Opini

Surat Terbuka untuk Andi Harun: Membangun Peradaban Lewat Perpustakaan

Kaltim Today
09 Januari 2026 17:14
Surat Terbuka untuk Andi Harun: Membangun Peradaban Lewat Perpustakaan
Penulis, Gina Sabrina.

Oleh: Gina Sabrina (Advokat Hak Asasi Manusia, Sekjen PBHI 2021-2025)

Dear Pak Andi Harun.

Semoga Bapak dalam keadaan sehat dan bahagia serta dilimpahkan berbagai kemudahan dalam memimpin kota Samarinda. Salam kenal Bapak, saya Gina Sabrina seorang advokat HAM, peneliti, dan juga ibu dari seorang anak. Setelah merantau lebih dari 8 tahun, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke Samarinda dan ingin berfokus ke dunia pendidikan anak usia dini. 

Bapak Andi Harun yang baik, di tengah moncernya karier saya di ibu kota, saya juga sempat ragu kembali ke Samarinda. Banyak sebab, tapi salah satu faktor dominan adalah soal kesenjangan fasilitas dan layanan publik. Dua fasilitas yang rutin saya coba adalah taman kota dan perpustakaan. Buat saya, fasilitas dan layanan publik yang baik adalah keharusan untuk menunjang kesejahteraan keluarga saya.

Saya masih ingat persis waktu Februari 2025 berkunjung ke Perpustakaan Kota Samarinda. Saya kaget luar biasa, ternyata Samarinda punya fasilitas publik yang luar biasa bagus. Mulai dari bangunan fisik yang inklusif untuk disabilitas, fasad yang keren, taman baca luar ruangan, layout perpustakaan yang bagus, ruang yang dingin, hingga toilet yang bersih. Paling penting buat saya waktu itu adalah ruang laktasi yang super bagus untuk level fasilitas publik tingkat kota dan ruang perpustakaan anak yang sangat bagus.

Singkat cerita, pada 27 November 2025 lalu saya sudah resmi pindah ke Samarinda. Perpustakaan Kota Samarinda jadi salah satu tujuan rutin saya karena jarak dan fasilitasnya mendukung saya dan anak beraktivitas. Namun, pada 6 Januari 2026, betapa kagetnya saya melihat unggahan @perpustakaankearsipan_smr yang mengumumkan perubahan jam operasional perpustakaan menjadi 08.00-16.00 untuk Senin-Kamis dan 08.00-15.00 untuk Jumat. Adapun hari Sabtu, layanan ditiadakan. 

Perubahan jam operasional ini bagi saya adalah perubahan yang ekstrem sebab layanan yang sebelumnya beroperasi hingga pukul 20.00 dipangkas hanya menjadi jam kerja. Bahkan hari Sabtu sebagai akhir pekan, di mana waktu pekerja kantoran beristirahat dan berkumpul bersama keluarga, sudah tidak bisa lagi mengunjungi Perpustakaan Kota Samarinda. 

Pak Andi Harun yang baik, penyediaan dan optimalisasi layanan perpustakaan adalah bagian dari hak asasi manusia. Pasal 13 International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights yang telah diratifikasi melalui UU Nomor 12 Tahun 2005 menjamin bahwa pendidikan adalah hak setiap orang. Tanpa perpustakaan yang accessible, pendidikan tidak akan lengkap. Ada para pekerja yang hanya bisa mengakses perpustakaan sepulang jam kerja atau di akhir pekan. Coffee shop memang banyak, tapi terlalu costly untuk pekerja kelas menengah jika diakses secara rutin.

Baru-baru ini Kementerian Ketenagakerjaan merilis hasil penghitungan Kebutuhan Hidup Layak (KHL); hasilnya Kalimantan Timur menjadi daerah tertinggi kedua biaya KHL senasional dengan angka Rp5.735.353 per bulan. Sedangkan Upah Minimum Provinsi sendiri baru menyentuh angka Rp3.762.431. Artinya, UMP hanya mampu memenuhi 65,60% dari total kebutuhan hidup layak seorang pekerja. Jika jam operasional perpustakaan berubah, maka pengeluaran harus bertambah karena harus pergi ke tempat lain untuk tujuan rekreasi. 

Sebagai bagian dari hak ekonomi, sosial, dan budaya, fasilitas publik menjadi hak asasi manusia yang sifatnya positif. Artinya, Pemerintah Kota punya kewajiban untuk memenuhinya dengan segala sumber daya dan kewenangan. Saya yakin dengan optimalisasi layanan perpustakaan pasti juga akan berkontribusi dengan skor PISA. Indonesia saat ini sedang dalam proses aksesi OECD. 

Di luar itu, kesejahteraan pustakawan juga harus menjadi prioritas pemerintah. Tanpa kesejahteraan pustakawan, sulit untuk mendapatkan layanan perpustakaan yang optimal. Saya berharap para pegawai di sana mendapatkan upah yang layak agar layanan ramah dan inovasi terus ada. Terakhir saya berkunjung, ada potty ladder di toilet, yang artinya pegawai sudah inklusif memikirkan kebutuhan anak yang sedang toilet training.

Pak, jangan pernah ragu untuk berinvestasi kepada pengetahuan. Mungkin hasilnya memang tidak instan dan tidak kasat mata. Bahkan tidak bisa terlihat dan diklaim untuk pesta elektoral di 2029 nanti, tapi percayalah saat Bapak sedang merevitalisasi perpustakaan, artinya Bapak sedang membangun peradaban. Dan semua orang akan mengingat Bapak untuk itu. (*)


*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co



Berita Lainnya