Daerah

Sektor Pariwisata Berau Dinilai Belum Mampu Jadi Penggerak Utama Ekonomi Daerah

Network — Kaltim Today 09 Februari 2026 16:39
Sektor Pariwisata Berau Dinilai Belum Mampu Jadi Penggerak Utama Ekonomi Daerah
Wisata Batu Bawan di Kampung Merasa, Kelay. (Miko/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Berau - Sektor pariwisata selama ini diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Berau, sekaligus mengurangi ketergantungan daerah terhadap sektor pertambangan yang masih menjadi penopang utama pendapatan daerah.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan kontribusi pariwisata terhadap ekonomi daerah dinilai belum optimal. Meski jumlah wisatawan yang berkunjung ke Berau terus meningkat, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah belum sesuai harapan. 

Melihat fakta ini, Ketua Komisi III DPRD Berau, Liliansyah menyebut, kondisi ini telah menjadi catatan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) untuk ditindaklanjuti sebagai bentuk rekomendasi.

Menurutnya, salah satu faktor penting yang perlu dibenahi adalah infrastruktur penunjang pariwisata. Jika dikelola maksimal, sektor ini dinilai berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Ketergantungan dengan bantuan pusat sudah mulai berkurang, jadi kita dipaksa sudah harus mandiri, dengan rekomendasi BPK saya akui itu menjadi langkah yang harus diseriusi,” jelasnya.

Kata Lili, sepanjang itu menjadi prioritas menggerakkan perekonomian, maka pihaknya tak ada pilihan lain, selain memberi perhatian terhadap porsi anggaran yang dibutuhkan, guna mewujudkan pembangunan lebih masif di sektor tersebut.

Sebagai sektor yang diunggulkan, tentu tidak wajar, apabila realisasi pendapatan masih sangat rendah. Meski tidak bisa membeberkan data secara pasti, Pariwisata disinyalir, menempati posisi kedua dengan realisasi penyumbang anggaran setelah industri pertambangan.

“Ada sejumlah alasan yang katanya menyebabkan pendapatan dari sektor ini masih belum maksimal, seperti pungutan retribusi yang belum terkelola secara baik dan kendala lain sebagainya,” tambahnya.

Bahkan Lili menyinggung mengenai kemudahan bantuan modal dan perizinan untuk pengelola Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dikatakannya juga dapat menjadi dasar untuk menggerakkan kemandirian ekonomi kreatif.

“Jadi kesejahteraan insan-insan UMKM itu bisa lebih terjamin, tentunya dengan pengaturan harga yang ditawarkan jangan terlalu mencekik konsumen begitu pula sebaliknya, itu perlu diatur,” tandasnya.

[MGN | RWT] 



Berita Lainnya