Opini

Seni Modern Vs Spiritualitas Religius

Oleh: Mohammad Makmun Qomar

Keangkuhan kebudayaan modern yang mendewakan humanisme, rasionalitas, kepastian, universalitas, sain dan teknologi, perluasan dan ekspansi perdagangan telah membombardir tata hukum dan ketidakpastian nilai. Bahkan Nietzsche menjelaskan proses nihilisme presentasi kematian Tuhan dan dievaluasi nilai tertinggi (Amir, 2003: 83). Keangguhan modern dijawab oleh puisi Amang Rahman yang dikutip Djuli Djati prambudi “Dalam hidup ini/ada satu yang pasti/mati.” Masih perlukah keangkuhan?

Kebohongan Seni Modern

Menurut Yasraf Amir Piliang, konsep modernisme pada umumnya selalu dikaitkan dengan fenomena dan kebudayaan, khususnya estetika atau gaya. Konsep modern dikaitkan dengan sepenggal sejarah. Konsep modernitas digunakan menjelaskan totalitas kehidupan.

Baca juga:  PPKM dalam Perspektif Islam

Dunia  modern berawal dari periode sejarah Renaisans di mana saat itu telah mulai berkembang sains dan teknologi seperti terlihat pada lukisan “The School of Athens” atau Scuola di Atene, Italia, karya seniman Renaissance Italia Raphael. Leonardo da Vinci dengan lukisan anatomi tubuh. Berdasarkan filsafat Renaisans, kemuliaan manusia sendiri terletak dalam kebebasannya untuk menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam.

Nilai-nilai humanisme sebagai tantangan terhadap kepercayaan keagaamaan. Deskrates berpendapat, “melalui wawasan humanisme, menjadikan manusia dengan segala kemampuan rasionalnya – menjadikan aku (subyek) yang sentral dalam pemecahan masalah dunia” (Amir, 2003: 76). Menjadi subyek sentral pemecahan masalah dunia bukti kepongkahan manusia dalam kehidupan ini.

Wawasan humanisme Certesian bersifat mekanistis -dalam pengertian rasionalitas dijadikan ukuran tunggal kebenaran, dan mesin dijadikan paadigma -dalam mewujudkan impian-impian utopis manusia modern akan kekuasaan (Amir, 2003: 76). Manusia dapat menjadi ukuran tunggal kebenaran tentu sangat bertentangan dengan kebenaran dari timur. Kebenaran barat sangat rasional, sesuatu yang tidak rasional berarti tidak benar. Sesuatu yang tidak ilmiah tentu tidak benar, dan sangat paradoks dengan yang terjadi di timur. Banyak hal yang tidak rasional dapat diakui sebagai kebenaran.

Menurut Nietzsche tuhan di barat sudah mati tetapi di timur tuhan menjadi yang nomor satu. Semua masalah ditransendenkan kepada tuhan. Barat mengagungkan mesin sebagai sesuatu yang berkuasa untuk mengekalkan mimpi-mimpi mereka.

Dalam kutipan panjang Yasraf Amir Piliang mengadopsi pemikiran Hegel yang menyatakan bahwa, manusia modern untuk hidup di dunia baru, dengan spirit baru. Hegel lebih jelas menyatakan “Zaman kita adalah sebuah zaman kelahiran dan periode menuju satu era baru. Spirit telah terputus dari dunia yang sebelumnya dihuni dan dimarjinalisasikannya, dari pikiran yang telah menengelamkannya di masa lalu, dan ia dalam proses transformasi ( Amir, 2003: 77).

Sebagai zaman baru, Hegel menegaskan bahwa manusia modern tidak terikat kontrak dengan zaman lalu, bebas menentukan nilainya sendiri. Manusia modern tidak terkotak pada zaman lalu tetapi manusia telah lepas dari cangkangnya dan harus membuat gaya dan hukum tersendiri dalam kehidupan ini.

Baca juga:  Akhiri Derita Ibu dengan Sistem yang Berkah

Sebagai zaman baru Hegel menegasikan bahwa tuhan telah berubah menjadi sains dan teknologi. Sains dan teknologi telah menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menyelesaikan masalah dunia. Sains dan teknologi sebagai spirit untuk menjadi hukum dan tata nilai sendiri. Sains dan teknologi menjadi suatu yang agung dan itulah tuhan. Sains dan tehnologi telah menghilangkan mitos, legenda, dan wahyu. Sains dan tehnologi telah menjadi berhala baru yang menjadi tuhan baru. Hidup ini tergantung dengan sains dan tehnologi. Tentu ada yang dilupakan Hegel, siapa yang menggerakkan otak manusia sehingga dapat melahirkan sains dan tehnologi. Siapa yang meniupkan roh dan menyabutnya dari jasad manusia. Mengapa manusia harus mati dan mengapa kematian itu tidak dapat diprediksi sebelumnya dengan kebenaran absolut.

Modern sejak Descartes sampai Hegel menyusun sendiri landasan nilai-nilai yang bersifat biner seperti benar/salah, baik/buru, rasional/irasional, sebagai subtitusi kekosongan nilai di dunia. Dan mengkaimnya sebagai kebenaran yang universal (Amir, 2003: 85). Humanisme yang tergantung pada rasional telah memperdaya manusia menjadi angkuh, pongah, yang telah mengirim bahwa kebenaran absolut, kebenaran mutlak telah mati dan rasional menjadi sumber kebenaran sejati. Manusia yang di dalamnya penuh dengan nafsu dapat menggerakan kemana keinginannya. Nafsu yang terbimbing akan melahirkan nilai-nilai yang baik, tetapi nafsu yang tidak terbimbing akan melahirkan kehancuran diri dan kehancuran kehidupan.

Provokasi nilai-nilai kebudayaan modern arus utama yang berpusat di Eropa Barat dan Amerika memang telah memporak-porandakan nilai-nilai sendi kehidupan. Menurut Bambang Sugiarto dalam kuliah tamu di Seni Budaya Pasca Unesa pada 16 Juni 2014 “Gereja-gereja di Eropa telah kosong ditinggal jamaahnya”. Dan di daratan Amerika banyak gereja yang telah dijual dan beralih fungsi menjadi masjid. Kehidupan keagamaan Eropa dan Amerika telah mati. Pemikiran Descartes sampai Hegel telah menjelma menjadi raksasa baru bagi kehidupan.

Provokasi Eropa Barat dan Amerika sebagai nilai-nilai baru, hukum-hukum baru tentang universalisme memang tidak tergoyahkan. Provokasi Eropa Barat dan Amerika melalui sains dan teknologi telah masuk ke sendi-sendi kehidupan manusia melalui TV, HP, Internet. Tidak terasa, sangat halus provokasi itu telah masuk ke alam bawah sadar manusia. Nilai kemanusia sangat mudah digalang melalui media massa. Banyak pemimpin dunia jatuh karena provokasi terus menurus melalui media masa.

Siapa tidak kenal Sadam Husain, penguasa Irak. Dengan propaganda Amerika, akhirnya dapat merayu beberapa negara untuk membombardir Irak dan menangkap Sadam Husain. Opini dunia digiring, Sadam Husain disebut pemimpin diktator, tidak punya prikemanusian, otoriter. Padahal, sesungguhnya Amerika ingin menguasai kilang minyak Irak yang menghasilkan berbarel-barel ton kubik dengan harga yang murah. Amerika menciptakan nilai kebenaran sendiri untuk menunjukkan nilai universalitas, padahal di balik itu, ada kebohongan besar. Demi minyak.

Subtansi nilai-nilai baru, hukum-hukum baru tidak dapat berdiri sendiri. Hukum baru terbentuk oleh hukum sebelumnya oleh manusia sebelumnya. Manusia modern terlahir sudah ada nilai-nilai dalam dirinya yang telah dididik oleh orangtua, guru, masyarakat ataupun media. Nilai-nilai itu sambung menyambung menjadi nilai-nilai yang sempurna dalam koridor wahyu. Wahyu inilah sesungguhnya yang mengatur hukum dan nilai. Rasionalisasi manusia terbatas kepada seberapa jauh kemampuan rasional tersebut menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Wahyu yang akan membimbing manusia menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Seni rupa modern menampakkan diri melalui avant-garde yang menandakan pemujaan kebebasan individu, kecurigaan pada standar-standar komunal yang dianggap sebagai penyebab kemapanan dan penghambat kemajuan (Supangkat, 2012: 357). Seniman lukis tidak mau didikte oleh mitos, wahyu, legenda atau nilai-nilai lama yang memberangus keliaran berkreasi.

Mereka tidak ingin terjebak pada kemandekan yang telah membuat seniman sebelumnya eksis sehingga seniman baru tidak dapat masuk dan menghambat perkembangan seni rupa itu sendiri. Seniman-seniman muda yang mempunyai kreatifitas yang berbeda dengan pendahulunya mendobrak sekat-sekat komunal. Kemerdekaan individu harus menjadi panglima tertinggi dalam membuat karya. Individu bertanggung jawab pada individu itu sendiri.

