Opini

Praktik Rasisme Barat dalam Memengaruhi Pola Pikir Masyarakat Indonesia

Oleh: Yasril Faza Aftoni (Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Islam Indonesia)

Pemikiran barat kini telah diserap oleh pemikiran orang-orang Timur khususnya di Indonesia. Banyak dari pemikiran tersebut yang diserap salah satunya adalah tentang rasisme. Membahas rasisme masyarakat sering mengaitkannya dengan bagian fisik seseorang seperti yang sering kita dengar adalah orang kulit hitam (negro). 

Dalam kasus rasisme ini orang kulit hitam selalu merasa tersudutkan dalam kehidupan bermasyarakat dan pada akhirnya banyak dari mereka yang merasa terasingkan dengan keadaan. Rasisme ini dapat muncul tidak hanya dari perbedaan warna kulit saja tapi juga dari perbedaan kebudayaan yang membawa pada adanya diskriminasi dan superioritas budaya tertentu. Seseorang juga dapat menjadi rasis karena ada pengaruh baik secara karakter sejak lahir, kebiasaan dalam masyarkat dan sistem politik, maupun ekonomi dan budaya suatu negara. Namun demikian, dalam isu rasisme yang terjadi dapat dikatakan bahwa negara mempunyai pengaruh yang besar dalam menangani isu rasisme.

Baca juga:  Rasisme Menggerus Nilai Sportivitas dalam Dunia Olahraga

Praktik perbudakan di dunia barat pada pertengahan abad ke-15 antara benua Eropa dan Afrika menyebabkan lahirnya stigma-stigma yang buruk terhadap orang berkulit hitam. Pada masa itu orang Portugis (orang berkulit putih) mengambil masyarakat Afrika untuk dijadikan budak di luar wilayah tersebut, dimana hal tersebut kemudian menjadi bukti bahwa, bagaimana awal proses terjadinya perbudakaan jutaan rakyat Afrika di Eropa dan Amerika. Kemudian hal tersebut berlanjut hingga menjadikan sebuah konstruksi sosial bahwa orang berkulit putih lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan orang berkulit hitam. 

Gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat

Melihat dengan kondisi seperti sekarang, rasisme sudah menjadi sebuah hal yang biasa. Salah satunya yaitu yang sedang menjadi pembicaraan banyak orang adalah kasus pembunuhan George Floyd yang membangkitkan adanya krisis unjuk rasa yang terjadi di beberapa kota di Amerika Serikat. Unjuk rasa dilakukan karena adanya perlakuan yang tidak pantas terhadap George Floyd yang menjadi korban kekerasan oleh polisi hingga kemudian munculah gerakan Black Lives Matter. 

Dengan kronologis dimana George Floyd yang ingin membeli rokok dengan uang palsu sehingga penjaga toko menelepon polisi atas tindakan tersebut. Namun demikian, setelah George Floyd tertangkap terjadi pergolakan sebelum Floyd akan dimasukkan ke dalam mobil patroli. Menurut saksi di sekitar tempat kejadian, George Floyd berteriak minta tolong karena lehernya diinjak oleh polisi dan terlihat sedang sesak nafas hingga beberapa saat kemudian ambulans datang. Namun, dalam perjalanan, sayang nyawanya tidak terselamatkan. 

Dalam peristiwa tersebut dimana George Floyd yang merupakan orang berkulit hitam menjadi korban atas ketidakadilan kesetaraan ras karena disiksa oleh polisi yang merupakan orang berkulit putih. Melihat keadaan yang sedang terjadi pada saat itu seharusnya polisi tidak main hakim sendiri dan menindaklanjuti dengan proses hukum atau menyerahkan kepada pihak yang berwenang.

