.

"Komunikasi yang baik harus terjalin dengan insan pers, supaya masyarakat bisa mengetahui bagaimana perkembangan arah ekonomi sekarang," ucapnya.

Melalui data yang dipaparkan, pertumbuhan ekonomi Kaltim triwulan II 2026 mencapai 3,35 persen. Pertumbuhan mayoritas ditopang oleh lapangan usaha pertambangan. Meskipun ada sektor penopang lainnya seperti pengolahan, perdagangan, hingga konstruksi untuk mendongkrak pertumbuhan tersebut.

"Pertumbuhan itu perlu terus diperkuat melalui investasi produktif yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas, sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah," sebutnya.

Inflasi bulanan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Agustus 2026, melandai ke angka 0.10 persen. Angkat tersebut turun dari 0,18 persen pada Juli 2026. 

Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, sekolah dasar, kacang panjang, dan jagung manis. Sebaliknya, penahan inflasi berasal dari angkutan udara, bensin, tomat, bawang merah, serta bawang putih yang harganya turun.

Ada banyak strategi yang sudah dilakukan BI dalam pengendalian inflasi. Mulai dari Asesmen, Sosialisasi (Belanja Bijak), Perluasan Kerja Sama, Gerakan Pangan Murah hingga penguatan komoditas.

“Pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan melalui satu kebijakan saja. Karena itu, diperlukan sinergi dan langkah yang konsisten dari berbagai pihak untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga bagi masyarakat," ujarnya.

Disamping pemaparan soal perkembangan ekonomi, BI juga mengundang narasumber Wakil Pimpinan Redaksi Republika Online Stevy Maradona, berbagi ilmu dengan para jurnalis di Kaltim yang hadir.

Stevy bicara soal etika jurnalisme ekonomi, komunikasi kebijakan BI dengan media massa, hingga gempuran media sosial di era jurnalisme sekarang.

Menurutnya, jurnalis ekonomi punya tantangan yang agak berbeda karena berhadapan dengan angka, kebijakan, pasar, investasi, harga, inflasi, suku bunga, dan kepentingan bisnis.

"Prinsipnya tetap sama, harus independen, akurat, berimbang, dan menjaga kredibilitas," tuturnya.

Belum lagi fenomena soal news influencers yang saat ini sedang ramai di media sosial. Perbedaan dengan Jurnalis, mengacu pada peran, standar, dan mekanisme pertanggungjawabannya.

Reuters Institute mencatat pergeseran menuju personality-led news, ketika creator dan influencer semakin mengambil perhatian yang sebelumnya lebih banyak dimiliki institusi media. 

"Ini menjadi tantangan bagi media mainstream maupun jurnalis sekarang. Bagaimana caranya agar publik tetap menjaga kepercayaan terhadap jurnalis dalam menyampaikan informasi yang akurat berdasarkan fakta," paparnya.

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, Stevy menekankan pentingnya jurnalis mempertahankan nilai-nilai dasar jurnalistik. Kecepatan menyampaikan informasi harus tetap berjalan beriringan dengan proses verifikasi, akurasi, serta keberpihakan pada kepentingan publik.

"Insan pers harus meningkatkan kapasitas dan memperkuat kredibilitasnya. Terlebih dalam jurnalisme ekonomi, setiap informasi yang disampaikan tidak hanya memengaruhi pemahaman publik, tetapi juga dapat berkaitan dengan keputusan ekonomi masyarakat," tutupnya.

[RWT] 



Berita Lainnya