Baca juga:  Negara Agraris Impor Beras “Tipis-Tipis”

Pada arus utama sejarah perkembangan seni rupa, Vassily Kandinsky dalam Jim Supangkat (2012) mengatakan, “seni rupa tidak lagi melayani siapa-siapa”. Tersirat kata Vassily Kandinsky tersebut kebebasan individu menjadi sangat utama. Lukisan bukan untuk agama, raja, pesanan. Dan munculah “seni untuk seni” (Supangkat, 2012: 357). Individu terus bekembang dengan semangat eksplor diri tanpa batas. Pada 1970-an, kebebasan itu melahirkan “eksplorasi untuk eksplorasi”. Sehingga karya seni dibuat untuk tidak dimengerti. Georg Baselitz dalam Jim Supangkat (2012), fungsi sosial seniman adalah asosial, ia cuma berurusan dengan pikirannya pada karya yang dibuatnya yang dibuat sendiri.

Namun, peneliti Suzi Gablik pada jaringan galery dan museum tersirat bahwa seni rupa modern dikendalikan oleh kekuatan ekonomi globalisasi yang menjadi hulu jaringan bisnis multi-miliar dolar. Kekuatan pasarlah yang mengendalikan seni modern, bukan kekuatan individu. Di tangan promotor dan balai lelang, bisnis seni mengalami ledakan yang sangat mengejutkan. Nama-nama seniman menjadi sangat terkenal.

Seni modern berubah menjadi seni industri. Seni dihajar dengan “ideologi pasar”, yaitu ideologi yang berangkat dari logika perhitungan rugi laba secara moneter (Djati, 2009: 83). Penegasan Baudrillard dalam Djuli Djatipambudi (2009), sejarah kebudayaan modern digerakkan oleh kekuatan raksasa yaitu kapitalis menuju “kebudayaan industri”. Sehingga saran dari Adorno dalam Djuli Djatipambudi (2009), demi otonominya, seni harus semakin mengambil jarak terhadap politik masyarakat birokratis itu. Kalau tidak, seni modern akan kehilangan jati dirinya menjadi seni propaganda yang direkayasa oleh kapitalisme.

Sehingga kegagahan dari seni modern yang menomor satukan “seni untuk seni” atau “eksplorasi untuk eksplorasi” adalah omong kosong. Kebebasan individu semu yang ada dalam benak mereka. Dan kedok mereka adalah “seni untuk uang” bukan “seni untuk seni”. Inilah kebohongan besar seniman modern.

Spritualitas Religius dalam Karya

Dalam jasad manusia, ada yang namanya batin atau rohani. Kekuatan rohani akan berpengaruh terhadap karya yang dibuat. Secara tegas dinyatakan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam Mamannoor (2002) dalam kepentingan spritualitas religius, bahwa seni tidak dapat memainkan suatu fungsi spritual apabila tidak dihubungkan dengan bentuk dan kandungan wahyu Islam. Hal ini menegaskan bahwa, spritualitas religius akan membimbing seniman berkarya dalam ruang dan waktu yang hakiki.

Seni tidak bisa lahir tanpa landasan spritualitas religius. Karya seni yang tidak dilandasi spritualitas religius akan menjadi karya yang sangat hampa dan hanya bersifat duniawi belaka. Batin seniman harus diisi spritualitas religius sehingga dalam karyanya ada pertanggungjawaban total kepada manusia maupun kepada tuhan. Sebuah karya tidak bisa bebas nilai, tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Seni bukan untuk seni belaka. Seni mempunyai value yang akan berjalan dalam sejarah manusia.

Baca juga:  Pentingnya Penerapan Ekonomi Islam untuk Kesejahteraan Masyarakat

Batin seniman yang spritualitas religiusnya kuat akan mengisi sendi-sendi karya seninya. Kekuatan batin akan terpancar dalam karya, dan ini sebagai pertanggungjawab seni bukan urusan individu belaka. Seni lahir, ada masyarakat yang harus dihormati keberadaannya. Fungsi seni adalah sebagai sarana komunikasi kepada masyarakat. Kalau fungsi ini tidak berjalan, maka karya seni tersebut dipertanyakan kehadirannya. Seni punya ruang dan waktu, tidak bisa berjalan dengan kekuatan individual belaka.

Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam Mamannor (2002), benturan nilai seni rupa barat dan seni rupa timur atau Islam telah lama hancur karena spritualitas dan intelektualitas telah diabaikan. Seni barat berkembang dengan kekuatan rasional dan individul kering dengan kekuatan spritualitas. Mereka digiring oleh kekuatan duniawi dengan sekulernya. Mereka sibuk dengan benda material dan makna bahasa estetika dan bahasa artistik (Mamannor, 2002: 137). Maka entitas estetika: Art for Art Sake.

Seni rupa timur tidak kenal dengan namanya nihilisme presentasi kematian Tuhan dan dievaluasi nilai tertinggi. Tuhan adalah sesuatu yang abadi. Tidak bisa disandingkan dengan apapun. Keberadaan tuhan sangat tinggi, tidak dapat dievaluasi akan ketinggiannya. Seniman-seniman timur pasti mengakuinya walaupun secara induvidual banyak perbuatan mereka yang mengabaikan kehadiran tuhan.

Seniman sebelum berkarya minum-minuman keras, ke pelacuran, pakai narkoba, atau entah itu yang sesungguhnya juga sedang menihilkan tuhan. Tuhan ada, tetapi tidak penting dalam kehidupannya. Kekhawatirannya tuhan hanya ada dalam Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945 atau dalam KTP-nya karena sebagai warna negara Republik Indonesia.

Sangat sedikit sekali seniman, pada saat berkarya dan ketika waktunya sholat kemudian ditinggal sholat dulu. Mereka akan asik dengan dunianya. Dunia kreatif yang membuat mata iman hatinya mati. Belenggu karya telah menjelma menjadi tuhan. Tuhan adalah sesuatu yang sangat dicinta, disayang dan dirindu kehadirannya. Apabila itu terabaikan, maka karya itu telah menjadi tuhan karena karya itu yang dicinta, disayang dan didirindu kehadirannya. Padahal, seniman harus mempunyai kekuatan spritualitas.

Seni rupa timur tumbuh dengan kekuatan spritualitas. Menurut Budi Priyoni dalam Mamannoor (2002), timur lebih mementingkan intuisi dibandingkan dengan akal budi. Hatilah yang menyelaraskan intuisi dan akan budi. Perpaduan tersebut melahirkan keselarasan. Keselarasan atau harmoni menjadi kata kunci dari alam pikiran timur. Karya-karya yang ada berawal dari keselarasan bukan pertentangan. Karya-karya lahir dibelakangnya pasti ada keselarasan kekutan spritualitas. Candi Borobudur, ada agama Buddha di baliknya. Candi Prambanan, ada Hindu di baliknya. Begitu pula candi-candi lainnya. Makam Taj Mahal yang menyerupai masjid, makam almarhum Mumtaz Mahal, istri dari Shah Jehan. Karya-karya mereka abadi dan dicintai oleh apresiannya, dan tidak dikendalikan oleh kapitalis.

Seni rupa modern yang mengagungkan individual miskin akan ruh. Tidak punya kekuatan batin, dia hadir sebagai individu yang rapuh. Padahal Thomas Aquinas (1225-1274) mengungkapkan, pemahaman tentang jiwa semata-mata ruhani, tunggal, prinsip hidup dari seluruh manusia dan tidak pernah mati (Mamannoor, 2002: 141). Thomas mencoba bertolak dari tujuan jiwa kepada yang baik yang pada akhirnya mendorong manusia kepada keinginan yang indah, benar, dan keutamaan.

Seniman-seniman modern telah terkecoh oneh duniawi. Ketika batin tidak kuat maka mereka terpenjara dalam kehampaan dan kekosongan jiwa. Seniman lukis yang sangat hebat, seperti Vincent Van Gogh yang batinnya kosong, akhirnya mati bunuh diri, Eminem bunuh diri tetapi terselamatkan, Elton Jonh bunuh diri tetapi juga terselamatkan, dan lain-lain. Dunia sudah ada dalam gengamannya, tetapi batin kosong maka kebahagiaan hanya semu belaka.

Baca juga:  Kebebasan Berpendapat dan Bayang-Bayang Jerat UU ITE

Rasionalitas dalam spritualitas sering kali buntu. Rasionalitas membutuhkan bukti ilmiah sedangkan spritualitas kadang kala tidak dapat menghadirnya pemahaman secara ilmiah. Batin dan ruh tidak dapat diilmiahkan karena tidak nampak. Walaupun kehadirannya dapat dirasakan, banyak hal gaib yang harus diimani namun tidak dapat diilmiahkan dengan cara yang paling mudah. Tetapi keberadaan yang goib tersebut dapat hadir dalam jiwa. Kekhusyukan dalam doa dapat menghadirkan kedamaian karena seakan-akan tuhan hadir di depan kita. Santet tidak bisa dirasionalkan, tetapi telah banyak bukti orang terkena santet tersebut. Di Kalimantan, ada istilah bulu perindu maka bila seseorang kena bulu perindu, orang tersebut pasti akan jatuh cinta secara tiba-tiba. Tabib mengobati pakai doa dan sembuh, tidak bisa dirasionalkan. Tulang patah dibawa ke dukun, dengan sangat cepat tulang tersebut normal kembali. Ada tarian di Bali, perang rotan minta hujan, selesai acara hujan pun turun, dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak rasional di timur.

Keberadaan agama-agama di timur memberi sumbangsih besar terhadap kebudayaan. Kebudayan yang terlahir dari kesenian memberi warna kuat dalam berkesenian. Berkesenian bukan hanya berekspresi belaka tetapi sebagai bentuk menyuarakan agama dalam karyanya. Dalam Islam dengan karya lukis kaligrafi telah lahir ribuan karya yang memperkaya khasanah berkesenian. Di Bali dengan taksunya telah lahir banyak seniman ketika beraktifitas terasa ada yang mengerakkan jiwanya untuk berkarya. Dalam karya perupa Nasrani terdapat jiwa dan ruh cinta kasih (eros) kekristiannya. Begitu juga perupa Budhis akan memperlihatkan jiwa dan ruh (perusa) kebuddhisannya.

Spritualistas secara otonom dan langsung menunjukkan adanya eksistensi pribadi dan manisfestasi jiwa dan ruh dalam lingkaran spritualistas. Spritualistas mempunyai kedudukan penting dalam perkara jagat alit (Mikrokosmos) dan jagat ageng (Makrokosmos) yang memberikan dorongan pada sikap seniman, proses kreasi, dan makna nilainya (Manannoor, 2002: 154).

Baca juga:  Prinsip Kehati-hatian Harus Dikedepankan dalam Pelonggaran Kebijakan Pembelajaran Tatap Muka

Paradigma sosial dan kebudayaan yang kuat dan hegemoni akan mengubah caa hidup dan pandangan hidup (worldview) suatu masyarakat (Amir, 2000: 215). Kuatnya propaganda arus utama Eropa dan Amerika telah menodai sebagian nilai-nilai hidup ketimuran. Nilai spritualisme religius sebagian mulai redup. Anak-anak muda jarang memenuhi tempat ibadah. Individual cermin masyarakat kota dengan apartemennya. Konsumerisme dengan swalayan hadir di kota-kota kecil, tidak ada perjumpaan yang mempunyai toko dan tawar menawar antar pembeli dan pedagang. Teknologi informasi mengurangi nilai kebersamaan dan nilai silaturrahmi. Kebersamaan dan perjumpaan diganti dengan SMS. Gaya fashion, gaya makan cepat saji, boneka Barbie, kartun hero Amerika. Bukti arus utama dan kapitalis telah mendekte pasar.

Gambaran yang terjadi pada masyarakat di atas ternyata juga tidak beda jauh dengan yang dialami para seniman. Rendahnya nuasa spritualisme religius sehingga roh dan batinnya dalam karya terasa kehilangan makna. Kekuatan pasar telah menggiring jiwa dan ruh ke dalam bingkai kerakusan ekonomi. Sehingga, sesungguhnya antara barat dan timur sama-sama terjebak pada “kebutuhan perut” dan kehidupan glamour. Seniman telah menjadi selebritis hidup dalam istana-istana megah, dalam kurungan emas manajemen galery kapitalis. Seniman telah menggadaikan idealisme spritualisme religius pada kekuatan pasar. Pasarlah yang mendekte mereka untuk berkarya, bukan individual dan rasionalitas sebagai kekuatan seni modern barat.(*)

Daftar Pustaka

Amir, Yasraf Piliang. 2000. “Globalisasi Estetika dan Alternatif Gaya Hidup”, dalam Refleksi Seni Rupa Indonesia Dulu, Kini,dan Esok. Jakarta: Balai Pustaka.

Amir, Yasraf Piliang. 2003. Hipersemiotika Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jala Sutra.

Djatiprambudi, Djuli. 2009. Musnahnya Otonomi Seni. Malang: Bayu Media Publishing

Mamannoor. 2002. Wacana Kritik Seni Rupa Di Indonesia Sebuah Telaah Kritik Jurnalistik dan Pendekatan Kosmologis. Bandung: Nuansa

Supangkat, Jim. 2012. “Seni Rupa Kontemporer, Sebuah Resiko” dalam Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Essai. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker