Kutim

Kebijakan Kaltim Steril Dinilai Keliru, Anggota DPRD dan Pengusaha Sebut Bikin Usaha Babak Belur

Kaltim Today
06 Februari 2021 19:42
Kebijakan Kaltim Steril Dinilai Keliru, Anggota DPRD dan Pengusaha Sebut Bikin Usaha Babak Belur
Salah satu pemilik cafe yang merasakan dampak Kaltim Steril. (Ist).

Kaltimtoday.co, Sangatta - Ketua Fraksi AKB di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim Asmawardi tak yakin lockdown akhir pekan atau Kaltim Steril dapat berjalan dengan baik.

Justru menurut Asmawardi, kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat Kutim di akhir pekan atau “Kaltim Steril” dinilai keliru. Seharusnya pemerintah mencari solusi terbaik dalam penanganan pandemi Covid-19 bukan menyebabkan persoalan baru.

Asmawardi mengaku khawatir kebijakan Kaltim steril bakal menimbulkan masalah baru. Pasalnya, ada sejumlah kelompok tertentu yang melakukan penghentian operasi yang tentu bisa berimbas fatal bagi usahanya.

"Menurut saya ini kebijakan yang keliru karna jika memang mau disterilkan semuanya, jangan hanya yang berhenti beroperasi pengusaha kecil contohnya pengangkut pasir tapi perusahaan besar masih bisa beroperasi,” tandasnya saat dihubungi Kaltimtoday.co, Sabtu (6/2/2021).

Selain dari anggota DPRD sejumlah pengusaha cafe pun menyebutkan, jikalau kebijakan ini membuat mereka megap-megap menghadapi pembatasan kegiatan akhir-akhir ini. Bahkan, tak sedikit sudah gulung tikar akibat merugi.

Salah satu pemilik cafe yang merasakan dampak Kaltim Steril. (Ist).
Salah satu pemilik cafe yang merasakan dampak Kaltim Steril. (Ist).

Padahal tak sedikit pekerja di tiap kedai. Pun sebagian sudah 'merampingkan' karyawanya demi bertahan. Walaupun terseok-seok.

“Ini PPKM saja belum selesai. Ada lagi kebijakan Kaltim Steril. Babak belur kemarin saja belum sembuh, ditambah lagi,” ungkap Rasyid salahsatu pemilik coffee shop.

Senada, Andis pemilik kedai kopi di Jalan Dayung. Menurutnya, pemerintah justru memperkeruh kondisi usaha mikro.

Alih-alih memberi stimulan bagi pelaku usaha mikro justru sebaliknya. Pemerintah dinilai salah alamat. Kebijakan lock down akhir pekan hanya berimbas ke pelaku usaha mikro. Yang notabene paling tinggi menyerap tenaga kerja di Kutim.

“Coba deh kebijakan yang diambil itu solutif. Kita dukung pemberantasan Covid-19. Tapi bukan dengan cara dimatikan usaha kita,” tandasnya.

[El | NON]



Berita Lainnya