Baca juga:  Korean Wave dan Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Korea Selatan 

Rasisme Terhadap Papua di Indonesia

Berkaca dari peristiwa yang sedang terjadi di Amerika Serikat, aksi unjuk rasa juga terjadi di berbagai kota di Indonesia. Aksi tersebut bertujuan untuk memprotes adanya tindakan diskriminasi dan rasisme yang diterima mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur. Tindakan tersebut mendorong para aliansi mahasiswa untuk berunjuk rasa di depan kantor DPRD setempat dan mengakibatkan kerusakan dimana-mana. 

Dengan kronologis pada hari kemerdekaan Indonesia yang ke-74 mahasiswa Papua yang bertempat tinggal di asrama Kamasan III Surabaya, Jawa Timur dituduh tidak ingin mengibarkan bendera Merah Putih dan bendera di depan asrama, di pinggir-pinggir jalan juga dipatahkan oleh mereka tapi fakta tersebut tidak memiliki bukti yang kuat. Mendengar hal tersebut kemudian aparat langsung bertindak dan mengepung asrama tersebut. Dengan adanya hal tersebut kemudian memunculkan adanya protes tindakan rasisme tapi sangat disayangkan orang-orang Papua yang melakukan protes tersebut ditangkap, disiksa, bahkan ada yang dibunuh dan hal tersebut merupakan sebuah tindakan yang sudah melanggar hak asasi manusia. 

Peristiwa tersebut kemudian dijadikan sebagai hari rasisme di Indonesia. Kemudian, kejadian tersebut berlanjut hingga saat ini beberapa mahasiswa, dimana 7 diantaranya terkena pasal makar dengan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Salah satunya yaitu Ferry Kombo yang divonis 10 tahun penjara hingga pada akhirnya dikurangi menjadi 10 bulan. Dan peristiwa tersebut kemudian memunculkan Gerakan Papua Lives Matter dimana gerakan tersebut juga terinspirasi oleh Gerakan Black Lives Matter yang berada di Amerika Serikat. 

Tindakan Preventif Dibutuhkan

Melihat peristiwa-peristiwa tersebut kemudian dapat menjadikan sebuah pengaruh terhadap pola pikir masyarakat. Di Indonesia sendiri isu rasisme masih banyak terjadi, baik masalah ras, suku, maupun agama. Hal tersebut terjadi karena adanya sebuah superioritas budaya dimana merasa paling baik dan benar di mata semua orang. Adanya perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi sebuah alasan bagi masyarakat Indonesia untuk terus mendiskriminasi suku atau ras tertentu. Dalam hal ini juga edukasi tentang rasisme sangat diperlukan supaya sedikit demi sedikit dapat menghilangkan stigma yang menyebar luas di masyarakat. Pengendalian akan sosial media yang beredar juga merupakan sebuah permasalahan yang harus dihadapi mengingat zaman sekarang teknologi sudah semakin canggih dan berkembang.

Baca juga:  Rasisme dalam Kemajuan Globalisasi: Bercermin dari Kematian George Floyd dan Anti-Asia di Tengah Pandemi

Menyebarnya kasus rasisme tersebut menjadikan sebuah refleksi bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah yang diambil terdapat suatu permasalahan bagi masyarakatnya. Konstruksi sosial juga menjadikan sebuah serangan balik bagi isu rasisme. Dengan cara menghormati satu sama lain, bertukar pola pikir, bertoleransi merupakan sebuah solusi agar masyarakat dapat menerima adanya perbedaan. Selain itu, negara sebagai pemegang kekuasaan penuh seharusnya menjadi teladan bagi masyarakatnya. 

Terkadang bukan masyarakat yang melakukan tindakan tersebut tetapi bisa saja negara yang menjadi pelopor akan tindakan tersebut. Rasisme memberikan sebuah gambaran bahwa orang berkulit putih dan orang berkulit hitam merupakan sebuah satu kesatuan yang sama. Dengan melihat sejarah juga dapat memberikan pandangan bahwa dari mana sebenarnya akal permasalahan tersebut muncul dan mengupayakan juga adanya tindakan preventif sebelum hal tersebut dapat terjadi kembali.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker