Opini

Keteladanan Nabi Ibrahim

Oleh: M. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag.

Pengukuhan nabi Ibrahim sebagai teladan dinyatakan di dalam al-Quran dengan tiga bentuk ungkapan bahasa; pertama dinyatakan dengan ungkapan uswatun hasanah sebagaimana yang tertuang di Q.S. al-Mumtahanah [60] ayat 4: “Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “sesungguhnya kami berlepas diri dari pada kamu dan dari pada apa yang kamu sembah selain Allah …”; dan juga terdapat di ayat 6: “sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; yaitu bagi orang-orang yang mengharap pahala Allah dan keselamatan pada hari kiamat…”.

Kedua dinyatakan bahwa nabi Ibrahim dijadikan sebagai imam yang tertuang di Q.S. al-Baqarahn [2] ayat 124: “ dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ”Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam (panutan) bagi seluruh manusia…”.

Baca juga:  Rasisme dalam Kemajuan Globalisasi: Bercermin dari Kematian George Floyd dan Anti-Asia di Tengah Pandemi

Ketiga terdapat di Q.S. al-Nahl [16] ayat 120 yang menyebutkan bahwa Ibrahim adalah ummah: “sesungguhnya Ibrahim adalah ummah (seorang imam yang dapat dijadikan teladan) patuh kepada Allah dan (hatinya) cenderung kepada kebaikan. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)”.

Meskipun semua ajaran nabi dan rasul bertemu pada titik yang sama, yaitu ajaran tauhid tetapi secara khusus nabi Ibrahim memiliki keterkaitan teologis dan spiritual yang luar biasa dengan ajaran Islam yang diwahyukan oleh Allah kepada nabi Muhammad. Sebagai bapaknya agama tauhid, nabi Ibrahim merupakan nabi yang paling populer di dalam praktek keberagamaan umat Islam karena hanya nama Ibrahim yang disandingkan dengan nama Muhammad di dalam bacaan shalawat yang dibaca rutin setiap minimal 9 kali dalam shalat fardhu. Salah satu doa iftitah di dalam shalat juga merupakan statemen integritas ketauhidan nabi Ibrahim: “sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan” (Q.S. al-An`am [6] :79), di samping itu dapat dikatakan bahwa nabi Ibrahim telah meletakkan prinsip dasar pelaksanaan proses ibadah yang dilaksanakan umat Islam pada bulan Dzulhijjah.

Dengan fakta sejarah semacam ini, maka tidaklah berlebihan kalau akhirnya nabi Ibrahim secara khusus dikukuhkan sebagai panutan umat Islam dengan menggunakan berbagai ungkapan bahasa, dan masing-masing ungkapan bahasa tersebut memberi penekanan terhadap  karakter yang berbeda dalam diri Ibrahim yang harus dipresiasi oleh umat Islam untuk diaplikasikan di dalam kehidupannya.

Terkait dengan penggunaan kata uswatun hasanah untuk menyatakan keteladanan Ibrahim, Imam Al-Mawardi (450 H) mengatakan bahwa, secara bahasa ungkapan ini mempunyai dua pengertian yang saling menguatkan; Pertama, uswah hasanah merupakan tradisi dan kebiasaan yang baik (sunnah hasanah) yang telah ditanamkan oleh Ibrahim kepada anggota keluarga dan pengikutnya. Kedua, uswatun hasanah juga mempunyai muatan makna ibrah hasanah; yaitu pembelajaran yang ideal. Artinya bahwa kehidupan Ibrahim dan orang-orang yang membersamainya harus menjadi model pembelajaran karakter bagi umat Islam dalam menjalani aktifitas keberagamaannya menghadapi terpaan ideologi-idelogi yang menyesatkan.

Satu karakter teladan yang berusaha dimunculkan dari rangkaian ayat yang menggunakan ungkapan uswatun hasanah ini adalah kekuatan aqidah dengan landasan prinsip tauhid yang benar  dan tidak kenal komproni terhadap praktek-praktek keberagamaan yang sinkretis, padahal Ibrahim dan orang-orang yang membersamainya  berada di bawah tekanan hegemoni kekuasaan yang semena-mena memaksanakan kehendak politisnya.

Pengukuhan nabi Ibrahim sebagai teladan juga diungkapkan dengan kata imâm (innî jâ`iluka linnâsi imâman), yang selama ini kata imam selalu dipersepsikan dengan sebuah jabatan struktural, bahkan oleh sebagian orang awam imam hanya identik dengan imam shalat jamaah. Kata imam sebenarnya menunjukkan kepada suatu kedudukan terhormat di mana seseorang layak untuk dijadikan panutan dalam segala hal dan tidak terkait dengan jabatan struktural tertentu. Oleh karena itu, Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat tersebut [2:124] dalam tafsirnya: bahwa Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai panutan bagi manusia untuk diteladani prilakunya dan diikuti semua tradisi baiknya.

Oleh karena itu, ungkapan doa waj`alnâ li al-muttaqîna imâman harus dipahami secara makro sebagai permohonan kepada Allah agar kita dijadikan sebagai panutan dan teladan bagi orang-orang yang bertaqwa, dan bukan dipahami secara sempit sebagai pemimpin saja, karena banyak pesohor dan pemimpin negeri ini yang tidak layak dijadikan panutan.

Pengukuhan posisi Ibrahim sebagai panutan manusia merupakan reward sekaligus menjadi amanah ilahiyyah setelah Ibrahim memiliki komitmen menunaikan kewajiban yang diberikan oleh Allah dengan sempurna. Maka integritas, konsistensi dan komitmen merupakan poin penting dalam menentukan posisi struktural tertentu bagi seseorang. Oleh karena itu, ketika Nabi Ibrahim bermohon kepada Allah untuk memberikan posisi terhormat ini bagi keturunannya, Allah menegaskan bahwa orang-orang yang berbuat dhalim (menggunakan bahasa al-Quran), yaitu orang-orang yang tidak memiliki integritas dan tidak memiliki komitmen dalam beragama tidak layak untuk dijadikan panutan dalam hidup.

Ungkapan ketiga menyebutkan bahwa Ibrahim adalah ummah. Secara tekstual ummah sering diartikan dengan umat; sekelompok manusia. Tetapi di dalam ayat ini beberapa ahli tafsir menjelaskan bahwa salah satu cakupan makna ummah adalah imâm, yang kalau merujuk kepada pembacaan yang komprehensif terhadap struktur teks, maka statemen tersebut mempunyai makna bahwa Ibrahim adalah panutan yang layak dijadikan teladan dan diikuti jejaknya karena memiliki kepribadian yang sempurna.

Berkenaan dengan keummahan dalam konteks rangkaian dua ayat di surat al-Nahl tersebut, al-Quran menyebutkan empat karakter utama yang menjadi faktor penting dipilihnya nabi Ibrahim sebagai teladan. Pertama, Ibrahim adalah pribadi yang sangat patuh dan taat menjalankan perintah Allah (qânitan lillâhi). Kedua, Ibrahim mampu mengendalikan hatinya untuk cenderung kepada kebaikan universal (hanîfan). Ketiga, Ibrahim memiliki integritas teologis yang diwujudkan dalam bentuk kemurnian tauhid, terbebas dari pengaruh-pengaruh ajaran yang singkretis dan bernuansa menyekutukan Allah (lam yaku min al-musyrikîn). Keempat, Ibrahim senantiasa mengembangkan sikap bersyukur kepada Dzat yang Maha Memberi atas segala kebaikan yang telah dianugerahkan kepadanya (syâkiran li an`umih).

Baca juga:  Urgensi Netralitas ASN dalam Kontestasi Pilkada Serentak 2020

Mencermati rangkaian ayat-ayat al-Quran tentang keteladanan Ibrahim, sebenarnya karakter-karakter utama Ibrahim ditumbuhkembangkan oleh kekuatan aqidah dan kemurnian tauhid. Dan apabila kita mengembangkan wawasan sejarah kenabian secara makro maka dapat dipastikan bahwa kekuatan tauhid semacam inilah yang menggerakkan nabi Musa melawan kesewenang-wenangan Fir`aun, kekuatan tauhid ini pula yang menggerakkan hati para Ashhâb al-Kahfi untuk menjadi pemuda-pemuda yang tidak mudah menukar keyakinan dan integritas keberagamaannya di bawah tekanan-tekanan kekuasaan dan kepentingan politis, dan kekuatan tauhid ini pula yang menggerakkan nabi Muhammad untuk membangun sebuah komunitas utama (ummatan wasathan) yang loyalitas dan integritas keberagamaanya tidak pernah tersandera oleh kepentingan-kepentingan kekuasaan dan materi.

Dalam konteks keindonesiaan sikap tegas Ibrahim, Musa dan Ashhâb al-Kahfi tersebut sebenarnya sudah diapresiasi oleh para pendiri negara ini dengan sikap tegas menolak segala bentuk penjajahan dan bertekad menjadi bangsa yang mandiri dengan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang dilandaskan kepada nilai-nilai tauhid dengan ungkapan bahasa ketuhanan yang maha esa. Dan dalam konteks kekinian dan kedisinian gambaran integritas teologis Ibrahim harus diwujudkan oleh umat Islam dalam bentuk sikap bangga menunjukkan identitas keislamannya dengan menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Umar bin Khathab pernah menggugah sikap keberagamaan umat Islam dengan ungkapan: “kami adalah komunitas yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam, kalau kita menghinakan Islam dengan mengabaikan nilai-nilai ajarannya dan mencari identitas lain di luar Islam, maka Allah pasti akan menghinakan kita”.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close